• The Class of 2013

    (Ki-ka) Atas: May, Dania, Ulin, Arin, Rina ; Tengah: Rafiq, Bekti, Fikri, Bayu, Me ; Bawah: Hendra, Akbar

  • PH AB FPIK Undip 2013

    (Ki-ka) Atas: Hendra, Fikri, Akbar, Me, Rafiq ; Tengah: Bekti, Arin, May, Rina, Bayu ; Bawah: Dania, Ulin

  • Keluarga Besar DW Pak Ibnu

    (Ki-ka) Atas: Aufa, Apink, Harya, Yudha, Dimdut, Dimcil ; Tengah: Nadya, Mu'adz, Me, Pak Ibnu, Arin, Isna, Iif ; Bawah: Diana, Ine, Kamto, Nia, Susi

  • BEM FPIK Undip

    Cukup nama yang 'eksekutif', namun pengurusnya bukan orang "eksklusif" (karena BEM juga manusia biasa)

  • Kesejahteraan Mahasiswa (Kesma)

    Sejahtera mahasiswa itu ada 2, yaitu sejahtera dari biaya kuliah (tidak memberatkan) dan sejahtera dari nilai akademis (IPK bagus)

  • INSANI 2014

    Karena persaudaraan itu indah...

  • #SalamEKSIS

    INSANI Media Center (IMC) 2014............. (Ki-ka) Atas: Wildan, Me, Fauzan ; Tengah: Hana, April, Diana ; Bawah: Khikmah, Marlia ; Hidden: Reni, Elita, Hanum

  • SEMNAS FARMASea

    What Should Marine Scientist do for Industries?

  • #YukSenyum

    Karena Senyum adalah shodaqoh yang paling mudah

  • #MelanglangBuana

    at BPOL (Balai Penelitian dan Observasi Laut)

  • #MelanglangBuana

    at SEACORM BENCHMARK, Jembrana, Bali

  • Di Nusa Dua, Bali

    Sayang nggak bisa mampir ke acara APEC 2013 kemarin

Showing posts with label Organisasi. Show all posts

INSANI TV Ke Depan Mau Gimana Mas? Ini Jawaban Saya



Assalamu’alaikum wr wb….

Banyak orang yang bertanya, “INSANI TV ke depan mau gimana mas?”. Begitulah kurang lebih nada pertanyaan yang sering saya dengar dari adek kelas dan teman-teman lainnya. Untuk itu, lewat postingan blog ini, izinkan saya menyampaikan harapan ke depan terkait INSANI TV :


1. Bekerja dengan Hobi

Buat adek-adek yang sekarang menjadi kru INSANI TV hasil oprec tahun kemarin, ini pesan pertama yang ingin mas sampaikan. Jadilah adek-adek di INSANI TV ini ketika melakukan peliputan, lakukanlah atas dasar hobi. Karena orang yang hobi, ia akan bekerja dengan cinta. Ia bekerja bukan karena tuntutan, melainkan kesukaan. Bahkan, apabila pekerjaan itu sudah menjadi hobi, ketika ia menjalankan amanah (proker) tersebut seolah bukan seperti sedang proker yang diberikan atasan, tapi seperti sedang ‘bermain’ dengan apa yang dia sukai. Jika sudah seperti ini, apapun kendala & tantangan yang nantinya menghadang, ia akan terus maju dan maju untuk bekerja dengan kesukaan itu.

Maka dari itu, buat adek-adek kru INSANI TV semuanya, jika membaca artikel blog ini, inilah pesan penting yang ingin mas sampaikan. Meski sudah tidak menjabat sebagai Kadept IMC lagi, mas merasa masih memiliki tanggungjawab kepada adek-adek kru INSANI TV semua terkait prinsip yang sama-sama harus kita ketahui. Apalagi INSANI TV memang baru dimulai pada kepengurusan mas. Itu pesan mas buat adek-adek INSANI TV. Mari lakukan ini semua dengan hobi.


