• The Class of 2013

    (Ki-ka) Atas: May, Dania, Ulin, Arin, Rina ; Tengah: Rafiq, Bekti, Fikri, Bayu, Me ; Bawah: Hendra, Akbar

  • PH AB FPIK Undip 2013

    (Ki-ka) Atas: Hendra, Fikri, Akbar, Me, Rafiq ; Tengah: Bekti, Arin, May, Rina, Bayu ; Bawah: Dania, Ulin

  • Keluarga Besar DW Pak Ibnu

    (Ki-ka) Atas: Aufa, Apink, Harya, Yudha, Dimdut, Dimcil ; Tengah: Nadya, Mu'adz, Me, Pak Ibnu, Arin, Isna, Iif ; Bawah: Diana, Ine, Kamto, Nia, Susi

  • BEM FPIK Undip

    Cukup nama yang 'eksekutif', namun pengurusnya bukan orang "eksklusif" (karena BEM juga manusia biasa)

  • Kesejahteraan Mahasiswa (Kesma)

    Sejahtera mahasiswa itu ada 2, yaitu sejahtera dari biaya kuliah (tidak memberatkan) dan sejahtera dari nilai akademis (IPK bagus)

  • INSANI 2014

    Karena persaudaraan itu indah...

  • #SalamEKSIS

    INSANI Media Center (IMC) 2014............. (Ki-ka) Atas: Wildan, Me, Fauzan ; Tengah: Hana, April, Diana ; Bawah: Khikmah, Marlia ; Hidden: Reni, Elita, Hanum

  • SEMNAS FARMASea

    What Should Marine Scientist do for Industries?

  • #YukSenyum

    Karena Senyum adalah shodaqoh yang paling mudah

  • #MelanglangBuana

    at BPOL (Balai Penelitian dan Observasi Laut)

  • #MelanglangBuana

    at SEACORM BENCHMARK, Jembrana, Bali

  • Di Nusa Dua, Bali

    Sayang nggak bisa mampir ke acara APEC 2013 kemarin

Showing posts with label 30 Hari Bercerita. Show all posts

30HBC19 Hari ke-5 : Maaf, Masih Rahasia


Hari ke-5 : Maaf, Masih Rahasia
(Sabtu, 5 Januari 2019)

