• The Class of 2013

    (Ki-ka) Atas: May, Dania, Ulin, Arin, Rina ; Tengah: Rafiq, Bekti, Fikri, Bayu, Me ; Bawah: Hendra, Akbar

  • PH AB FPIK Undip 2013

    (Ki-ka) Atas: Hendra, Fikri, Akbar, Me, Rafiq ; Tengah: Bekti, Arin, May, Rina, Bayu ; Bawah: Dania, Ulin

  • Keluarga Besar DW Pak Ibnu

    (Ki-ka) Atas: Aufa, Apink, Harya, Yudha, Dimdut, Dimcil ; Tengah: Nadya, Mu'adz, Me, Pak Ibnu, Arin, Isna, Iif ; Bawah: Diana, Ine, Kamto, Nia, Susi

  • BEM FPIK Undip

    Cukup nama yang 'eksekutif', namun pengurusnya bukan orang "eksklusif" (karena BEM juga manusia biasa)

  • Kesejahteraan Mahasiswa (Kesma)

    Sejahtera mahasiswa itu ada 2, yaitu sejahtera dari biaya kuliah (tidak memberatkan) dan sejahtera dari nilai akademis (IPK bagus)

  • INSANI 2014

    Karena persaudaraan itu indah...

  • #SalamEKSIS

    INSANI Media Center (IMC) 2014............. (Ki-ka) Atas: Wildan, Me, Fauzan ; Tengah: Hana, April, Diana ; Bawah: Khikmah, Marlia ; Hidden: Reni, Elita, Hanum

  • SEMNAS FARMASea

    What Should Marine Scientist do for Industries?

  • #YukSenyum

    Karena Senyum adalah shodaqoh yang paling mudah

  • #MelanglangBuana

    at BPOL (Balai Penelitian dan Observasi Laut)

  • #MelanglangBuana

    at SEACORM BENCHMARK, Jembrana, Bali

  • Di Nusa Dua, Bali

    Sayang nggak bisa mampir ke acara APEC 2013 kemarin

Showing posts with label Opini dan Gagasan. Show all posts

Usulan Pembangunan Taman Hafidzah PPIT Alhikmah Boyolali


Sudah sejak lama menginginkan Pondok Pesantren Islam Terpadu (PPIT) Al Hikmah Karanggede Boyolali ini menjadi pondok yg sejuk dgn banyaknya taman2 di area pesantren.

TAMAN HAFIDZAH ini adalah salah satu usulannya. Dinamakan TAMAN HAFIDZAH agar sesuai dgn program tahfidz di Alhikmah utk mencetak hafidz-ah.

Krn dgn bnyknya taman akan membuat nuansa asri di pesantren. Tdk panas. Sehingga membuat santri, org tua, bahkan calon santri baru yg berkunjung utk mendaftar akan betah utk berlama2 di Alhikmah krn keasriannya.

Entah utk foto2 di area taman, atau sekedar duduk2 di rerumputan dekat kolam.





Punya mimpi, mengharapkan adanya TAMAN HAFIDZAH ini bs menjadi "wisata gratis" saat ortu menjenguk anaknya di pesantren. Krn melihat nuansa pesantren yg asri layaknya taman rekreasi.

Ini adalah mimpi dlm skala kecil. Msh ada mimpi dalam skala besar.

Semua dlm rangka meningkatkan pelayanan kpd santri, wali, dan semuanya.


Usulan ini sudah disampaikan ke pihak Yayasan sejak 2018 lalu.

Bismillah. Semoga terwujud... 🙏

Pengurus Lama & Pengurus Baru, Jangan Nge-'PHP'-in, Juga Bukan Untuk dimanjain


Regenerasi menjadi hal yang pasti ada dalam suatu organisasi. Regenerasi ini lebih mudah diartikan sebagai proses bergantinya pengurus lama ke pengurus baru. Biasanya, agar dalam kepengurusan baru punya jalan yang pasti “mau dibawa ke mana” organisasi yang bersangkutan, mantan pengurus lama kadang memberikan sesuatu yang disebut arahan kerja.

Arahan kerja ini biasanya berisi rekomendasi-rekomendasi yang setidaknya bisa dilakukan oleh pengurus baru. Namun, sudahkah arahan yang diberikan mantan pengurus dirasa menjadi sebuah “arahan” bagi pengurus baru?

Jawabannya tergantung tindaklanjutnya. Bisa jadi, arahan – arahan yang diberikan mantan pengurus dirasa bukan menjadi arahan bagi pengurus baru tatkala pengurus lama tidak memberikan “petunjuk” awal untuk mencapai arahan itu. Contoh misalkan tahun ini merekomendasikan agar bisa ini itu ini itu. Namun ketika tidak disertai dengan memberikan minimal “petunjuk” sebagai gambaran awal bagi pengurus baru, seolah rekomendasi seperti sebuah arahan –tanpa- arahan yang sifatnya nge-“PHP”-in (anak muda zaman sekarang pasti tahu apa itu "PHP").

Bayangkan saja, kalau hanya berupa rekomendasi namun tidak ada petunjuk (minimal), bagaimana pengurus baru paham akan apa yang seharusnya ia lakukan? Mending jika sebelumnya dia sudah memiliki pengalaman dibidang yang direkomendasikan. Tapi kalau tidak? Tentu rekomendasi itu seolah akan menjadi pemicu pusing kepala. Kalau orangnya penuh dedikasi, semangat juang dan komitmen mengemban amanah oke tak masalah. Namun jika pengurus baru masih “labil”? Tentu hal itu sangat rawan.