2. Kru INSANI TV tetap jalin komunikasi & silaturahim

Adek-adek INSANI TV yang saya sayangi, sadarilah bahwa kalian dipertemukan lebih dari pertemuan biasa. Kita disini adalah saudara, meski berbeda fakultas kita sama-sama satu kampus. Manfaatkan forum ini untuk terus menjalin komunikasi & silaturahim. Siapa tahu, kelak suatu saat nanti, teman satu kru di INSANI TV menjadi satu-satunya orang yang bisa membantu kita ketika tidak ada orang yang mampu membantu selain dia. (Bagi orang yang sudah ditunjuk untuk PJ INSANI TV di tahun 2014 kemarin bisa menyampaikan ini ke kru INSANI TV yang lain.) #SemangatYa


3. Kru Tetep Semangat & INSANI TV ini terus eksis sampai tahun – tahun berikutnya

Sudah jelas ini merupakan harapan yang pasti. INSANI TV diharapkan bisa terus eksis untuk menyebarkan informasi yang bermanfaat kepada yang lain. Apabila ada ‘tantangan’ terkait keahlian mengedit video untuk menghasilkan efek yang sama seperti INSANI TV di tahun perdana (2014), temen-temen bisa memakai aplikasi lain yang dikuasai. Beda tidak masalah. Yang penting jangan berhenti untuk mencoba.


4. Kajian pekanan di Masjid Kampus bisa ditayangan

Saya sengaja menyarankan hal ini sebenarnya kajian di Maskam sangat bagus jika ditayangan di INSANI TV. Suatu hal yang tidak kesampaikan pada tahun 2014 lalu. Untuk merealisasikannya, bisa bekerja sama dengan pihak Masjid Kampus (Maskam).


5. Program “TV PIMNAS” tetap berjalan.

Harapan besar dari saya program TV PIMNAS INSANI TV yang sudah ada ditahun perdana pada 2014 lalu di bisa berlanjut ditahun 2015 dan seterusnya. Buat adek-adek kru, serta alumni IMC 2014 “EKSIS”, perlu diketahui saya masih memiliki beberapa rekaman video hasil liputan PIMNAS 2014 yang kemarin digelar di Undip yang belum terpublish menjadi tayangan berita. Meski video itu merupakan rekaman PIMNAS tahun lalu, saya merasa video itu layak untuk diketahui bersama oleh seluruh “civitas akademika” Undip. Saya merekomendasikan itu.

Itulah harapan saya untuk TV PIMNAS. Bahkan, jika boleh “berharap” lebih tinggi lagi, mas ingin INSANI TV ini memang benar-benar menjadi TV PIMNAS, “The Real TV PIMNAS”. Artinya, setiap tahun INSANI TV selalu memberitakan kegiatan PIMNAS dari sebelum sampai PIMNAS digelar untuk kita sampaikan kepada warga Undip yang selama ini masih sedikit merasakan atmoster PIMNAS.

Arahan singkat begini, (#petunjuk), H-2 bulan / lebih sebelum PIMNAS digelar program TV PIMNAS diisi dengan “Bincang Santai” dengan beberapa narasumber. Bisa dari mahasiswa yang lolos PIMNAS tahun sebelumnya, atau dengan pejabat birokrasi terkait. Lalu saat PIMNAS, sebenarnya sih, besar harapan dari saya Kru INSANI TV bisa ikut ke kampus tempat digelarnya PIMNAS dan melaporkan langsung dari sana.

Mungkin beberapa menganggap ini terlalu “berlebihan”. Melihat INSANI TV Ini barulah sebatas program kerja dalam suatu departemen UKM INSANI Undip. Tapi yang perlu diketahui disini adalah, kita menginginkan supaya INSANI TV bisa berperan sebagai sarana yang bisa memberikan informasi bermanfaat tentang PIMNAS kepada warga Undip. Agar seluruh elemen  civitas akademika di Undip memiliki lebih banyak gambaran seputar PIMNAS. Tidak hanya mereka-mereka yang pernah ikut dalam ajang tersebut. Sehingga dengan seperti itu sedikit banyak bisa memberikan referensi dan langkah apa yang akan ditempuh untuk terus meningkatkan prestasi Undip diajang PIMNAS.

Satu hal lagi yang ingin saya sampaikan disini, saya melihatnya sendiri ketika berkesempatan meliput bersama staf IMC tahun lalu, bahwa 2 dari 3 PTN yang menjadi 3 Besar Juara PIMNAS 2014 kemarin, mereka menyertakan kru TV dari kampus mereka lengkap dengan peralatan jurnalistiknya, yang meliput segala macam kegiatan PIMNAS untuk dikirim ke kampus masing-masing sebagai bahan evaluasi dan referensi guna persiapan PIMNAS tahun berikutnya.