Ini adalah hari aktif terakhir sebelum weekend perdana di tahun 2019. Siang hari usai Shalat Dzuhur, aku berencana untuk makan siang terlebih dahulu sebelum kembali beraktivitas di depan laptop. Karena jatah makan di kantor juga telah disediakan.
Belum sempat makan, tiba-tiba muncul pesan WhatsApp kepadaku dari salah satu pengurus Yayasan Al Hikmah Boyolali agar menghadiri meeting di rumah depan MIN Kebonan.
Mendapat pesan ini aku mencancel makan siangku dan berangkat ke tempat meeting. Karena jaraknya dekat bagiku, aku berangkat dengan berjalan kaki.
Setibanya di ruang meeting, aku langsung duduk di samping Direktur Pendidikan. Tak lama setelah duduk, aku diberi snack ringan dan minuman teh. Alhamdulillah, lumayan untuk mengisi perut yang tadi belum sempat makan.
Siang itu, ternyata sedang diadakan rapat dengan Unit SDIT dan TKIT membahas anggaran dan persiapan PPDB.
Kedatanganku ke rapat ini, adalah diminta untuk mempersiapkan desain baliho seperti desain yang pernah ku buat saat memberi ucapan selamat kepada SDIT Mutiara Karanggede yang meraih akreditasi A tahun 2018 kemarin.
Menit demi menit berlalu, tak sampai 1 jam semenjak kedatanganku akhirnya rapat selesai.
Setelah rapat selesai, pertemuan yang tadinya membahas anggaran berubah menjadi obrolan ringan. Salah satu obrolan yang muncul adalah pertanyaan tentang pernikahan.
"Mau nikah kapan?", "Udah 2019 lho!", "Maunya sama siapa?", begitulah kurang lebih pertanyaan yang ditujukan kepadaku dari Direktur Pendidikan dan Direktur Keuangan. Wajar aku ditanya demikian karena masih single.
Memang, tidak sedikit yang menginginkan agar aku segera menikah karena diriku dinilai sudah cukup umur. Baik dari keluarga maupun kerabat.
"Mau nikah kapan?", "Udah 2019 lho!"
"Mohon doa restunya ya. Saya akan menikah di waktu yang tepat, insya Allah," itulah jawaban bijakku jika ditanya demikian.
Bukan karena tidak ingin menyegerakan, melainkan ketika aku menikah, khususnya saat mengkhitbah, aku ingin memastikan keadaan iman dan ruhiyahku dalam kondisi baik. Agar segala keputusan yang ku ambil, juga keputusan dan pilihan terbaik.
Karena bagiku, jika mengkhitbah ketika iman dan ruhiyah sedang dalam kondisi yang tidak baik, itu namanya bukan menyegerakan, tapi condong terburu-buru menuruti hawa nafsu. Dikatakan bersegera, jika segalanya sudah siap dan dalam kondisi yang baik. Baik lahir maupun batin. Khususnya iman dan ruhiyah. Lalu langsung khitbah tanpa pacaran.
Terus, gimana kalau "keserobot" orang lain? Percaya sama Allah, bahwa jodoh tak akan tertukar. Menikah bukan ajang balapan. Kalau balapan, yang start duluan belum tentu finish duluan. Karena masih banyak tikungan. Yang finish duluan pun juga belum tentu juara dunia. Karena masih banyak seri-seri yang lain.
Menikah bukan ajang balap-balapan untuk meraih banyak gelar. Menikah adalah ibadah, ibadah seumur hidup. Ingat, seumur hidup. Ibadah seumur hidup yang bertujuan untuk meraih keberkahan dan ridho-Nya. Baik di dunia maupun akhirat.
"Maunya sama siapa?"
Hmmm... Kalau untuk pertanyaan itu, maaf, masih rahasia jawabannya.
Ketika ditanya pertanyaan tersebut aku memilih diam seribu bahasa. Hanya senyum dan muka polos yang ku tunjukkan untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Khusus untuk pertanyaan mau sama siapa aku menikah, aku sangat menutup rapat dan merahasiakan jawabannya sampai waktu yang tepat untuk memberitahu tiba.
Jika pun aku memberitahu, hanya kepada orang khusus dan aku pun meminta agar beliau tidak membocorkan kepada orang lain sebelum waktu kesepakatan akad terjadi, sekalipun itu hanya untuk obrolan maupun candaan ringan.
Selama akad belum terjadi, selama itu pula belum bisa dikatakan sebagai pasangan suami istri, statusnya belum sah. Walaupun keduanya sudah sepakat untuk menikah. Karena patokan pasangan yang sah, adalah setelah akad benar-benar diucapkan.
Itulah alasan kenapa aku ingin nama "dia" benar-benar dirahasiakan sebelum kesepakatan akad terjadi. Aku tidak ingin timbul obrolan maupun pembicaraan yang justru menjadi godaan dan mengurangi keberkahan menuju pernikahan. Aku ingin menghormatinya.
Tentang siapa jodohku, aku selalu memohon kepada-Nya, agar aku menjadi orang baik terlebih dahulu. Agar segala yang ku dapatkan, juga yang baik pula.
Allah berfirman, "Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik." (QS. An Nur : 26).
Sebagai penutup cerita ini, aku berterimakasih kepada semuanya yang telah memberikan perhatian untuk kehidupan masa depan ku ini. Dan aku juga berterimakasih kepada beliau-beliau atas fasilitas yang diberikan kepadaku selama rapat berlangsung.
Alhamdulillahirobbil 'aalamiin.
See you next story... ðŸ˜‰
(Bersambung)
By : Aji Kurniawan AP

30HBC19 Hari ke-4 : Rizki Santriwati ke Tanah Suci


Hari ke-4 : Rizki Santriwati ke Tanah Suci
(Jumat, 4 Januari 2019)

