• The Class of 2013

    (Ki-ka) Atas: May, Dania, Ulin, Arin, Rina ; Tengah: Rafiq, Bekti, Fikri, Bayu, Me ; Bawah: Hendra, Akbar

  • PH AB FPIK Undip 2013

    (Ki-ka) Atas: Hendra, Fikri, Akbar, Me, Rafiq ; Tengah: Bekti, Arin, May, Rina, Bayu ; Bawah: Dania, Ulin

  • Keluarga Besar DW Pak Ibnu

    (Ki-ka) Atas: Aufa, Apink, Harya, Yudha, Dimdut, Dimcil ; Tengah: Nadya, Mu'adz, Me, Pak Ibnu, Arin, Isna, Iif ; Bawah: Diana, Ine, Kamto, Nia, Susi

  • BEM FPIK Undip

    Cukup nama yang 'eksekutif', namun pengurusnya bukan orang "eksklusif" (karena BEM juga manusia biasa)

  • Kesejahteraan Mahasiswa (Kesma)

    Sejahtera mahasiswa itu ada 2, yaitu sejahtera dari biaya kuliah (tidak memberatkan) dan sejahtera dari nilai akademis (IPK bagus)

  • INSANI 2014

    Karena persaudaraan itu indah...

  • #SalamEKSIS

    INSANI Media Center (IMC) 2014............. (Ki-ka) Atas: Wildan, Me, Fauzan ; Tengah: Hana, April, Diana ; Bawah: Khikmah, Marlia ; Hidden: Reni, Elita, Hanum

  • SEMNAS FARMASea

    What Should Marine Scientist do for Industries?

  • #YukSenyum

    Karena Senyum adalah shodaqoh yang paling mudah

  • #MelanglangBuana

    at BPOL (Balai Penelitian dan Observasi Laut)

  • #MelanglangBuana

    at SEACORM BENCHMARK, Jembrana, Bali

  • Di Nusa Dua, Bali

    Sayang nggak bisa mampir ke acara APEC 2013 kemarin

Showing posts with label Asal-Usul. Show all posts

Antara Valentine, Galentine, Pengantin, dan Palestine. Mana yang Akan Anda Pilih?


Ada apa sih dengan bulan Februari? Sepertinya ada yang beda dengan bulan ini. Bagi kita umat Islam secara keseluruhan (inget ya secara “keseluruhan”, bukan hanya diperuntukkan untuk anak rohis saja), tentu mengetahui & sudah seharusnya memahami asal usul akan momentum yang konon, merupakan hari kasih sayang. Ya, to do point saja, orang-orang yang  merayakannya menyebutnya sebagai Hari Valentine (Valentine’s Day) yang dirayakan tanggal 14 Februari.

Bagi kita yang sudah paham akan asal usul kenapa disebut Hari Valentine tentu sudah paham seluk beluknya, bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang melenceng dari aqidah kita sebagai ummat Islam. Tidak perlu panjang lebar lagi dijelaskan.

Buat yang belum tahu, sedikit penjelasan saja bahwa sebenarnya sejarah Hari Valentine berasal dari meninggalnya seorang martyr Kristen (Martyr dalam Islam disebut ‘Syuhada’) bernama St. Valentine pada 14 Februari 270 Masehi. Ia meninggal akibat dibunuh karena bertentangan dengan raja Romawi kala itu, Raja Claudius II (268 - 270 M).

Untuk mengagungkan St. Valentine yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dalam menghadapi cobaan hidup, maka para pengikutnya memperingati kematiannya dengan mengadakan upacara peringatan kematian St. Valentine (Hari Valentine) bernama “Lupercalia”.

Setiap upacara Lupercalia dimulai dengan mengorbankan beberapa ekor kambing dan seekor anjing yang dipimpin oleh para Luperci. Upacara tersebut dilakukan di dalam sebuah gua bernama Lupercal, berada di bukit Palatine, yang merupakan salah satu bukit di kota Roma.

Upacara Lupercalia ini terus berlangsung sampai pada masa pemerintahan Kaisar Constantin Agung (280 – 337 M). Kaisar Romawi ini adalah kaisar pertama pemeluk agama Nasrani. Pengaruh agama Nasrani semakin meluas di kerajaan Romawi dan Dewan gereja memegang peranan penting di bidang politik. Hari Valentine lalu dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang juga disebut “Supercalis”.