Itu harapan besar dari saya pribadi agar INSANI TV juga bisa berkontribusi dalam PIMNAS untuk Undip. Pengalaman saat liputan PIMNAS 2014 Undip (di kampus sendiri) setidaknya menjadi modal berharga. Untuk bapak & ibu pejabat birokrasi universitas yang mungkin membaca ini, ya beginilah keinginan dari mahasiswa Undip untuk kampusnya.  







Beberapa contoh hasil liputan TV PIMNAS INSANI TV tahun 2014 di Undip

(Untuk liputan PIMNAS 2014, bisa klik link berikut : PIMNAS 2014 by INSANI TV)


6. INSANI TV beserta IMC GROUP punya ‘tempat’ di ICT Centre

Saya tidak menyalahkan jika ada yang geleng-geleng kepala dengan point yang satu ini. Berlebihan? Mungkin iya. Sebuah proker dari salah satu UKM Undip yang baru seumur benih jagung menginginkan untuk bisa memiliki ‘tempat’ di ICT Centre.


Gedung ICT Centre Undip Tembalang

Maksud dari ‘tempat’ ini adalah setidaknya untuk permulaan atribut INSANI TV seperti stand banner bisa terpampang di pintu masuk lobi lantai 1 ICT Centre. Sehingga keberadaan INSANI TV bisa lebih diketahui oleh lebih banyak orang. IMC GROUP juga demikian. 

Sedikit penjelasan, IMC GROUP adalah sebuah komunitas media-media rohis yang ada di Undip yang dibentuk pada kepengurusan Insani Media Center (IMC) Undip 2014 lalu. Sebagaimana tagline-nya “Media Community Diponegoro University”. Dan INSANI TV masuk dalam IMC GROUP ini. Tujuan dari IMC GROUP ini adalah mempersatukan program-program media rohis di Undip dalam satu nama bersama. Jadi, jika di rohis fakultas / jurusan punya program yang berhubungan media (TV, dsb), bisa langsung dimasukkan ke dalam komunitas ini, IMC GROUP. Itu tadi penjelasan singkat seputar IMC GROUP. Selain itu, orang yang menjadi bagian dari IMC GROUP ini adalah kru INSANI TV (baik hasil oprec maupun dari pengurus IMC) dan alumni IMC tahun sebelumnya yang masih ingin berkontribusi untuk INSANI TV.

Logo IMC Group Undip
Kembali lagi terkait harapan tadi, satu hal sebenarnya yang melatarbelakangi adanya harapan ini. Bahwa "rohis itu gak gitu-gitu aja", melainkan bisa “berkarya” untuk kampusnya, salah satunya lewat INSANI TV ini. Sebagaimana tagline yang ada pada INSANI tahun 2014 lalu, “Berkarya dengan Cinta untuk Undip & Indonesia.” Besar harapan INSANI TV bisa memberikan liputan yang tak hanya dari kajian di Masjid Kampus, tapi juga liputan aktivitas perkuliahan yang nanti bisa dinikmati mahasiswa lewat TV LCD yang saat ini sudah ada di beberapa gedung fasilitas kampus seperti ICT, Lobby UPT Perpustakaan WP dan sebagainya.

Memang di ICT Centre sudah ada program media lain yang lebih dulu mendapat ‘tempat’ bahkan ruangan disana. Setidaknya, INSANI TV & IMC GROUP nantinya bisa berkolaborasi.

####################################

Itu jawaban dari saya terkait pertanyaan tentang INSANI TV “mau  dibawa ke mana” ke depannya. Saya merasa perlu menyampaikan ini karena dimasa saya menjabat program INSANI TV ini dimulai.

Untuk pejabat birokrasi Undip, dosen, (calon rektor juga mungkin) yang juga membaca tulisan ini, inilah harapan dari segelintir anak didik di Undip yang ingin berkarya dan memberi manfaat untuk kampusnya, dari Kami sangat senang jika diizinkan terkait penjabaran point diatas dan mendapat dukungan dari kampus, sekecil apapun itu. Kami sangat berterimakasih.

Sebelum saya tutup, pesan untuk Kru INSANI TV, adek-adek semua, sadarilah bahwa tahun 2014 INSANI TV ini lahir bukan dari adanya fasilitas penunjang liputan maupun tempat syuting yang komplet, melainkan dari hobi. Hobi yang ingin kita representasikan dalam sebuah tayangan bernama INSANI TV dengan harapan bisa memberikan manfaat kepada yang lain dan tentunya buat diri teman-teman yang suka jurnalistik.