Ada yang spesial di Jumat pekan pertama tahun 2019 ini. Ya, di hari yang penuh barokah ini, digelar Tabligh Akbar bersama KH. Ust. Duri Ashari di Masjid Baitul Maghfur Karanggede, Boyolali, Jawa Tengah.
Tabligh Akbar dalam rangka Maulid Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam ini dimulai bada Shalat Isya'. Antusiasme jamaah untuk menghadiri acara ini sangat tinggi. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya jamaah yang membludak hingga ke badan jalan raya.
Saking ramainya, jalan raya yang tadinya untuk jalur kendaraan, berubah menjadi tempat nobar alias nonton bareng kajian Tabligh Akbar. Dan ini kenyataan.
Sejumlah layar proyektor dan TV LED dipasang agar jamaah yang tidak kebagian kursi, bisa menontonnya dari luar. Serta, terdapat petugas gabungan dari berbagai elemen masyarakat yang turut mengamankan dan mengatur jalannya kajian, khususnya di area jalan raya.

Baru pertama kali aku mendapati Masjid Baitul Maghfur Karanggede seramai ini. Jika jalan raya saja berubah jadi tempat nobar kajian, apalagi yang di dalam masjid? Tentu sudah penuh.
Acara Tabligh Akbar ini di awali dengan pertunjukkan seni, sambutan dari pengurus masjid dan panitia, serta tilawah. Baru setelah itu, KH. Ustadz Duri Ashari menyampaikan materi kajiannya.
Dari sekitar 2,5 jam durasi kajian beliau, salah satu poin penting dari kajian ini adalah, jika kita mengaku mencintai Rasul, maka kita harus senang atau menyukai diri Rasul terlebih dahulu, meski di dunia tidak pernah bertemu Rasul. Seperti sifat-sifat beliau dan lain sebagainya. Baru setelah itu, kita menyukai apa yang Rasul bawa dan sampaikan. Tentang Islam dengan segala tuntunannya.

Memang hal ini sangat logis. Ibarat manusia ingin mencintai seseorang, tentu langkah awal yang dilakukan adalah menyukai sifat orang tersebut. Baru setelah suka dengan sifatnya, secara otomatis apa yang ia lakukan, apa yang ia berikan, juga akan disukai. Betul?
Bagi kalangan anak muda tentu hal ini masuk akal. Karena buat apa punya wajah tampan jika sifatnya tak sopan? Buat apa pula, punya wajah cantik jika hatinya tak "secantik" wajahnya? Iya kan?
Menurut ilmu bahasa, senang itu bahasa masyarakat, kalau cinta bahasa anak muda, kalau mahabbah bahasa agama. Ketiganya beda pengucapan, tapi maknanya sama.
Setelah 2,5 jam berlalu, rangkaian Tabligh Akbar akhirnya sampai di akhir acara. Ada satu sesi yang juga sangat dinanti di penghujung acara ini, yakni pengumuman hadiah umrah gratis. Dan pemenangnya jatuh kepada seorang santriwati.
Mendapat hadiah umrah gratis ini, ia langsung sujud syukur di atas panggung dan terharu. Dijadwalkan, ia akan berangkat ke Tanah Suci pada Oktober 2019 mendatang. Barakallah. Semoga maqbullah.

And finally, setelah pengumuman hadiah umrah, Tabligh Akbar pun selesai. Dan pukul 00.15 WIB dini hari, aku kembali tiba di pesantren setelah sekitar 3 jam berada Masjid Baitul Maghfur.
Alhamdulillah. Semoga apa yang dijalani pada Hari Jumat ini Allah beri keberkahan. Juga keberkahan untuk hari-hari selanjutnya. Aamiin...
See you next story... ðŸ˜‰
(Bersambung)
By : Aji Kurniawan AP

30HBC19 Hari ke-3 : Makanan Kesyukuran


Hari ke-3 : Makanan Kesyukuran
(Kamis, 3 Januari 2019)