Tapi perlu diingat juga bagi pengurus baru. Pemberian petunjuk arahan kerja ini bukan terus membuat pengurus baru seolah “dimanjakan”. Karena petunjuk ini sifatnya seperti rambu-rambu. Jadi tak selamanya pengurus baru bisa berharap untuk terus “didorong” dengan pemberian petunjuk arahan ini. Bukan karena mantan pengurus acuh. Karena sejauh apapun mobil mogok didorong tanpa mesin dinyalakan, mobil itu juga tak akan pernah bisa berjalan sendiri.

Berarti pengurus baru juga harus bisa mandiri sejak awal. Pemberian petunjuk dari mantan pengurus lama idealnya adalah 2 pekan pertama saat masuk kepengurusan baru. Atau maksimalnya sebulan. Setelah itu, tugas dari mantan pengurus lama cukuplah memantau. Membantu pun, apabila ada situasi yang urgen. Tidak bisa selamanya. Jika selamanya, kapan pengurus baru bisa berkembang dan mandiri? Pengurus baru yang hebat adalah apabila diberikan satu petunjuk, ia mampu merepresentasikan satu petunjuk itu untuk menemukan petunjuk-petunjuk yang lain.

Begitulah hubungan pengurus lama dan pengurus baru dalam regenerasi. Penjabaran diatas tak lebih dari sebuah langkah agar kaderisasi di organisasi berjalan dengan baik.

Kesimpulannya, sesuai judul, pengurus lama jangan Nge-“PHP”-in, dan pengurus baru juga bukan untuk dimanjain. Antara kedua pihak, harus bisa saling memahami.

Selamat berorganisasi. Semoga memberi manfaat.

#JustMyOpinion

(AK22/@AjiiKurniawan)

Antara Valentine, Galentine, Pengantin, dan Palestine. Mana yang Akan Anda Pilih?


Ada apa sih dengan bulan Februari? Sepertinya ada yang beda dengan bulan ini. Bagi kita umat Islam secara keseluruhan (inget ya secara “keseluruhan”, bukan hanya diperuntukkan untuk anak rohis saja), tentu mengetahui & sudah seharusnya memahami asal usul akan momentum yang konon, merupakan hari kasih sayang. Ya, to do point saja, orang-orang yang  merayakannya menyebutnya sebagai Hari Valentine (Valentine’s Day) yang dirayakan tanggal 14 Februari.

Bagi kita yang sudah paham akan asal usul kenapa disebut Hari Valentine tentu sudah paham seluk beluknya, bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang melenceng dari aqidah kita sebagai ummat Islam. Tidak perlu panjang lebar lagi dijelaskan.

Buat yang belum tahu, sedikit penjelasan saja bahwa sebenarnya sejarah Hari Valentine berasal dari meninggalnya seorang martyr Kristen (Martyr dalam Islam disebut ‘Syuhada’) bernama St. Valentine pada 14 Februari 270 Masehi. Ia meninggal akibat dibunuh karena bertentangan dengan raja Romawi kala itu, Raja Claudius II (268 - 270 M).

Untuk mengagungkan St. Valentine yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dalam menghadapi cobaan hidup, maka para pengikutnya memperingati kematiannya dengan mengadakan upacara peringatan kematian St. Valentine (Hari Valentine) bernama “Lupercalia”.

Setiap upacara Lupercalia dimulai dengan mengorbankan beberapa ekor kambing dan seekor anjing yang dipimpin oleh para Luperci. Upacara tersebut dilakukan di dalam sebuah gua bernama Lupercal, berada di bukit Palatine, yang merupakan salah satu bukit di kota Roma.

Upacara Lupercalia ini terus berlangsung sampai pada masa pemerintahan Kaisar Constantin Agung (280 – 337 M). Kaisar Romawi ini adalah kaisar pertama pemeluk agama Nasrani. Pengaruh agama Nasrani semakin meluas di kerajaan Romawi dan Dewan gereja memegang peranan penting di bidang politik. Hari Valentine lalu dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang juga disebut “Supercalis”.

Pada tahun 494 M, Dewan Gereja di bawah pimpinan Paus Gelasius I merubah bentuk upacara Lupercalia menjadi perayaan purifikasi (pemurnian/pembersihan diri). Dan pada tahun 496 M, Paus Gelasius I mengubah tanggal perayaan purifikasi yang berasal dari upacara ritual lupercalia dari tanggal 15 Februari menjadi tanggal 14 Februari.

Sampai akhirnya pada abad ke-16, ‘upacara keagamaan’ tersebut berangsur-angsur hilang dan berubah menjadi ‘perayaan bukan keagamaan’ hingga seperti yang banyak orang kira saat ini. Yang identik dengan tukar kado, coklat, mencari jodoh, dan urusan kasih sayang lainnya.

Sedikit tambahan terkait persamaan kata Valentine. Pada abad pertengahan, dalam Bahasa Perancis Normandia, terdapat kata “Galentine” yang berarti “galant/cinta”. Persamaan bunyi Valentine dan Galentine menyebabkan orang berpikir bahwa para pemuda sebaiknya mencari pasangan hidupnya adalah pada tanggal 14 Februari. Hingga populerlah tanggal 14 Februari sebagai Hari Valentine (yang berasal dari perayaan kematian St. Valentine), yang mereka anggap sebagai Hari Kasih Sayang.