Jika berbicara fasilitas, mas akui adek-adek, kita amat sangat terbatas. Kamera, handycamp, segala macam alat yang digunakan untuk kegiatan jurnalistik lainnya, secara kelembagaan (INSANI-red) sampai saat kita tak punya. Alat yang selama ini digunakan untuk peliputan semuanya dari meminjam. Termasuk dalam PIMNAS 2014 kemarin.

Di PIMNAS 2014 kemarin, alhamdulillah-nya sekdept IMC 2014 mas, sedang bekerja sambilan disalah satu instansi di Jateng ketika Pemilu dan mendapatkan fasilitas handycamp untuk membuat liputan pencoblosan di TPS. Alhamdulillah handycamp itu bisa dipinjam untuk meliput PIMNAS yang sudah ditarget kurang lebih 3 bulan sebelumnya oleh IMC. Meski dengan konsekuensi jika rusak harus ganti rugi.

"Mic" juga demikian. "mic" yang selama ini dipakai INSANI TV, saat PIMNAS dan sebagainya, itu bukanlah "mic" betulan. Tapi "mic" dari bahan sterofom (gabus) yang dipoles sedemikian rupa menggunakan lakban hitam + print-print-nan kertas berlogo INSANI TV.

Mas mohon maaf jika dalam hal ini membuat adek-adek kru yang dulu ikut oprec kaget dan tak menduga akan keterbatasan fasilitas yang ada di INSANI TV. Karena dari hobi lah kita disini memulai. Keterbatasan fasilitas tak menjadi halangan untuk menghasilkan karya yang berkualitas.

Itu tadi pesan saya buat kepada adek-adek kru INSANI TV saat ini. Dengan sedikit cerita masa lalu.

Sekian dari saya. Sekali mohon maaf jika ada beberapa harapan yang mungkin ‘berlebihan’. Buat adek-adek kru INSANI TV serta IMC 2015 tetap semangat, teruslah berkarya & #SalamEKSIS selalu. INSANI TV ada untuk memberi manfaat. Semoga tulisan ini bisa menjawab pertanyaan yang selama ini diajukan ke saya terkait INSANI TV ke depan. Baru sebatas harapan, belum kenyataan. Wallahu’alam…

“Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya & terampil…” (HR. Ahmad)

“Dan sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Thabrani & Daruquthni)

Wassalamu’alaikum wr wb.



Semarang, 9 Maret 2015
(Mantan Kadept. IMC Undip 2014)

Pengurus Lama & Pengurus Baru, Jangan Nge-'PHP'-in, Juga Bukan Untuk dimanjain


Regenerasi menjadi hal yang pasti ada dalam suatu organisasi. Regenerasi ini lebih mudah diartikan sebagai proses bergantinya pengurus lama ke pengurus baru. Biasanya, agar dalam kepengurusan baru punya jalan yang pasti “mau dibawa ke mana” organisasi yang bersangkutan, mantan pengurus lama kadang memberikan sesuatu yang disebut arahan kerja.

Arahan kerja ini biasanya berisi rekomendasi-rekomendasi yang setidaknya bisa dilakukan oleh pengurus baru. Namun, sudahkah arahan yang diberikan mantan pengurus dirasa menjadi sebuah “arahan” bagi pengurus baru?

Jawabannya tergantung tindaklanjutnya. Bisa jadi, arahan – arahan yang diberikan mantan pengurus dirasa bukan menjadi arahan bagi pengurus baru tatkala pengurus lama tidak memberikan “petunjuk” awal untuk mencapai arahan itu. Contoh misalkan tahun ini merekomendasikan agar bisa ini itu ini itu. Namun ketika tidak disertai dengan memberikan minimal “petunjuk” sebagai gambaran awal bagi pengurus baru, seolah rekomendasi seperti sebuah arahan –tanpa- arahan yang sifatnya nge-“PHP”-in (anak muda zaman sekarang pasti tahu apa itu "PHP").

Bayangkan saja, kalau hanya berupa rekomendasi namun tidak ada petunjuk (minimal), bagaimana pengurus baru paham akan apa yang seharusnya ia lakukan? Mending jika sebelumnya dia sudah memiliki pengalaman dibidang yang direkomendasikan. Tapi kalau tidak? Tentu rekomendasi itu seolah akan menjadi pemicu pusing kepala. Kalau orangnya penuh dedikasi, semangat juang dan komitmen mengemban amanah oke tak masalah. Namun jika pengurus baru masih “labil”? Tentu hal itu sangat rawan.