Pada tahun 494 M, Dewan Gereja di bawah pimpinan Paus Gelasius I merubah bentuk upacara Lupercalia menjadi perayaan purifikasi (pemurnian/pembersihan diri). Dan pada tahun 496 M, Paus Gelasius I mengubah tanggal perayaan purifikasi yang berasal dari upacara ritual lupercalia dari tanggal 15 Februari menjadi tanggal 14 Februari.

Sampai akhirnya pada abad ke-16, ‘upacara keagamaan’ tersebut berangsur-angsur hilang dan berubah menjadi ‘perayaan bukan keagamaan’ hingga seperti yang banyak orang kira saat ini. Yang identik dengan tukar kado, coklat, mencari jodoh, dan urusan kasih sayang lainnya.

Sedikit tambahan terkait persamaan kata Valentine. Pada abad pertengahan, dalam Bahasa Perancis Normandia, terdapat kata “Galentine” yang berarti “galant/cinta”. Persamaan bunyi Valentine dan Galentine menyebabkan orang berpikir bahwa para pemuda sebaiknya mencari pasangan hidupnya adalah pada tanggal 14 Februari. Hingga populerlah tanggal 14 Februari sebagai Hari Valentine (yang berasal dari perayaan kematian St. Valentine), yang mereka anggap sebagai Hari Kasih Sayang.

Itu tadi sejarah singkat mengenai Hari Valentine. Sekarang tentu sudah tahu. Kita sebagai umat Islam tidak boleh mengikuti dan menyerupai kebiasaan merayakan ‘Hari Valentine’ tanggal 14 Februari. Karena jelas itu bukan dari Islam. Dasarnya juga jelas, hadist yang sudah sangat popular sejagat raya :

Rasul saw bersabda : “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya.” (HR. Abu Daud no. 4031-Shahih)

Nah, tibalah bagian opini dari saya. Jika tadi sudah membahas sedikit sejarahnya, sekarang izinkan saya untuk berbagi opini terkait ‘Hari Valentine’ ini.

Tentu, kita semua merasakan, menjelang tanggal 14 Februari ada sesuatu yang ramai sekali dipublikasikan. Ya, banyak sekali desain poster / pamflet yang menyeru untuk tidak ikut merayakan ‘Hari Valentine’ bagi umat Islam yang dipublish di sosial media.

Yang sudah popular bagi kalangan anak rohis pasti adalah ajakan untuk menutup aurat dengan hastag #YukBerhijab, #YukTutupAurat, atau sebagai Hari Hijab Se-Dunia, dan sebagainya.

Bagus sekali hal ini. 2 jempol deh buat itu semua. Dan harapannya jangan hanya menjelang tanggal 14 Februari ya. Selama nafas ini berhembus dan selalu terhubung dengan, usahakan ajakan berhijab untuk tutup aurat itu terus ada. Karena berhijab bukan sekedar pilihan & mode, tapi sudah menjadi kewajiban bagi “tiap pemeluk Islam yang perempuan” (pahami baik-baik kalimat berkutip tadi, kalau saya menggunakan kata ‘muslimah’ biasanya condongnya selalu ke anak rohis. Inget ya diawal artikel ini, bukan untuk anak rohis saja).

Ingat yang wahai kita kaum hawa yang beriman semuanya (tidak sekedar pengurus rohis), anda adalah “perhiasan dunia”, sehingga layaknya sebuah perhiasan yang amat saaaaaannngaat berharga, tentu aurat anda harus ditutupi. Mau bukti perintah-Nya? Ini dalilnya :

"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat." (QS. Al-A'raf Ayat 26)

Masih kurang? Tambah lagi :

“Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumurnya (hijab) ke dadanya." (QS. An-Nur ayat 31)

Masih belum yakin? Satu lagi dari hadist :

“Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil balig) maka tidak ada yang layak terlihat kecuali ini,” sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan." (HR. Abu Daud dan Baihaqi)

Paham kan berhijab bukan sekedar pilihan? Tapi kewajiban? Oke lanjut ke jalur pembahasan (itu tadi sedikit selingan. Semoga 3 dalil tadi bisa meyakinkan bagi yang belum menutup aurat). #senyum

Lanjut. Selain ajakan untuk berhijab, kalau saya amati, beberapa desain poster ajakan untuk tidak merayakan ‘Hari Valentine’ ini juga ada yang menggunakan kata pengantin (dengan berbagai ‘ejaan’ yang dimirip-miripkan dengan Valentine) sebagai isi kontennya. Ada juga yang menyinggung menuju pernikahan dengan konten berpantun ‘akad bukan coklat’.