Itu tadi sejarah singkat mengenai Hari Valentine. Sekarang tentu sudah tahu. Kita sebagai umat Islam tidak boleh mengikuti dan menyerupai kebiasaan merayakan ‘Hari Valentine’ tanggal 14 Februari. Karena jelas itu bukan dari Islam. Dasarnya juga jelas, hadist yang sudah sangat popular sejagat raya :

Rasul saw bersabda : “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya.” (HR. Abu Daud no. 4031-Shahih)

Nah, tibalah bagian opini dari saya. Jika tadi sudah membahas sedikit sejarahnya, sekarang izinkan saya untuk berbagi opini terkait ‘Hari Valentine’ ini.

Tentu, kita semua merasakan, menjelang tanggal 14 Februari ada sesuatu yang ramai sekali dipublikasikan. Ya, banyak sekali desain poster / pamflet yang menyeru untuk tidak ikut merayakan ‘Hari Valentine’ bagi umat Islam yang dipublish di sosial media.

Yang sudah popular bagi kalangan anak rohis pasti adalah ajakan untuk menutup aurat dengan hastag #YukBerhijab, #YukTutupAurat, atau sebagai Hari Hijab Se-Dunia, dan sebagainya.

Bagus sekali hal ini. 2 jempol deh buat itu semua. Dan harapannya jangan hanya menjelang tanggal 14 Februari ya. Selama nafas ini berhembus dan selalu terhubung dengan, usahakan ajakan berhijab untuk tutup aurat itu terus ada. Karena berhijab bukan sekedar pilihan & mode, tapi sudah menjadi kewajiban bagi “tiap pemeluk Islam yang perempuan” (pahami baik-baik kalimat berkutip tadi, kalau saya menggunakan kata ‘muslimah’ biasanya condongnya selalu ke anak rohis. Inget ya diawal artikel ini, bukan untuk anak rohis saja).

Ingat yang wahai kita kaum hawa yang beriman semuanya (tidak sekedar pengurus rohis), anda adalah “perhiasan dunia”, sehingga layaknya sebuah perhiasan yang amat saaaaaannngaat berharga, tentu aurat anda harus ditutupi. Mau bukti perintah-Nya? Ini dalilnya :

"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat." (QS. Al-A'raf Ayat 26)

Masih kurang? Tambah lagi :

“Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumurnya (hijab) ke dadanya." (QS. An-Nur ayat 31)

Masih belum yakin? Satu lagi dari hadist :

“Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil balig) maka tidak ada yang layak terlihat kecuali ini,” sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan." (HR. Abu Daud dan Baihaqi)

Paham kan berhijab bukan sekedar pilihan? Tapi kewajiban? Oke lanjut ke jalur pembahasan (itu tadi sedikit selingan. Semoga 3 dalil tadi bisa meyakinkan bagi yang belum menutup aurat). #senyum

Lanjut. Selain ajakan untuk berhijab, kalau saya amati, beberapa desain poster ajakan untuk tidak merayakan ‘Hari Valentine’ ini juga ada yang menggunakan kata pengantin (dengan berbagai ‘ejaan’ yang dimirip-miripkan dengan Valentine) sebagai isi kontennya. Ada juga yang menyinggung menuju pernikahan dengan konten berpantun ‘akad bukan coklat’.

Hmmm…… (mulai berpikir sejenak), sekarang izinkan saya untuk berpendapat. Jika saya yang mendesain poster, 2 hal terakhir yang saya sebutkan tadi lebih baik tidak saya gunakan sebagai konten.

Memang secara sekilas tidak ada yang salah dengan pengantin & akad tadi. Tapi saya disini hanya ingin mengambil langkah aman. Karena jika menghubungkan dengan kedua hal tadi, ditakutkan para mad’u (objek/sasaran dakwah) awam, orang biasa, beranggapan bahwa menjelang tanggal 14 Februari mereka diajak untuk langsung saja menjadi pengantin atau menggelar akad daripada pacaran.

Sekali lagi memang tidak ada yang salah dengan mengajak untuk langsung melakukan akad saja jika sudah saling mencintai daripada pacaran. Namun tentu bukan karena ‘Hari Valentine’ saya disini menggembor-gemborkan untuk itu.

Kalau ajakan (pengantin dan akad) ini hanya dilakukan untuk menangkal ‘Hari Valentine’ setiap tanggal 14 Februari, lalu apa bedanya dengan Hari Kasih Sayang yang memang anggapan jahiliyahnya adalah mencari pasangan hidup? Kenapa harus dengan pengantin? Apakah karena katanya mirip dengan ‘Valentine’ (sehingga digunakan agar menjadi pantun yang indah karena memiliki sajak ab ab. Yang matkul bahasa Indonesia dapat A pasti paham)? Lalu apa bedanya dengan ‘Galentine’ yang dalam Bahasa Perancis Normandia tadi artinya cinta? Justru berdasarkan sejarah, karena persamaan bunyi ini kan orang mengindentikkan sebagai moment yang tepat untuk mencari cinta/jodoh?

Mungkin bagi yang sudah paham akan ‘Hari Valentine’ tidak masalah dengan konten tadi. Karena apapun yang terjadi sudah jelas tidak akan ikut-ikutan. Istilahnya sudah “kebal”.

Namun, bagaimana jika kalangan awam yang memandang ini? Sedangkan mereka belum “kebal”, belum cukup kuat ilmunya (tanpa mengurangi rasa hormat) untuk yakin bahwa ‘Hari Valentine’ bukan dari Islam? Karena kalau sudah saling cinta, ada kasih sayang, tentu dalam Islam baiknya memang langsung nikah saja bukan? Artinya telah menemukan pasangan hidup. Lalu apa bedanya dengan ‘Hari Valentine’ yang katanya moment tepat untuk mencari jodoh?