Tapi perlu diingat juga bagi pengurus baru. Pemberian petunjuk arahan kerja ini bukan terus membuat pengurus baru seolah “dimanjakan”. Karena petunjuk ini sifatnya seperti rambu-rambu. Jadi tak selamanya pengurus baru bisa berharap untuk terus “didorong” dengan pemberian petunjuk arahan ini. Bukan karena mantan pengurus acuh. Karena sejauh apapun mobil mogok didorong tanpa mesin dinyalakan, mobil itu juga tak akan pernah bisa berjalan sendiri.

Berarti pengurus baru juga harus bisa mandiri sejak awal. Pemberian petunjuk dari mantan pengurus lama idealnya adalah 2 pekan pertama saat masuk kepengurusan baru. Atau maksimalnya sebulan. Setelah itu, tugas dari mantan pengurus lama cukuplah memantau. Membantu pun, apabila ada situasi yang urgen. Tidak bisa selamanya. Jika selamanya, kapan pengurus baru bisa berkembang dan mandiri? Pengurus baru yang hebat adalah apabila diberikan satu petunjuk, ia mampu merepresentasikan satu petunjuk itu untuk menemukan petunjuk-petunjuk yang lain.

Begitulah hubungan pengurus lama dan pengurus baru dalam regenerasi. Penjabaran diatas tak lebih dari sebuah langkah agar kaderisasi di organisasi berjalan dengan baik.

Kesimpulannya, sesuai judul, pengurus lama jangan Nge-“PHP”-in, dan pengurus baru juga bukan untuk dimanjain. Antara kedua pihak, harus bisa saling memahami.

Selamat berorganisasi. Semoga memberi manfaat.

#JustMyOpinion

(AK22/@AjiiKurniawan)

Kepengurusan Baru, Hindari 'Bongkar Muat' Departemen


Bulan Desember hingga pergantian tahun biasanya menjadi awal moment bergantinya tampuk kepemimpinan suatu organisasi di lingkungan kampus. Dimana suatu kampus terdapat banyak sekali organisasi atau lembaga kemahasiswaan.

Bergantinya tampuk kepemimpinan yang ditandai dengan sebuah reorganisasi, suksesi, musyawarah besar (mubes), muktamar, atau apapun namanya guna memilih pemimpin baru, tentu akan diikuti dengan komposisi kepengurusan yang baru pula didalam struktur bidang/departemen kelembagaan.

Bicara tentang komposisi kepengurusan di bidang/departemen suatu lembaga, ada satu hal yang ingin saya sampaikan disini, yakni terkait penyusunan komposisi pengurus departemen selanjutnya, baik pengurus yang lama/sudah menjabat di organisasi sebelumnya, maupun calon pengurus yang baru yang dihasilkan dari sebuah open recruitment (oprec).

Dari 2 hal tadi, saya disini hanya ingin membicarakan seputar pengurus lama. Langsung to do point saja, ada satu “hal” yang sepertinya harus segera dihilangkan setiap kali dibentuk struktur kepengurusan baru (setidaknya jika “hal” tersebut masih ada di suatu lembaga. Jika sudah tidak ada, Alhamdulillah. Berarti lembaga tersebut kaderisasinya jalan).

Apa “hal” yang saya maksudkan disini? Sebenarnya, jika “hal” ini disebut sebagai budaya atau kebiasaan saya tidak tega karena tidak ingin men-just langsung & keseluruhan, karena saya juga tidak tahu menahu secara detail seperti apa kondisi lembaga yang ada di kampus-kampus. Dalam pembahasan ini, anggap saja ada lembaga “X” yang kita jadikan subject pembahasan kita disini.

Ada 1 hal yang tidak boleh sampai menjadi kebiasaan di lembaga “X” ini setiap kali dibentuk kepengurusan baru. Yakni kebiasaan mengganti hampir seluruh komposisi pengurus dalam suatu bidang/departemen tanpa menyisakan orang-orang yang sebelumnya pernah menjabat. Keadaan seperti ini saya menyebutnya dengan istilah “Departemen Bongkar Muat”.

Dalam arti lain, “jangan sampai kepengurusan baru dalam suatu bidang/departemen adalah orang-orang baru semua”. Kenapa demikian?