Langit hari ini terlihat cerah. Begitu biru, dengan gumpalan awan putih yang bergerak lambat mengikuti arah angin. Hari ketiga di tahun 2019 ini, dari pagi sampai siang sebagian besar aku lewati dengan aktivitas di kantor.
Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa hari telah gelap. Aku mengetahui ada yang spesial di hari ketiga tahun 2019 ini. Bahwa menu makan malam ini adalah daging.
Tentu bagi anak pesantren, menu daging adalah salah satu menu spesial, karena tidak setiap hari bisa makan daging. Dan hal itu juga berlaku bagi asatidzah. Sehingga wajar, aku berpikir nanti malam bisa makan dengan menu daging untuk pertama kali di tahun 2019 ini.
Saat hendak makan malam, harapan untuk bisa makan daging pertama kali di tahun 2019 ini sirna. Karena ternyata daging sudah habis saat aku datang ke ruang makan asatidz. Memang, kedatanganku untuk makan malam ini waktunya belakangan.
Kenapa belakangan? Karena aku terlebih dahulu menyelesaikan amanah yang membuatku ditempatkan di pesantren ini sesuai dengan integritasku.
Jujur, aku merasa tak pantas jika terburu-buru menikmati fasilitas yang ada di pesantren, entah itu makan, dan yang lainnya, jika amanah yang dipasrahkan kepadaku, hasilnya tak sesuai dengan etos kerja dan prinsip integritasku.
Tak hanya daging yang habis, lauknya pun juga habis. Lantas, apakah aku kecewa dan menyesal karena kehabisan daging? Tidak.
Ini bukan pertama kali aku mengalami hal seperti ini. Ini sudah sering ku alami. Setiap kali aku kehabisan lauk pauk, apalagi saat lagi enak-enak, aku tak pernah kecewa, namun tetap bersyukur.
Setiap kali aku mengalami kejadian ini, saat itu pula aku selalu teringat dengan QS. Ibrahim ayat 7 tentang nikmat dan kesyukuran.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 7).
Bicara tentang kenikmatan, aku selalu open mind, berpikir luas dan terbuka.
Di sini, di Ponpes IT Al Hikmah Boyolali, setidaknya aku masih bisa makan dengan nyaman. Sedangkan saudara-saudara yang terdampak Tsunami Selat Sunda akhir tahun 2018 lalu, kondisinya tidak sebaik yang aku alami di sini.
Belum lagi saudara di belahan bumi lainnya. Uighur, Palestina, dan sebagainya.
Itulah alasan kenapa seharusnya aku tetap bersyukur, bagaimanapun kondisinya. Kehabisan daging dan lauk makanan belum lah seberapa dengan kondisi saudara-saudara di tempat lain yang terkena musibah (semoga mereka diberi ketabahan dan rizki yang cukup. Aamiin yaa Allah).
Meski daging dan lauk habis, aku melihat masih ada nasi, serta kuah daging yang banyak. Jadi, aku tetap mengambil nasi dan makan malam di ruangan tersebut.
Untuk membuat menu makan malamku ini tetap lezat dan segar bagiku, aku memperbanyak kuah daging yang masih banyak.
Kenapa sih aku memperbanyak kuah daging agar lezat? Kalau segar mungkin iya. Kalau lezat? Apakah kelezatan kuah daging setara dengan kelezatan daging aslinya?
Ini soal sudut pandang sebenarnya. Prasangka. Baik buruknya atau enak tidaknya sesuatu yang kita alami, itu kan tergantung prasangka kita kepada Allah. Kalau kita berprasangka baik kepada Allah, diri kita juga akan merespon bahwa itu nanti baik.
Sebagaimana sabda Rasul dari Abu Hurairah yang diriwayatkan Bukhari Muslim, "Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku".
Kalau udah berpikir cukup dengan kuah saja makanannya nanti bisa lezat, yaa nanti makan kita terasa lezat. Selama baru dihidangkan. Positive thinking aja.
By the way, aku punya cerita sebuah penelitian. Karena kuah terdiri dari air, air yang ada di sekitar kehidupan ini ternyata bisa merespon apa yang manusia perlakukan kepada air tersebut lho!
Ceritanya, di jurusan kuliahku, Ilmu Kelautan Undip Semarang, sering banget kedatangan tamu dari Jepang. Entah buat kerjasama maupun ngisi kuliah umum. Sehingga jurusanku kental banget dengan nuansa "kejepangan".
Aku juga punya teman perempuan, satu fakultas, dan pernah satu organisasi rohis kampus, dia kuliah S2 di Jepang. Sampai aku nulis cerita ini, dia masih di sana.
Sering banget dia upload foto-foto ketika di Jepang ke Instagramnya. Jadi saat aku lagi stalking di Instagram, sering banget fotonya muncul di timeline dengan segala keindahan Negeri Sakura. Aku kagum sama dia. Saat kuliah S1, dia jadi Mahasiswa Berprestasi alias Mawapres. Keren!
Nah, ada seorang peneliti asal Jepang namanya Professor Masaru Emoto, dari Hado Institute Tokyo. Hasil penelitian yang dia lakukan pada tahun 2003 menunjukkan bahwa air mampu merespon ucapan, doa, prasangka, maupun aktivitas lain yang dilakukan terhadapnya.
Misalnya, saat air dibacakan doa yang baik, ia akan membentuk praktikel kristal air beraturan dan terlihat cantik. Sebaliknya, jika air dibacakan ucapan yang buruk, partikel kristal air yang terbentuk tidak beraturan dan terlihat jelek. Hal itu diketahui melalui metode khusus dengan membekukan air pada suhu tertentu lalu diamati dengan mikroskop.
Hasil penelitian tersebut telah ia jabarkan dalam bukunya berjudul "The Hidden Message in Water". Kalau diartikan kurang lebih "Pesan Tersembunyi dalam Air".
Menjelang akhir tahun 2018 lalu, hasil penelitian Professor Masaru Emoto itu kembali dipresentasikan dalam sebuah seminar di Undip. Dan aku hadir langsung dalam seminar ini.
Ternyata, hasil penelitian ini ekuivalen alias berbanding lurus dengan apa yang telah Islam ajarkan 14 abad lalu. Agar manusia khusnudzon (berprasangka baik), berdoa yang baik sebelum melakukan sesuatu.
Sehingga bukan tanpa alasan, jika ada ustadz atau kyai, yang membawakan air minum sambil dibacakan doa, lalu pasien diminta untuk meminumnya. Karena air minum yang telah dibacakan doa itu bisa meresponnya untuk memberikan energi positif. Sebagai perantara Allah memberikan kesembuhan kepadanya.
Maka dari itu, aku tetap makan meski hanya dengan kuah. Dengan di awali doa dan berprasangka baik, insya Allah makanan ini lezat dan barokah. Setidaknya bisa memberi energi positif untuk melakukan aktivitas.
Akhirnya, aku begitu lahap makan malam dengan menu nasi plus kuah daging ini di atas karpet hijau. Tak ada daging, tak ada lauk. Namun aku tetap memakannya. Bahkan aku sampai nambah sekali lagi.
Karena bagiku, ini adalah makanan kesyukuran. Syukur atas segala nikmat yang Allah berikan, serta wujud penghargaan dan terima kasih kepada bude-bude dapur pondok yang telah memasakkan makanan untuk kami dengan tulus sepenuh hati.
See you next story... ðŸ˜‰
(Bersambung)
By : Aji Kurniawan AP