Ini alasan utama kenapa tidak akan menyertakan konten pengantin dan akad. Karena respon tiap orang itu beda-beda. Ok bagi yang ilmunya sudah banyak, tidak masalah. Namun bagi yang masih butuh ilmu & pencerahan, ajakan seperti ini meskipun niatnya adalah humor belaka, tentu beda responnya.

Bukan karena ‘Valentine’ kita memakai istilah pengantin. Karena istilah pengantin tidak ada hubungannya sama sekali dengan ‘Hari Valentine’. Kapanpun bagi yang sudah punya pilihan tepat untuk dijadikan jodoh, segeralah menggelar akad dan menjadi pengantin.

Intinya, bukan karena ‘Valentine’ terus ramai menggunakan istilah pengantin. Karena ditakutkan ada yang beranggapan memang benar tanggal 14 Februari kental dengan nuansa mencari jodoh. Ingat sifat syaitan yang cerdik mempermainkan manusia. Bisa jadi niat kita baik, cara yang kita lakukan pun juga tak salah. Namun hati-hati jika syaitan mempermainkan orang-orang yang kita ajak itu dengan mengarahkan anggapan mereka bahwa tanggal 14 Februari memang identik untuk mendapatkan jodoh (jadi pengantin-red). Buktinya, menjelang tanggal itu banyak yang mengajak lebih baik pengantin daripada ‘Valentine’ (sesuatu yang sepertinya indah didengar. Berpantun. Keren..!).

Itulah langkah antisipatif yang saya maksudkan. Bahasa kedokterannya “lebih baik mencegah daripada mengobati.” Dan ini adalah dalil yang mendasari kenapa saya menulis artikel ini :

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al-An’am ayat 112)

Ada pesan “perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu…”. Ya, jika membaca dari awal tentu paham maksudnya. Semua sudah dijelaskan diatas. Ingat syaitan itu cerdik. Mereka telah bersumpah untuk selalu menggoda manusia dengan berbagai cara. Bahkan yang dianggap baik pun mereka gunakan.

Ya, ini hanya pandangan pribadi. Semua hanya langkah antisipatif. Toh juga masih banyak konten lain yang bisa disertakan dalam menangkal ‘Hari Valentine’ ini. So, buat para desainer, jangan berhenti untuk terus mengajak teman yang sudah yakin akan jodohnya agar segera menjadi pengantin lewat karya visualnya. Siapa tahu mereka segera menikah karena melihat ajakan dari poster / pamflet yang kita buat. Sehingga pahala akan terus mengalir kepada pembuat poster (insya Allah). Dengan satu catatan, jangan hanya ramai menjelang tanggal 14 Februari.

Sebagai penutup, izinkan saya untuk memberikan istilah yang juga bernada pantun, namun menurut saya itu lebih mantap. Sebagaimana judul dari artikel ini dan foto ilustrasi yang saya gunakan (yang mungkin sekilas membuat pembaca bertanya-tanya), jika saya diminta membuat desain, saya akan menyertakan kalimat “Say No to Valentine..! Freedom for PALESTINE…!”. Itu lebih keren. Dan akan terus digalakkan hingga Palestina merdeka.

Sekian. Semoga bermanfaat.

Salam.

(AK22/@AjiiKurniawan)

Undip Bukan Eropa ; Gedung Baru (kok) Minim Penghijauan


Jika anda sering lewat jalan tembus Fakultas Peternakan & Pertanian (FPP) dengan Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan (FPIK), mungkin sering melihat gedung yang terpampang diatas dalam ilustrasi artikel ini. Foto tersebut merupakan pelataran salah satu gedung baru Fakultas Teknik yang selesai digarap awal tahun 2015 ini.

Apa yang bisa diamati dari pembangunan gedung tersebut? To do point aja deh ya, dari kacamata saya pribadi, ada satu hal pokok yang sangat menjadi perhatian, yakni porsi untuk penghijauan sekitar gedung yang amat sangat minim.

Amati saja, gedung yang diapit T.Kimia & T.Mesin itu kondisi pelataran hampir penuh dengan susunan paving block. Bagian untuk penanaman pohon atau penghijauan lainnya, amat sangat minim. Atau bahkan tidak ada sama sekali untuk “tempat penghijauan yang ideal”. Karena lahan kosong yang masih tersisa hanya dibagian pojok-pojok bangunan. Itu pun bukan tempat ideal karena akan jarang menjadi tempat lalu lalang mahasiswa.

Rancangan seperti apa dari pembangunan proyek gedung baru ini saya juga tidak tahu. Namun yang jelas, dalam pembangunan infrastruktur, selain membangun gedung, juga harus diimbangi dengan penyediaan lahan hijau yang memadai.

Sepengetahuan saya, yang hanya bisa menjadi pengamat tata ruang bangunan & wilayah -karena dulu pernah tidak tembus SNMPTN jurusan arsitek salah satu PTN di Jateng- (#upsss, ngebuka kartu As), idealnya dalam sebuah proyek bangunan harus menyediakan setidaknya 30 persen untuk lahan hijau. Selain menjadi tempat peneduh, hal tersebut juga berguna untuk menjaga ketersediaan O2 sehingga saat siang hari udara tetap sejuk dan suhu sekitar bangunan tidak terlalu panas.

Namun, jika melihat kondisi bangunan ini, rasanya masih sangat jauh dari harapan tadi. Coba amati dari segi tataan banguan. Bagian pelataran yang didominasi paving block menghadap ke arah timur, yang merupakan arah matahari terbit hingga puncak siang. Jika demikian, sinar matahari yang datang dari arah timur akan langsung dipantulkan oleh susunan paving block karena tidak ada penghalang (pohon).