Jelas menurut saya kondisi ini sangat amat tidak ‘menyehatkan’ bagi suatu departemen dan organisasi itu sendiri. Bayangkan saja, jika tiap kali dibentuk kepengurusan baru, orang-orang yang ada disebuah bidang/departemen adalah orang-orang baru semua, kepada siapa mereka nanti memperoleh pengajaran, pembelajaran dan bimbingan tentang bagaimana harus menjalankan proker?

Kemana pula pengurus lama yang seharusnya memberikan ilmu yang didapat selama hampir setahun kepengurusan kepada adek-adek penerusnya nanti (kalau udah lebih dari 2 tahun menjabat atau diwisuda serta tetap menjalin komunikasi tidak masalah, tapi kalau sama sekali tidak mencakup kriteria tadi yang menjadi pertanyaan)? Apakah hanya diserahkan kepada kepala bidang/departemen baru yang dipilih untuk menanggungnya sendirian?

Jika kondisinya seperti ini, timbul pertanyaan juga ke mana hasil pembelajaran & kaderisasi yang dijalankan dalam suatu bidang/departemen selama setahun sebelumnya?

Malangnya lagi, kalau ada staf yang sudah dibina hampir setahun, pada saat memasuki tahun ke-2 kepengurusan, dia nya malah nggak lanjut. Istilah jawa nya "nelongso" banget pasti senior yang membina.

Itulah mengapa, alangkah baiknya kepengurusan baru dalam suatu bidang/departemen adalah bukan orang-orang baru semua. Tapi isilah dengan beberapa orang yang dulunya sudah pernah menjabat. Hal itu dimaksudkan supaya ilmu yang selama ini didapat oleh senior bisa tersampaikan secara kontinyu kepada adek-adek kepengurusan baru. Jangan tiap kali kepengurusan baru, semua harus dimulai dari awal. Kadept/Kabidnya yang baru bingung harus bagaimana, apalagi stafnya nanti.

Mungkin ada bidang/departemen yang pada awal kepengurusan baru isinya adalah orang-orang baru semua, dan proker yang dijalankan juga tidak mengecewakan. Sah-sah aja sih emang. Tapi ingat bahwa orang-orang yang masuk organisasi, tak jarang dari mereka juga ingin mendapatkan satu hal yang mungkin tidak sempat mereka utarakan, yakni pembelajaran. Baik berupa ilmu, pengalaman, dan sebagainya.

Jadi di organisasi tidak hanya sekedar berpikir proker terlaksana, sukses, habis itu sudah, selesai. Bukan. Tidak cukup sampai disitu. Tapi alangkah mulianya ketika masuk di organisasi, dijadikan sebagai ladang untuk mengamalkan ilmu yang diperoleh kepada adek-adek pengurus baru, memberikan ilmu yang bermanfaat kepada generasi penerus. (syukur-syukur menjadi generasi pendobrak nama lembaga karena berhasil mengamalkan ilmu yang senior sampaikan).

Soalnya kapan lagi kita bisa demikian? Bersyukurlah orang-orang yang ikut organsiasi. Disitu kita bisa menjalin interaksi membangun, komunikasi dengan sesama, memiliki punya peran sosial yang lebih dibandingan dengan yang tidak ikut organisasi. Disinilah miniatur kehidupan kita sebelum benar-benar terjun ke masyarakat. Maka dari itu manfaatkan kesempatan tersebut semua untuk menyalurkan & mengamalkan ilmu yang kita dapat. Minimal ada niat dan usaha untuk itu.

Oleh karena itu, sekali lagi jangan sampai ada kebiasaan “Departemen Bongkar Muat” dalam suatu lembaga. Karena akan sangat tidak sehat bagi suatu lembaga ke depannya, dan proses kaderisasi juga akan dipertanyakan.

Tapi jadikanlah suatu organisasi sebagai ladang untuk beramal mengamalkan ilmu kepada mereka yang membutuhkan. Bicara organisasi bukan sekedar membahas bagaimana mensukseskan program kerja, tapi juga bagaimana kita memberikan pembelajaran dan manfaat kepada sesama, minimal lewat ilmu yang kita peroleh. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Kesimpulannya, jangan gunakan kebiasaan bongkar muat departemen, tapi yang kita gunakan adalah “pengamalan ilmu” dari senior kepada junior dalam suatu departemen. Baik senior maupun junior, semoga bisa memahami akan hal ini.

Itulah yang saya sampaikan dalam tulisan kali ini. Semoga bermanfaat dan semua ini juga menjadi pembelajaran bagi saya dan yang lainnya. Sekiranya jika ada kalimat yang kurang berkenan dalam menyampaikan sudut pandang ini mohon dimaafkan.