30HBC19 Hari ke-2 : Pengorbanan dalam Pembinaan


Hari ke-2 : Pengorbanan dalam Pembinaan
(Rabu, 2 Januari 2019)

Para siswa tampak berjejer di ruang Aula. Hari ini adalah hari pertama mereka mengenakan seragam sekolah setelah libur panjang. Di hari pertama ini, santri MTs diberikan pembekalan oleh bagian sekolah untuk memasuki semester baru pasca liburan. Sedangkan santri SMA sudah mulai masuk pelajaran seperti biasa.
Lalu, yang dilakukan oleh guru? Para guru juga diberi pembinaan sekaligus pembekalan bertajuk "In House Training" dengan tema "Menjadi Guru yang Menyenangkan" bersama pembicara Ustadz Solikhin Abu Izzudin, penulis buku 'From Zero to Hero' bertempat di kelas 9C Kampus II PPIT Al Hikmah Boyolali.
Aku datang menghadiri acara tersebut dengan wajah ceria tatkala membuka pintu ruangan. Walau sebenarnya banyak kerjaan yang selalu ada tiap saat.
"Assalamualaikum..." ucapku sambil senyum lebar dengan nada agak lambat.
"Waalaikumussalam Ustadz Aji..." jawab Ustadz Solikhin.
Ada suatu hal yang tak biasa bagiku. Ketika aku datang masuk ruangan menghadiri pembekalan tersebut, tak ada kursi kosong yang tersisa untuk peserta. Aku sempat tengok sana-sini.
Lalu kemudian tiba-tiba Ustadz Solikhin menyodorkan kursi kepadaku, yang mana kursi tersebut ternyata adalah kursi untuk duduk beliau saat menyampaikan materi.