Sinar matahari dari arah timur akan langsung terpantulkan ke arah bangunan yang berdinding kaca karena tidak adanya pepohonan di pelataran gedung


Pantulan sinar matahari yang langsung dari paving block jelas terasa panas. Karena tidak adanya pohon maupun peneduh disekitar area pelataran. Ditambah lagi, bagian bangunan yang menghadap ke arah pelataran paving block didominasi oleh dinding kaca tembus pandang. Kalau melihat kondisi yang demikian, sepertinya dari pagi hingga siang mahasiswa yang melakukan perkuliahan digedung tersebut harus menyediakan kipas angin. Terlebih musim kemarau.

Hal tersebut tidak berlaku jika bukan dinding kaca tembus pandang, melainkan dinding kaca panel surya yang berguna untuk mengubah energi panas matahari menjadi listrik. Sehingga jika demikian, gedung tersebut akan menjadi gedung pertama di Undip yang berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga surya (sedikit berpikir ala modern, namun terwujud atau tidak, entahlah -senyum).

Mungkin jika boleh beranggapan, kondisi bangunan yang demikian, terutama dari pelataran yang minim penghijauan, itu karena belum ada penanaman dari pihak terkait (tapi kalau iya dibagian mana akan ditanam pohon?). Anggapan kedua, adalah untuk lahan parkir. Anggapan ketiga, inilah yang sering saya ikuti dan membuat perut kenyang di pagi hari, yakni untuk tempat senam pagi bersama tiap Jum’at #hehe

Tapi untuk anggapan kedua dan ketiga tidak jadi alasan untuk tidak menanam pohon diarea pelataran. Karena Undip bukan Eropa. Yang meskipun bangunan disana minim pohon dan juga terus tersinari matahari,  udaranya tetap sejuk karena Benua Biru berada pada belahan bumi utara yang cenderung beriklim kutub. Sehingga agar tetap sejuk dan nyaman bagi mahasiswa, porsi lahan hijau di Undip memang harus banyak. (Tidak minimalis seperti di Eropa).

Saran untuk pihak terkait, bongkar beberapa susunan paving block yang berada ditengah-tengah dan pinggir pelataran untuk ditanami pohon. Pohon yang dipilih juga bukan sembarang pohon. Pilih pohon yang tipe percabangan batangnya menyebar menyamping seperti di Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik (FISIP). Untuk dinding kaca tidak perlu diganti dengan panel surya (karena cukup mahal) #hemm

Harapan semoga di pelataran gedung nantinya ada penghijauan

Yah begitulah….! Ini hanya sekedar opini. Entah mau diubah atau tidak nanti biarlah tugas arsitek atau pengelola dilapangan. Karena mahasiswa hanya bisa menjadi pengamat dari luar dan tugas sebenarnya adalah menuntut ilmu. Adapun saya menulis artikel semacam ini adalah sebagai bentuk kepedulian terhadap kampus Undip.

Sekian artikel ini saya buat. Semoga bermanfaat... #AkuCintaUndip

AK22/@AjiiKurniwan

Kepengurusan Baru, Hindari 'Bongkar Muat' Departemen


Bulan Desember hingga pergantian tahun biasanya menjadi awal moment bergantinya tampuk kepemimpinan suatu organisasi di lingkungan kampus. Dimana suatu kampus terdapat banyak sekali organisasi atau lembaga kemahasiswaan.

Bergantinya tampuk kepemimpinan yang ditandai dengan sebuah reorganisasi, suksesi, musyawarah besar (mubes), muktamar, atau apapun namanya guna memilih pemimpin baru, tentu akan diikuti dengan komposisi kepengurusan yang baru pula didalam struktur bidang/departemen kelembagaan.

Bicara tentang komposisi kepengurusan di bidang/departemen suatu lembaga, ada satu hal yang ingin saya sampaikan disini, yakni terkait penyusunan komposisi pengurus departemen selanjutnya, baik pengurus yang lama/sudah menjabat di organisasi sebelumnya, maupun calon pengurus yang baru yang dihasilkan dari sebuah open recruitment (oprec).

Dari 2 hal tadi, saya disini hanya ingin membicarakan seputar pengurus lama. Langsung to do point saja, ada satu “hal” yang sepertinya harus segera dihilangkan setiap kali dibentuk struktur kepengurusan baru (setidaknya jika “hal” tersebut masih ada di suatu lembaga. Jika sudah tidak ada, Alhamdulillah. Berarti lembaga tersebut kaderisasinya jalan).

Apa “hal” yang saya maksudkan disini? Sebenarnya, jika “hal” ini disebut sebagai budaya atau kebiasaan saya tidak tega karena tidak ingin men-just langsung & keseluruhan, karena saya juga tidak tahu menahu secara detail seperti apa kondisi lembaga yang ada di kampus-kampus. Dalam pembahasan ini, anggap saja ada lembaga “X” yang kita jadikan subject pembahasan kita disini.

Ada 1 hal yang tidak boleh sampai menjadi kebiasaan di lembaga “X” ini setiap kali dibentuk kepengurusan baru. Yakni kebiasaan mengganti hampir seluruh komposisi pengurus dalam suatu bidang/departemen tanpa menyisakan orang-orang yang sebelumnya pernah menjabat. Keadaan seperti ini saya menyebutnya dengan istilah “Departemen Bongkar Muat”.

Dalam arti lain, “jangan sampai kepengurusan baru dalam suatu bidang/departemen adalah orang-orang baru semua”. Kenapa demikian?

