• The Class of 2013

    (Ki-ka) Atas: May, Dania, Ulin, Arin, Rina ; Tengah: Rafiq, Bekti, Fikri, Bayu, Me ; Bawah: Hendra, Akbar

  • PH AB FPIK Undip 2013

    (Ki-ka) Atas: Hendra, Fikri, Akbar, Me, Rafiq ; Tengah: Bekti, Arin, May, Rina, Bayu ; Bawah: Dania, Ulin

  • Keluarga Besar DW Pak Ibnu

    (Ki-ka) Atas: Aufa, Apink, Harya, Yudha, Dimdut, Dimcil ; Tengah: Nadya, Mu'adz, Me, Pak Ibnu, Arin, Isna, Iif ; Bawah: Diana, Ine, Kamto, Nia, Susi

  • BEM FPIK Undip

    Cukup nama yang 'eksekutif', namun pengurusnya bukan orang "eksklusif" (karena BEM juga manusia biasa)

  • Kesejahteraan Mahasiswa (Kesma)

    Sejahtera mahasiswa itu ada 2, yaitu sejahtera dari biaya kuliah (tidak memberatkan) dan sejahtera dari nilai akademis (IPK bagus)

  • INSANI 2014

    Karena persaudaraan itu indah...

  • #SalamEKSIS

    INSANI Media Center (IMC) 2014............. (Ki-ka) Atas: Wildan, Me, Fauzan ; Tengah: Hana, April, Diana ; Bawah: Khikmah, Marlia ; Hidden: Reni, Elita, Hanum

  • SEMNAS FARMASea

    What Should Marine Scientist do for Industries?

  • #YukSenyum

    Karena Senyum adalah shodaqoh yang paling mudah

  • #MelanglangBuana

    at BPOL (Balai Penelitian dan Observasi Laut)

  • #MelanglangBuana

    at SEACORM BENCHMARK, Jembrana, Bali

  • Di Nusa Dua, Bali

    Sayang nggak bisa mampir ke acara APEC 2013 kemarin

Showing posts with label Puasa. Show all posts

Ini Lucunya Ramadhan di Indonesia


Ada yang lucu menurut saya saat menjelang Ramadhan tiba setiap tahunnya, di Indonesia ya ini (Nggak tahu kalau di Negara lain). Kalau kata orang bijak hendaknya kita mempersiapkan amalan dengan semaksimal mungkin dan menaikkan intensitas ibadah yaumiyah guna keperluan hidup kita di akhirat kelak, untuk yang satu ini beda. Apa itu?

Biasa, setiap menjelang bulan penuh berkah ini, tak sedikit para pedagang menaikkan harga barang jualannya (khususnya harga sembako & kebutuhan pokok seperti sayur mayur, rempah-rempah, dll) dengan berbagai alasan. Mulai dari kemauan para supplier-nya, biaya distribusi yang membesar karena faktor sekunder (misal BBM mahal), terpaksa, bahkan ada yang memang sengaja menaikkan harga untuk meraup keuntungan.

Apa itu salah? Enggak sih. Tapi lucu kedengarannya. Bagaimana tak lucu? Yang menjadikan hal tersebut lucu adalah jika menjelang Ramadhan para pelaku jual beli sangat inisiatif menaikkan harga barang komoditinya tapi tak dibarengi dengan menaikkan intensitas amalan ibadahnya. Itu sebabnya. Itu yang menjadikan Ramadhan di Indonesia ini khususnya menjadi “lucu” (menurut saya).

Tentu, artikel ini saya tulis karena sebelumnya saya melihat berita-berita yang di media massa. Bukan asal tebak. Dan memang, hal ini sudah menjadi kebiasaan yang turun temurun. Meski tak semua berlaku di daerah Indonesia. Tapi “selalu” dan “kebanyakan” seperti itu faktanya.

Menyinggung fenomena diatas tadi, sebenarnya saya berharap semoga yang menaikkan harga barang komoditi tak hanya sekedar menaikkan harga juga dibarengi dengan menaikkan intensitas ibadah. Supaya tidak terkesan bahwa bulan Ramadhan hanya dijadikan kesempatan untuk meraup keuntungan. Hanya berorientasi untuk mendapatkan uang yang banyak. Semoga tidak.