Baru kali ini dalam hidupku, ada seorang pemateri yang memberikan kursi duduknya untuk peserta. Dan ini terjadi padaku.
Aku pun menerima kursi itu meski sebenarnya aku sangat sungkan, lalu menempatkannya di barisan depan. Sehingga, meski datangku terakhir (karena ada urusan juga sebelumnya), aku bisa duduk paling depan.
Bisa duduk paling depan meski datang terakhir, membuatku ingat guyonan waktu kuliah yang bunyinya "posisi menentukan prestasi". Biasanya guyonan itu muncul saat ujian. Yang pernah jadi mahasiswa pasti paham maksudnya (ketawa dalam hati).
Sembari mendengarkan materi, sesekali aku mendokumentasikan kegiatan ini. Sehingga baru duduk sebentar aku berdiri lagi dan keliling ruangan.

Kejadian kursi yang diberikan tadi ternyata terus terngiang-ngiang dalam pikiranku. "Kok ya tega aku membiarkan pemateri tanpa kursi?" Gumamku dalam hati.
Aku pun izin keluar ruangan bentar kepada Ustadz Solikhin. Izinku ini boleh dibilang alibi, karena sebenarnya aku izin keluar bukan karena hajat atau urusan mendadak, maupun dicari orang lain, melainkan untuk mencarikan kursi pengganti bagi beliau. Aku tak tega jika beliau berdiri terus sampai materi selesai.
Walau hanya "pengorbanan" sebuah kursi, kejadian ini juga mengingatkanku pada kisah 3 prajurit Muslim pada Perang Uhud di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Kisah ini sudah sangat populer. Dikisahkan setelah Perang Uhud berakhir, Umar bin Khattab pergi ke Bukit Uhud untuk mencari prajurit Muslim yang kemungkinan masih ada. Karena Umar mengetahui ada beberapa sahabat yang belum terlihat usai perang.
Terdengar suara prajurit pertama yang memanggil asma Allah sambil meminta minum karena kehausan. Saat Umar datang dan akan memberinya minum, prajurit itu mendengar ada prajurit lain yang kehausan. Saat Umar hampir menolong prajurit kedua, kembali terdengar prajurit lain yang juga kehausan. Sehingga prajurit kedua mengisyaratkan kepada Umar agar memberikan minum prajurit ketiga, siapa tahu ia lebih membutuhkan.
Namun siapa sangka, prajurit ketiga lebih dulu wafat sebelum Umar sempat menolongnya. Dan saat Umar bergegas untuk kembali ke prajurit pertama dan kedua, mereka juga telah menghembuskan nafas terakhirnya. Suatu pengorbanan yang tak ternilai harganya.
Itulah yang mengingatkanku tentang kisah tersebut saat menerima kursi dari Ustadz Solikhin. Setelah mendapatkan kursi, aku kembali masuk ruangan dan membawakan kursi untuk beliau. Aku dapat tempat duduk, beliau pun juga. Kan adil rasanya.
Beberapa saat setelah membawakan kursi untuk Ustadz Solikhin, aku kembali berdiri dan ke barisan belakang agar bisa motret seisi ruangan. Saat aku berdiri di belakang, Ustadz Zaenal masuk dan duduk di kursi tempat di mana aku sebelumnya duduk.
Teringat dengan kisah sahabat tadi, aku pun dengan senang hati mempersilahkan Ustadz Zaenal duduk di situ. Lagi pula, untuk menangkap momen saat memotret, aku lebih fleksibel berdiri. It's no problem. Karena pengorbanan ini jelas belum ada apa-apanya dari yang dilakukan sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Satu hal juga yang menarik saat pembinaan ini adalah saat ada pijat memijat. Dan aku adalah peserta yang pertama kali dipijat oleh Ustadz Solikhin (karena duduknya paling depan dan deket).