Jelas menurut saya kondisi ini sangat amat tidak ‘menyehatkan’ bagi suatu departemen dan organisasi itu sendiri. Bayangkan saja, jika tiap kali dibentuk kepengurusan baru, orang-orang yang ada disebuah bidang/departemen adalah orang-orang baru semua, kepada siapa mereka nanti memperoleh pengajaran, pembelajaran dan bimbingan tentang bagaimana harus menjalankan proker?

Kemana pula pengurus lama yang seharusnya memberikan ilmu yang didapat selama hampir setahun kepengurusan kepada adek-adek penerusnya nanti (kalau udah lebih dari 2 tahun menjabat atau diwisuda serta tetap menjalin komunikasi tidak masalah, tapi kalau sama sekali tidak mencakup kriteria tadi yang menjadi pertanyaan)? Apakah hanya diserahkan kepada kepala bidang/departemen baru yang dipilih untuk menanggungnya sendirian?

Jika kondisinya seperti ini, timbul pertanyaan juga ke mana hasil pembelajaran & kaderisasi yang dijalankan dalam suatu bidang/departemen selama setahun sebelumnya?

Malangnya lagi, kalau ada staf yang sudah dibina hampir setahun, pada saat memasuki tahun ke-2 kepengurusan, dia nya malah nggak lanjut. Istilah jawa nya "nelongso" banget pasti senior yang membina.

Itulah mengapa, alangkah baiknya kepengurusan baru dalam suatu bidang/departemen adalah bukan orang-orang baru semua. Tapi isilah dengan beberapa orang yang dulunya sudah pernah menjabat. Hal itu dimaksudkan supaya ilmu yang selama ini didapat oleh senior bisa tersampaikan secara kontinyu kepada adek-adek kepengurusan baru. Jangan tiap kali kepengurusan baru, semua harus dimulai dari awal. Kadept/Kabidnya yang baru bingung harus bagaimana, apalagi stafnya nanti.

Mungkin ada bidang/departemen yang pada awal kepengurusan baru isinya adalah orang-orang baru semua, dan proker yang dijalankan juga tidak mengecewakan. Sah-sah aja sih emang. Tapi ingat bahwa orang-orang yang masuk organisasi, tak jarang dari mereka juga ingin mendapatkan satu hal yang mungkin tidak sempat mereka utarakan, yakni pembelajaran. Baik berupa ilmu, pengalaman, dan sebagainya.

Jadi di organisasi tidak hanya sekedar berpikir proker terlaksana, sukses, habis itu sudah, selesai. Bukan. Tidak cukup sampai disitu. Tapi alangkah mulianya ketika masuk di organisasi, dijadikan sebagai ladang untuk mengamalkan ilmu yang diperoleh kepada adek-adek pengurus baru, memberikan ilmu yang bermanfaat kepada generasi penerus. (syukur-syukur menjadi generasi pendobrak nama lembaga karena berhasil mengamalkan ilmu yang senior sampaikan).

Soalnya kapan lagi kita bisa demikian? Bersyukurlah orang-orang yang ikut organsiasi. Disitu kita bisa menjalin interaksi membangun, komunikasi dengan sesama, memiliki punya peran sosial yang lebih dibandingan dengan yang tidak ikut organisasi. Disinilah miniatur kehidupan kita sebelum benar-benar terjun ke masyarakat. Maka dari itu manfaatkan kesempatan tersebut semua untuk menyalurkan & mengamalkan ilmu yang kita dapat. Minimal ada niat dan usaha untuk itu.

Oleh karena itu, sekali lagi jangan sampai ada kebiasaan “Departemen Bongkar Muat” dalam suatu lembaga. Karena akan sangat tidak sehat bagi suatu lembaga ke depannya, dan proses kaderisasi juga akan dipertanyakan.

Tapi jadikanlah suatu organisasi sebagai ladang untuk beramal mengamalkan ilmu kepada mereka yang membutuhkan. Bicara organisasi bukan sekedar membahas bagaimana mensukseskan program kerja, tapi juga bagaimana kita memberikan pembelajaran dan manfaat kepada sesama, minimal lewat ilmu yang kita peroleh. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Kesimpulannya, jangan gunakan kebiasaan bongkar muat departemen, tapi yang kita gunakan adalah “pengamalan ilmu” dari senior kepada junior dalam suatu departemen. Baik senior maupun junior, semoga bisa memahami akan hal ini.

Itulah yang saya sampaikan dalam tulisan kali ini. Semoga bermanfaat dan semua ini juga menjadi pembelajaran bagi saya dan yang lainnya. Sekiranya jika ada kalimat yang kurang berkenan dalam menyampaikan sudut pandang ini mohon dimaafkan.

Sekian, semoga kita bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama, dan dimudahkan dalam segala urusan. Aamiin….

#JustMyOpinion

Salam

[Photo by falkvingle.net]

(AK21/@AjiiKurniawan)

Bidang Media & Informasi, Bukan Pengalaman Organisasi Yang Dicari


Berbicara suatu lembaga atau organisasi kita semua pasti akan menemui departemen atau kementrian yang cakupan kerjanya berada diranah eksternal, alias sasaran kerjanya cenderung ditujukan kepada mereka-mereka yang berada diluar organisasi. Departemen atau kementrian tersebut biasanya memiliki proker yang erat kaitannya dengan media informasi.

Kalau dulu, tahun 2010, nama-nama departemen atau kementrian yang saya ketahui kebanyakan masih menggunakan istilah Deplu (Departemen Luar Negeri), Kemenlu (Kementrian Luar Negeri), dan sebagainya yang maknanya masih umum. Belum menciri-khaskan media informasi.

Tujuannya jelas, yakni menyampaikan informasi-informasi seputar kegiatan lembaga terkait lewat media informasi yang dimiliki.