Karena jika ini dibiarkan terus-menerus, secara tak sadar kebiasaan ini akan menggiring manusia menjadi sosok yang materialistis. Yang hanya ada dipikiran manusia pokoknya bagaimana bisa mendapatkan uang yang banyak dan harta yang melimpah. Jangan sampai seperti itu.

Ini lucunya Ramadan di Indonesia, jika sudah jadi kebiasaan para pelaku pasar, silahkan harga kebutuhan pokok naik (syukur-syukur nggak usah naik), tapi dengan syarat amalan ibadah juga HARUS naik. Baiknya lagi, keuntungan lebih yang didapatkan pelaku jual beli karena kenaikan harga itu “dikembalikan” lagi kepada yang berhak. Karena sebagian dari harta yang kita dapatkan, jika itu sudah lebih dari cukup, sebagian dari harta tersebut merupakan hak bagi yang lebih membutuhkan, siapa itu? Fakir miskin. 

Ingat berkah bulan Ramadhan. Menaikkan harga aja semangat, meningkatkan ibadah+berbagi rizki kepada sesama juga harusnya semangat. Pahala besar menanti.

Sekian. Selamat berpuasa Ramadhan. Semoga bermanfaat. #JustMyOpinion

Usiikum wa nafsii (nasehat untuk sesama dan untuk diri saya sendiri)

Wassalamu'alaikum wr wb.

(AK21/@AjiiKurniawan)

Mencontoh Puasa Rosulullah

Ibadah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW menjadi contoh bagi Umat Islam untuk menjalankannya. Termasuk berpuasa.
Tak mudah mengikuti seperti apa yang diberikan dan disampaikan oleh Rasul SAW. Sebab, Rasulullah adalah teladan terbaik bagi seluruh umat manusia.
Dalam Alquran, Allah memuji Rasulullah SAW sebagai suri teladan yang baik bagi umat. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS al-Ahzab [33]: 21). Hal ini menunjukkan bahwa akhlak dan pribadinya sangat baik dan mulia.
Bahkan, dalam salah satu hadis yang diriwayatkan dari Aisyah RA dinyatakan bahwa akhlak Rasulullah SAW itu senantiasa merujuk pada Alquran.
Karena itu, sudah selayaknya umat Islam mencontoh dan meneladani kepribadian Rasulullah SAW dalam segala hal, termasuk puasa. Berikut beberapa cara yang biasa dilakukan Rasulullah SAW dalam menjalankan ibadah puasa dan menghidupkan Ramadhan.

Berniat puasa sejak malam
Diriwayatkan dari Hafsah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang tidak berniat untuk puasa Ramadhan sejak malam, maka tak ada puasa baginya.” (HR Abu Dawud).
Mengawali dengan sahur
Setiap akan berpuasa, Rasul SAW selalu makan sahur dengan mengakhirkannya, yakni menjelang datangnya waktu imsak.

Menyegerakan berbuka dan shalat
Dan ketika berbuka itu, Rasul SAW hanya memakan tiga biji kurma dan segelas air putih, lalu segera berwudhu untuk mengerjakan shIalat Maghrib secara berjamaah.
Dari Abu ‘Athiyah RA, dia berkata, “Saya bersama Masruq datang kepada Aisyah RA. Kemudian Masruq berkata kepadanya, “Ada dua sahabat Nabi Muhammad SAW yang masing-masing ingin mengejar kebaikan, dan salah seorang dari keduanya itu segera mengerjakan shalat Maghrib dan kemudian berbuka. Sedangkan yang seorang lagi, berbuka dulu baru kemudian mengerjakan shalat Maghrib.” Aisyah bertanya, “Siapakah yang segera mengerjakan shalat Maghrib dan berbuka?” Masruq menjawab, “Abdullah bin Mas’ud.” Kemudian Aisyah berkata, “Demikianlah yang diperbuat oleh Rasulullah SAW.” (HR Muslim No 1242).

Memberbanyak ibadah
Selama bulan Ramadhan, Rasul SAW senantiasa memperbanyak amalan, seperti shalat malam, tadarus Alquran, zikir, tasbih, dan sedekah.

Iktikaf
Memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, Rasul SAW meningkatkan aktivitas ibadahnya, terutama dengan iktikaf.