Pembinaan ini selesai sebelum Dzuhur. Dan setelah Dzuhur, aku menghadiri liqo' perdana semester genap ini bersama Ustadz Syaifudin di kantor SMA bersama rekan satu halaqoh lainnya.
Liqo perdana ini dibuka dengan cerita banyaknya ulama yang tak punya ijazah kuliah seperti saat ini, tapi diakui keilmuannya. Karena mereka punya karya-karya yang dihasilkan.
Materi liqo perdana ini adalah seputar barokah atau keberkahan. Disampaikan, sesuatu disebut barokah apabila memiliki banyak manfaat, atau manfaatnya besar, meski dari sebuah hal kecil. Karena ada sesuatu hal besar, namun manfaatnya kecil bahkan mubadzir.
Makna keberkahan lainnya adalah adanya ziyadatul khoir (bertambahnya kebaikan) dan ziyadatul tho'at (bertambahnya ketaatan) kepada diri seseorang dengan syarat ia beriman dan bertaqwa. Meski itu sebuah kesusahan, misal sakit. Jika ia yakin dengan iman dan bertaqwa, sakit yang dialami bisa menjadi keberkahan karena menambah ketaatan kepada Allah.
Mendengar kata "ziyadatul" waktu liqo ini, membuat aku teringat temanku saat kuliah S1 di Undip Semarang. Namanya mirip-mirip gitu. Dia perempuan. Kabar terakhir yang aku dapat ia sedang mengerjakan Tugas Akhir alias skripsi. Aku mendoakan supaya segera selesai dan bisa wisuda agar orang tuanya bahagia. Aamiin yaa Allah...
Saat liqo ini pula, kembali aku melihat sebuah pengorbanan yang dilakukan Ustadz Salman (beliau guru Bahasa Indonesia). Setelah liqo selesai menjelang Ashar, beliau membuatkan kopi untuk Ustadz Syaifudin. Luar biasa banget ya. Sebuah pengorbanan dari mutarobbi kepada murobbinya.
Begitulah ceritaku di hari kedua ini. Pengorbanan dalam pembinaan ini memang sederhana, namun begitu besar makna dan keberkahannya sebagaimana materi liqo yang disampaikan tadi, insya Allah.
Masih banyak sebenarnya aktivitas ku. Namun ini dulu yang diceritakan.
Hampir sama kayak hari pertama kemarin, cerita hari kedua ini bersambung saat malam hari aku kembali ketiduran di sofa empuk sendirian. Padahal niatanku belum mau tidur. Dan belum makan malem.
Kalau nggak sendirian dan ada yang bangunin, aku mau makan dulu sebenarnya. Tapi nggak papa kok, aku tetap mensyukuri.
See you next story... ðŸ˜‰
(Bersambung)
By : Aji Kurniawan AP

30HBC19 Hari ke-1 : Muhasabah Awal Tahun dan Tersambungnya Silaturahmi



Hari ke-1 : Muhasabah Awal Tahun dan Tersambungnya Silaturahmi
(Selasa, 1 Januari 2019)

Bismillah. Langit masih terlihat gelap. Udara masih terasa dingin. Bintang-bintang masih tampak bersinar di langit. Ya, ku awali 1 Januari 2019 pukul 00.01 WIB dengan mata tetap terbuka pada Selasa dini hari. Siap sejak awal untuk memandang ke masa depan.

Hari sebelumnya di penghujung tahun 2018, aku mendapati suatu hal yang merubah pandangan hidupku untuk selamanya. Baik di tahun 2019, maupun untuk kehidupan masa depanku.

Kini, aku telah melalui tahun 2018. Fokus untuk masa kini dan masa depan.

Awal tahun 2019, aktivitas penting pertama yang ku abadikan ialah mendokumentasikan muhasabah santriwati PPIT Al Hikmah Boyolali. Mereka, dengan para ustadzah, melakukan qiyamullail jamai pada sepertiga malam di kompleks pesantren putri.

Waktu muhasabah suasananya khidmat. Apalagi di luar halaman dan masih sepertiga malam. Doa yang disampaikan sangat panjang. Rangkaian kalimat doanya juga bagus. Menyentuh banget. 