Tapi sekarang, istilah-istilah diatas sudah memiliki ‘keturunan’ atau sudah digantikan dengan membentuk departemen atau kementrian baru yang lebih jelas mengarah ke media informasi. Misalkan di salah satu lembaga di fakultas saya, ada namanya Dept. Infokom (Informasi & Komunikasi), Depkominfo (Departemen Komunikasi & Informasi - sama saja dengan Infokom), atau agar lebih keren, dengan menggunakan nama organisasinya, seperti yang saat saya menulis artikel ini sedang saya jabat –lebih tepatnya diminta tolong, karena saya gak pernah meminta jabatan/mencalonkan diri) di ******* Media Center (*MC). Sensor gak papa ya. Gak boleh nyebut merek disini. Artikel Independen…

Begitulah fenomena saat ini. Infokom, Depkominfo, atau yang disensor tadi, *MC lebih dipilih sebagai nama Departemen/kementrian yang kerjanya langsung berhubungan dengan media informasi suatu lembaga.

Karena bidang kerjanya adalah media informasi, membuat biro yang satu ini beda dengan departemen atau kementrian lainnya. Maksud saya, yang beda disini adalah orang-orang yang dibutuhkan di dalamnya.

Setuju atau tidak, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya berani mengatakan bahwa khusus untuk departemen atau kementrian yang satu ini, secara prioritas yang dibutuhkan disitu bukanlah orang-orang yang berpengalaman dalam berorganisasi alias organisator, bukan pula orang yang pandai beretorika. Namun yang dibutuhkan di departemen atau kementrian yang erat kaitannya dengan bidang media & informasi ini adalah mereka-mereka yang memiliki kreatifitas & hobi.

Kreatifitas disini maksudnya adalah mereka memiliki ketrampilan dalam mengolah media, baik media visual dan non-visual. Sehingga mampu menghasilkan karya yang bagus. Sedangkan hobi adalah mereka yang memiliki memang senang jika melakukan apa-apa yang nantinya dikerjakan di departemen atau kementrian terkait. Di Infokom misalkan, ia senang jika disuruh mendesain sesuatu, searching informasi, dan sebagainya.

Kenapa harus yang hobi? Karena dengan adanya hobi, seolah-olah mereka yang melakukan program kerja departemen layaknya sedang ‘bermain’ dengan kesenangannya, meksi itu harus bekerja menjalankan proker sepanjang periode kepengurusan. Jadi seolah-olah mereka tidak ada paksaan dalam mengemban amanah.

Ada satu hal lagi yang perlu dicatat terkait hobi. Kenapa saya menuliskan ”meski itu harus bekerja menjalankan proker sepanjang periode kepengurusan” dalam paragraf sebelumnya diatas? Ada satu hal yang ingin saya sampaikan. Dengan tidak mengurangi rasa hormat pula, saya berani mengatakan bahwa baik-buruknya citra suatu lembaga di kalangan luar (mahasiswa lain atau masyarakat) tergantung bagaimana media informasi lembaganya bekerja.

Kuncinya apa jika seperti itu? Jelas, orang-orang yang berada di departemen ini dituntut untuk bisa istiqomah dalam bekerja. Tidak hanya satu bulan dua bulan atau jika ada acara & kegiatan departemen lain saja media informasi lembaganya aktif, tapi adalah SEPANJANG PERIODE media informasinya harus aktif bekerja.

Itulah mengapa departemen atau kementrian yang satu ini membutuhkan mereka-mereka yang memiliki kreatifitas dan hobi. Bagaimana dengan mereka yang bertipe organisatoris? Mereka yang berpengalaman dalam beroganisasi juga tidak semata-mata terlupakan, dia juga diperlukan di media informasi. Namun cukuplah posisinya sebagai koordinator atau pimpinan yang mengarahkan staf-stafnya. Cukup itu saja. Sisanya, secara prioritas & kuantitas, departemen seperti ini harus mampu menjaring sebanyak-banyaknya orang-orang yang memiliki kreatifitas & hobi. Agar media informasi suatu lembaga berjalan efektif sepanjang kepengurusan, tidak dengan paksaan. Dan tentunya, mampu menumbuhkan citra positif terhadap lembaga itu sendiri.

Kalau tujuannya tidak untuk itu (seperti yang disebutkan diatas), untuk apa dibentuk ‘keturunan’ departemen atau kementrian seperti Infokom, Depkominfo, atau yang disensor tadi diatas (*MC)? Cukuplah namanya Deplu dan Kemenlu dan tak perlu melahirkan ‘keturunan’ kalau kerjanya seperti studibanding, menyampaikan informasi yang didapat atau menerima kunjungan lembaga lain, atau menyampaikan pengumuman-pengumuman lewat tempelan pamphlet/poster di mading-mading kampus.

Ini yang saya maksudkan terhadap representasi dari judul artikel diatas, kenapa di media informasi bukan mereka yang berpengalaman dalam berorganisasi yang dibutuhkan (secara prioritas). Selain kreatifitas & hobi, sebenarnya ada satu hal lagi yang dibutuhkan dalam media informasi. Yakni mereka-mereka yang memiliki fasilitas atau peralatan yang mendukung untuk menjalankan program kerja media informasinya. Seperti laptop dengan spesifikasi mumpuni, modem untuk akses internet, dan peralatan pendukung lainnya.

Namun jika disuruh memilih, saya tetap menempatkan orang-orang yang memiliki kreatifitas & hobi adalah yang pertama. Fasilitas nomor dua. Alasannya sederhana sih, karena meskipun saya ditempatkan di *MC, nyatanya saya juga tidak memiliki alat dengan spesifikasi tinggi & mumpuni maupun akses internet. Modal saya cuma sebuah ide, dengan netbook kecil yang sudah ‘sekarat’ dan untuk akses internet, saya hanya memanfaatkan wi-fi saat ke kampus.