Hmmm…… (mulai berpikir sejenak), sekarang izinkan saya untuk berpendapat. Jika saya yang mendesain poster, 2 hal terakhir yang saya sebutkan tadi lebih baik tidak saya gunakan sebagai konten.

Memang secara sekilas tidak ada yang salah dengan pengantin & akad tadi. Tapi saya disini hanya ingin mengambil langkah aman. Karena jika menghubungkan dengan kedua hal tadi, ditakutkan para mad’u (objek/sasaran dakwah) awam, orang biasa, beranggapan bahwa menjelang tanggal 14 Februari mereka diajak untuk langsung saja menjadi pengantin atau menggelar akad daripada pacaran.

Sekali lagi memang tidak ada yang salah dengan mengajak untuk langsung melakukan akad saja jika sudah saling mencintai daripada pacaran. Namun tentu bukan karena ‘Hari Valentine’ saya disini menggembor-gemborkan untuk itu.

Kalau ajakan (pengantin dan akad) ini hanya dilakukan untuk menangkal ‘Hari Valentine’ setiap tanggal 14 Februari, lalu apa bedanya dengan Hari Kasih Sayang yang memang anggapan jahiliyahnya adalah mencari pasangan hidup? Kenapa harus dengan pengantin? Apakah karena katanya mirip dengan ‘Valentine’ (sehingga digunakan agar menjadi pantun yang indah karena memiliki sajak ab ab. Yang matkul bahasa Indonesia dapat A pasti paham)? Lalu apa bedanya dengan ‘Galentine’ yang dalam Bahasa Perancis Normandia tadi artinya cinta? Justru berdasarkan sejarah, karena persamaan bunyi ini kan orang mengindentikkan sebagai moment yang tepat untuk mencari cinta/jodoh?

Mungkin bagi yang sudah paham akan ‘Hari Valentine’ tidak masalah dengan konten tadi. Karena apapun yang terjadi sudah jelas tidak akan ikut-ikutan. Istilahnya sudah “kebal”.

Namun, bagaimana jika kalangan awam yang memandang ini? Sedangkan mereka belum “kebal”, belum cukup kuat ilmunya (tanpa mengurangi rasa hormat) untuk yakin bahwa ‘Hari Valentine’ bukan dari Islam? Karena kalau sudah saling cinta, ada kasih sayang, tentu dalam Islam baiknya memang langsung nikah saja bukan? Artinya telah menemukan pasangan hidup. Lalu apa bedanya dengan ‘Hari Valentine’ yang katanya moment tepat untuk mencari jodoh?

Ini alasan utama kenapa tidak akan menyertakan konten pengantin dan akad. Karena respon tiap orang itu beda-beda. Ok bagi yang ilmunya sudah banyak, tidak masalah. Namun bagi yang masih butuh ilmu & pencerahan, ajakan seperti ini meskipun niatnya adalah humor belaka, tentu beda responnya.

Bukan karena ‘Valentine’ kita memakai istilah pengantin. Karena istilah pengantin tidak ada hubungannya sama sekali dengan ‘Hari Valentine’. Kapanpun bagi yang sudah punya pilihan tepat untuk dijadikan jodoh, segeralah menggelar akad dan menjadi pengantin.

Intinya, bukan karena ‘Valentine’ terus ramai menggunakan istilah pengantin. Karena ditakutkan ada yang beranggapan memang benar tanggal 14 Februari kental dengan nuansa mencari jodoh. Ingat sifat syaitan yang cerdik mempermainkan manusia. Bisa jadi niat kita baik, cara yang kita lakukan pun juga tak salah. Namun hati-hati jika syaitan mempermainkan orang-orang yang kita ajak itu dengan mengarahkan anggapan mereka bahwa tanggal 14 Februari memang identik untuk mendapatkan jodoh (jadi pengantin-red). Buktinya, menjelang tanggal itu banyak yang mengajak lebih baik pengantin daripada ‘Valentine’ (sesuatu yang sepertinya indah didengar. Berpantun. Keren..!).

Itulah langkah antisipatif yang saya maksudkan. Bahasa kedokterannya “lebih baik mencegah daripada mengobati.” Dan ini adalah dalil yang mendasari kenapa saya menulis artikel ini :

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al-An’am ayat 112)

Ada pesan “perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu…”. Ya, jika membaca dari awal tentu paham maksudnya. Semua sudah dijelaskan diatas. Ingat syaitan itu cerdik. Mereka telah bersumpah untuk selalu menggoda manusia dengan berbagai cara. Bahkan yang dianggap baik pun mereka gunakan.