Siapa yang mengucapkan dan memimpin doa aku tak tahu. Aku tak bisa menebak suara siapa itu. Seperti masing asing di telingaku. Aku juga tak tahu apakah ia mengucapkan doa pakai teks atau mengalir begitu saja dari lisannya, alias tanpa teks. Ditambah suasananya dibuat gelap. Lampu dimatikan. Sehingga nggak bisa lihat.

Muhasabah santriwati PPIT Al Hikmah

Kalau tanpa teks, itu luar biasa banget doanya bagiku. Kenapa?

Bayangin aja, aku udah mondar-mondar kompleks putra lama, sampai keluar muterin pesantren, masih terdengar lantunan doa yang disampaikan (soalnya pake mic). Doanya baru selesai saat adzan Subuh dari masyarakat berkumandang. Masya Allah...

Pagi harinya setelah Subuh, aku sempetin buat olahraga jalan santai ke kampus 2 PPIT Al Hikmah putri. Biar badan sehat, sambil motret halaman gedung yang lagi di paving dan ditanami rumput.

Paving dan rumput Kampus I PPIT Al Hikmah
 
Ada kerja bakti juga di kampus 1 sampai menjelang siang. Aku juga mengurusi tanaman hias yang ada di depan kamarku. Ada beberapa tanaman yang kini sudah dipotkan. Sebelumnya hanya pakai kantong plastik.

Pada hari pertama di tahun 2019 ini juga, aku bertemu dengan teman se-angkatan saat masih sekolah, Dzikri Asykarullah, yang mengisi Stadium General (SG) untuk santri PPIT Al Hikmah siang harinya. Moderatornya Ustadz Eko Prabowo.

Dzikri sama Ustadz Eko saat SG

Waktu si Dzikri ngisi, aku dikatain kalau dulu saat sekolah aku orangnya paling rajin. Saat yang lain tidur aku masih belajar. Ya begitulah nyeritainnya.

Diriku juga bertemu dengas mas Farid MSN, kakak kelas sewaktu mondok juga. Satu angkatan sama Ustadz Eko.

Sorenya, aku menemani si Dzikri buat sharing bareng santri kelas 12 SMA di kelas. Karena kita sama-sama dari PTN (aku Undip dia UGM) yang udah punya nama alias universitas terkenal dan populer, jadi paham apa yang mau disharingkan ke anak-anak walau beda kampus.

Saat sharing ini lagi-lagi si Dzikri buka rahasia masa lalu ku. Dia ngasih tau ke anak-anak kalau dulu aku pernah lolos masuk UGM. Tapi kemudian nggak diambil dan memilih nyelesain studi S1 di Undip.

Aku senyum-senyum aja sama anak-anak. Mau gimana lagi? Udah dibocorin dan emang itu kenyataan.

Si Dzikri pulang sore harinya diantar Ustadz Nurcholis naik mobil pondok. Malemnya dia nge-chat aku minta file foto karikaturnya yang dikasih ke dia saat ngisi SG.

Cerita hari pertama awal tahun 2019 ini bersambung saat aku tertidur di kursi sofa malam hari. Karena rasanya ngantuk berat, sehari sebelumnya aku dikit banget tidurnya. Dan baru saja mengepel lantai kamar dan seisinya sendirian.

Udah ngantuk, pas di kursi sofa empuk lagi posisinya. Mbablas deh akhirnya. Padahal ada yang lagi ngajak chatingan.

Begitulah cerita di hari pertama di tahun 2019. Sebenarnya masih banyak aktivitasnya. Namun ini dulu aja ya yang diceritakan. Karena kalau semua ditulis di sini entar kepanjangan.

Garis besarnya, di awal tahun ini, aku menata, merancang, dan berusaha lebih gigih lagi dari sebelumnya untuk meraih apa yang ku impikan. Dan aku berkomitmen untuk melewatkan hari dengan karya. Karena apa jadinya, jika hari berlalu begitu saja tanpa ada sesuatu yang dihasilkan? Sungguh sia-sia.

Manusia diberi otak bukan untuk disia-siakan. Tapi untuk berpikir, dan mewujudkannya dalam karya dan tindakan (action). Cerita inilah salah satu wujud dari implementasi tersebut.

See you next story... 😉

(Bersambung)

By : Aji Kurniawan AP
#30HBC #30HariBercerita