Soal fasilitas, Alhamdulillah saya selalu dikelilingi teman-teman saya yang baik hati yang mau menkontribusikan apa-apa yang mereka miliki agar ide saya tersalurkan. Itulah alasan kenapa fasilitas saya tempatkan nomor dua. Buat saja teman merasa iba melihat kita sedih tidak bisa menyalurkan ide & kreatifitas karena terkendala fasilitas. Insya Allah, mereka yang sama-sama satu organisasi dan punya fasilitas, mau membantu (berharap banget).

Lantas, jika ada orang-orang yang sudah telanjur masuk di media informasi dan dulunya tidak memiliki kreatifitas dan hobi bagaimana? Saya hanya bisa menyarankan, ajari mereka, bimbing mereka. Insya Allah bisa. Kalau perlu, tanyakan keinginan apa yang mereka harapkan ketika dulunya masuk, lalu layani keinginan itu.

Itu yang mau saya share kan kepada teman-teman jika ingin mengadakan suatu perekrutan terutama dibidang media informasi suatu lembaga. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap mereka yang berpengalaman dalam berorganisasi, di media informasi membutuhkan orang-orang dengan kreatifitas, hobi dan yang tak kalah penting fasilitas mumpuni (dengan latarbelakang yang sudah dijabarkan sebelumnya).

Selain hadits dibawah ini yang saya sebutkan nanti, artikel yang saya tulis ini sebatas pendapat pribadi saya. Jika ada tulisan yang kurang berkenan, saya mohon maaf dan tidak bermaksud merugikan pihak manapun.

“Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional & ahli).” (HR. Ahmad)

Selamat berkarya, selamat berkreatifitas, semoga bermanfaat. Aamiin

#JustMyOpinion

(AK21/@AjiiKurniawan)

Ini Lucunya Ramadhan di Indonesia


Ada yang lucu menurut saya saat menjelang Ramadhan tiba setiap tahunnya, di Indonesia ya ini (Nggak tahu kalau di Negara lain). Kalau kata orang bijak hendaknya kita mempersiapkan amalan dengan semaksimal mungkin dan menaikkan intensitas ibadah yaumiyah guna keperluan hidup kita di akhirat kelak, untuk yang satu ini beda. Apa itu?

Biasa, setiap menjelang bulan penuh berkah ini, tak sedikit para pedagang menaikkan harga barang jualannya (khususnya harga sembako & kebutuhan pokok seperti sayur mayur, rempah-rempah, dll) dengan berbagai alasan. Mulai dari kemauan para supplier-nya, biaya distribusi yang membesar karena faktor sekunder (misal BBM mahal), terpaksa, bahkan ada yang memang sengaja menaikkan harga untuk meraup keuntungan.

Apa itu salah? Enggak sih. Tapi lucu kedengarannya. Bagaimana tak lucu? Yang menjadikan hal tersebut lucu adalah jika menjelang Ramadhan para pelaku jual beli sangat inisiatif menaikkan harga barang komoditinya tapi tak dibarengi dengan menaikkan intensitas amalan ibadahnya. Itu sebabnya. Itu yang menjadikan Ramadhan di Indonesia ini khususnya menjadi “lucu” (menurut saya).

Tentu, artikel ini saya tulis karena sebelumnya saya melihat berita-berita yang di media massa. Bukan asal tebak. Dan memang, hal ini sudah menjadi kebiasaan yang turun temurun. Meski tak semua berlaku di daerah Indonesia. Tapi “selalu” dan “kebanyakan” seperti itu faktanya.

Menyinggung fenomena diatas tadi, sebenarnya saya berharap semoga yang menaikkan harga barang komoditi tak hanya sekedar menaikkan harga juga dibarengi dengan menaikkan intensitas ibadah. Supaya tidak terkesan bahwa bulan Ramadhan hanya dijadikan kesempatan untuk meraup keuntungan. Hanya berorientasi untuk mendapatkan uang yang banyak. Semoga tidak.

Karena jika ini dibiarkan terus-menerus, secara tak sadar kebiasaan ini akan menggiring manusia menjadi sosok yang materialistis. Yang hanya ada dipikiran manusia pokoknya bagaimana bisa mendapatkan uang yang banyak dan harta yang melimpah. Jangan sampai seperti itu.

Ini lucunya Ramadan di Indonesia, jika sudah jadi kebiasaan para pelaku pasar, silahkan harga kebutuhan pokok naik (syukur-syukur nggak usah naik), tapi dengan syarat amalan ibadah juga HARUS naik. Baiknya lagi, keuntungan lebih yang didapatkan pelaku jual beli karena kenaikan harga itu “dikembalikan” lagi kepada yang berhak. Karena sebagian dari harta yang kita dapatkan, jika itu sudah lebih dari cukup, sebagian dari harta tersebut merupakan hak bagi yang lebih membutuhkan, siapa itu? Fakir miskin. 

Ingat berkah bulan Ramadhan. Menaikkan harga aja semangat, meningkatkan ibadah+berbagi rizki kepada sesama juga harusnya semangat. Pahala besar menanti.

Sekian. Selamat berpuasa Ramadhan. Semoga bermanfaat. #JustMyOpinion

Usiikum wa nafsii (nasehat untuk sesama dan untuk diri saya sendiri)

Wassalamu'alaikum wr wb.

(AK21/@AjiiKurniawan)