Sekian, semoga kita bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama, dan dimudahkan dalam segala urusan. Aamiin….

#JustMyOpinion

Salam

[Photo by falkvingle.net]

(AK21/@AjiiKurniawan)

Bidang Media & Informasi, Bukan Pengalaman Organisasi Yang Dicari


Berbicara suatu lembaga atau organisasi kita semua pasti akan menemui departemen atau kementrian yang cakupan kerjanya berada diranah eksternal, alias sasaran kerjanya cenderung ditujukan kepada mereka-mereka yang berada diluar organisasi. Departemen atau kementrian tersebut biasanya memiliki proker yang erat kaitannya dengan media informasi.

Kalau dulu, tahun 2010, nama-nama departemen atau kementrian yang saya ketahui kebanyakan masih menggunakan istilah Deplu (Departemen Luar Negeri), Kemenlu (Kementrian Luar Negeri), dan sebagainya yang maknanya masih umum. Belum menciri-khaskan media informasi.

Tujuannya jelas, yakni menyampaikan informasi-informasi seputar kegiatan lembaga terkait lewat media informasi yang dimiliki.

Tapi sekarang, istilah-istilah diatas sudah memiliki ‘keturunan’ atau sudah digantikan dengan membentuk departemen atau kementrian baru yang lebih jelas mengarah ke media informasi. Misalkan di salah satu lembaga di fakultas saya, ada namanya Dept. Infokom (Informasi & Komunikasi), Depkominfo (Departemen Komunikasi & Informasi - sama saja dengan Infokom), atau agar lebih keren, dengan menggunakan nama organisasinya, seperti yang saat saya menulis artikel ini sedang saya jabat –lebih tepatnya diminta tolong, karena saya gak pernah meminta jabatan/mencalonkan diri) di ******* Media Center (*MC). Sensor gak papa ya. Gak boleh nyebut merek disini. Artikel Independen…

Begitulah fenomena saat ini. Infokom, Depkominfo, atau yang disensor tadi, *MC lebih dipilih sebagai nama Departemen/kementrian yang kerjanya langsung berhubungan dengan media informasi suatu lembaga.

Karena bidang kerjanya adalah media informasi, membuat biro yang satu ini beda dengan departemen atau kementrian lainnya. Maksud saya, yang beda disini adalah orang-orang yang dibutuhkan di dalamnya.

Setuju atau tidak, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya berani mengatakan bahwa khusus untuk departemen atau kementrian yang satu ini, secara prioritas yang dibutuhkan disitu bukanlah orang-orang yang berpengalaman dalam berorganisasi alias organisator, bukan pula orang yang pandai beretorika. Namun yang dibutuhkan di departemen atau kementrian yang erat kaitannya dengan bidang media & informasi ini adalah mereka-mereka yang memiliki kreatifitas & hobi.

Kreatifitas disini maksudnya adalah mereka memiliki ketrampilan dalam mengolah media, baik media visual dan non-visual. Sehingga mampu menghasilkan karya yang bagus. Sedangkan hobi adalah mereka yang memiliki memang senang jika melakukan apa-apa yang nantinya dikerjakan di departemen atau kementrian terkait. Di Infokom misalkan, ia senang jika disuruh mendesain sesuatu, searching informasi, dan sebagainya.

Kenapa harus yang hobi? Karena dengan adanya hobi, seolah-olah mereka yang melakukan program kerja departemen layaknya sedang ‘bermain’ dengan kesenangannya, meksi itu harus bekerja menjalankan proker sepanjang periode kepengurusan. Jadi seolah-olah mereka tidak ada paksaan dalam mengemban amanah.

Ada satu hal lagi yang perlu dicatat terkait hobi. Kenapa saya menuliskan ”meski itu harus bekerja menjalankan proker sepanjang periode kepengurusan” dalam paragraf sebelumnya diatas? Ada satu hal yang ingin saya sampaikan. Dengan tidak mengurangi rasa hormat pula, saya berani mengatakan bahwa baik-buruknya citra suatu lembaga di kalangan luar (mahasiswa lain atau masyarakat) tergantung bagaimana media informasi lembaganya bekerja.

Kuncinya apa jika seperti itu? Jelas, orang-orang yang berada di departemen ini dituntut untuk bisa istiqomah dalam bekerja. Tidak hanya satu bulan dua bulan atau jika ada acara & kegiatan departemen lain saja media informasi lembaganya aktif, tapi adalah SEPANJANG PERIODE media informasinya harus aktif bekerja.

Itulah mengapa departemen atau kementrian yang satu ini membutuhkan mereka-mereka yang memiliki kreatifitas dan hobi. Bagaimana dengan mereka yang bertipe organisatoris? Mereka yang berpengalaman dalam beroganisasi juga tidak semata-mata terlupakan, dia juga diperlukan di media informasi. Namun cukuplah posisinya sebagai koordinator atau pimpinan yang mengarahkan staf-stafnya. Cukup itu saja. Sisanya, secara prioritas & kuantitas, departemen seperti ini harus mampu menjaring sebanyak-banyaknya orang-orang yang memiliki kreatifitas & hobi. Agar media informasi suatu lembaga berjalan efektif sepanjang kepengurusan, tidak dengan paksaan. Dan tentunya, mampu menumbuhkan citra positif terhadap lembaga itu sendiri.

Kalau tujuannya tidak untuk itu (seperti yang disebutkan diatas), untuk apa dibentuk ‘keturunan’ departemen atau kementrian seperti Infokom, Depkominfo, atau yang disensor tadi diatas (*MC)? Cukuplah namanya Deplu dan Kemenlu dan tak perlu melahirkan ‘keturunan’ kalau kerjanya seperti studibanding, menyampaikan informasi yang didapat atau menerima kunjungan lembaga lain, atau menyampaikan pengumuman-pengumuman lewat tempelan pamphlet/poster di mading-mading kampus.

Ini yang saya maksudkan terhadap representasi dari judul artikel diatas, kenapa di media informasi bukan mereka yang berpengalaman dalam berorganisasi yang dibutuhkan (secara prioritas). Selain kreatifitas & hobi, sebenarnya ada satu hal lagi yang dibutuhkan dalam media informasi. Yakni mereka-mereka yang memiliki fasilitas atau peralatan yang mendukung untuk menjalankan program kerja media informasinya. Seperti laptop dengan spesifikasi mumpuni, modem untuk akses internet, dan peralatan pendukung lainnya.

Namun jika disuruh memilih, saya tetap menempatkan orang-orang yang memiliki kreatifitas & hobi adalah yang pertama. Fasilitas nomor dua. Alasannya sederhana sih, karena meskipun saya ditempatkan di *MC, nyatanya saya juga tidak memiliki alat dengan spesifikasi tinggi & mumpuni maupun akses internet. Modal saya cuma sebuah ide, dengan netbook kecil yang sudah ‘sekarat’ dan untuk akses internet, saya hanya memanfaatkan wi-fi saat ke kampus.

Soal fasilitas, Alhamdulillah saya selalu dikelilingi teman-teman saya yang baik hati yang mau menkontribusikan apa-apa yang mereka miliki agar ide saya tersalurkan. Itulah alasan kenapa fasilitas saya tempatkan nomor dua. Buat saja teman merasa iba melihat kita sedih tidak bisa menyalurkan ide & kreatifitas karena terkendala fasilitas. Insya Allah, mereka yang sama-sama satu organisasi dan punya fasilitas, mau membantu (berharap banget).

Lantas, jika ada orang-orang yang sudah telanjur masuk di media informasi dan dulunya tidak memiliki kreatifitas dan hobi bagaimana? Saya hanya bisa menyarankan, ajari mereka, bimbing mereka. Insya Allah bisa. Kalau perlu, tanyakan keinginan apa yang mereka harapkan ketika dulunya masuk, lalu layani keinginan itu.

Itu yang mau saya share kan kepada teman-teman jika ingin mengadakan suatu perekrutan terutama dibidang media informasi suatu lembaga. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap mereka yang berpengalaman dalam berorganisasi, di media informasi membutuhkan orang-orang dengan kreatifitas, hobi dan yang tak kalah penting fasilitas mumpuni (dengan latarbelakang yang sudah dijabarkan sebelumnya).

Selain hadits dibawah ini yang saya sebutkan nanti, artikel yang saya tulis ini sebatas pendapat pribadi saya. Jika ada tulisan yang kurang berkenan, saya mohon maaf dan tidak bermaksud merugikan pihak manapun.

“Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional & ahli).” (HR. Ahmad)

Selamat berkarya, selamat berkreatifitas, semoga bermanfaat. Aamiin

#JustMyOpinion

(AK21/@AjiiKurniawan)