Ya, ini hanya pandangan pribadi. Semua hanya langkah antisipatif. Toh juga masih banyak konten lain yang bisa disertakan dalam menangkal ‘Hari Valentine’ ini. So, buat para desainer, jangan berhenti untuk terus mengajak teman yang sudah yakin akan jodohnya agar segera menjadi pengantin lewat karya visualnya. Siapa tahu mereka segera menikah karena melihat ajakan dari poster / pamflet yang kita buat. Sehingga pahala akan terus mengalir kepada pembuat poster (insya Allah). Dengan satu catatan, jangan hanya ramai menjelang tanggal 14 Februari.

Sebagai penutup, izinkan saya untuk memberikan istilah yang juga bernada pantun, namun menurut saya itu lebih mantap. Sebagaimana judul dari artikel ini dan foto ilustrasi yang saya gunakan (yang mungkin sekilas membuat pembaca bertanya-tanya), jika saya diminta membuat desain, saya akan menyertakan kalimat “Say No to Valentine..! Freedom for PALESTINE…!”. Itu lebih keren. Dan akan terus digalakkan hingga Palestina merdeka.

Sekian. Semoga bermanfaat.

Salam.

(AK22/@AjiiKurniawan)

Alasan Dibalik Larangan Bersentuhan Selain Mahrom



Bagi pasangan lelaki dan perempuan yang sedang pacaran atau bertunangan, inilah alasan dan sebab mengapa anda tak perlu bersentuhan dengan bukan mahram atau pasangan masing-masing di luar sana. Lihat TANDA MERAH dalam gambar di bawah.

Kajian menunjukkan bagian berwarna merah adalah peningkatan suhu yang tinggi di kawasan tersebut. Jadi berpegangan tangan, jantung seorang perempuan akan berdegup kencang karena cinta dan kasih sayang. Sedangkan lelaki berdegup di otak dan kemaluan kerana nafsu semata-mata.

Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

“Sekali-kali tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali wanita itu bersama mahramnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1862 dan Muslim no. 3259).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, :

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Tidak pernah aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya terhadap kaum pria daripada fitnah para wanita.[HR Al-Bukhari no 5096]

Setelah kita mengetahui tentang larangan dan bahaya bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram berdasarkan hadits di atas

MASIHKAN ANDA BERPACARAN..???

Copas Akh Abdil Muhsin Hari Al-Kadiry

SILAHKAN SHARE semoga bermanfaat...

Sumber : FB Daarut Tauhid

Yahudi Bukan Israel


Sebelum membaca artikel ini, saya anjurkan untuk membacanya secara menyeluruh, jangan setengah-setengah guna menghindari hal-hal yang tidak inginkan seperti yang sudah ada sebelumnya (melihat dari judulnya yang bisa memunculkan perbedaan pemahaman diawal). Mari, kosongkan segala pikiran yang mengganggu, buka hati untuk menerima segala macam nasehat kebaikan.

Ini ada sebuah pembahasan mengenai sebuah negara yang sangat "terkenal" di kalangan ummat Islam di dunia. Bukan karena mereka memiliki prestasi mentereng atau negara adidaya/superpower, melainkan karena ulah tentara mereka yang selalu menjajah Palestina. Ya, di dunia, negara ini sering disebut negara "Israel". Setidaknya itulah yang selalu disebutkan di kalangan internasional. Terkait penamaan "Israel", dan hubungannya dengan kita sebagai ummat Islam, berikut ini ada sebuah kajian yang membahas tentang wilayah yang kini didiami kaum Yahudi di Laut Mediterania itu. Selamat membaca (Ingat anjurannya, dibaca secara keseluruhan):

------- oOo --------

Sungguh sangat memprihatinkan, banyak di antara kaum muslimin sering tidak sadar dan lepas kontrol ketika berbicara. Tidak hanya terjadi pada orang awam, bisa kita katakan juga terjadi pada sebagian besar pelajar atau bahkan mereka yang merasa memiliki banyak tsaqafah islamiyah.

Barangkali mereka lupa atau mungkin tidak tahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّم

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ada seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan murka Allah, diucapkan tanpa kontrol akan tetapi menjerumuskan dia ke neraka.” (HR. Al-Bukhari 6478)

Al-Hafidz Ibn Hajar berkata dalam Fathul Bari ketika menjelaskan hadis ini, yang dimaksud diucapkan tanpa kontrol adalah tidak direnungkan bahayanya, tidak dipikirkan akibatnya, dan tidak diperkirakan dampak yang ditimbulkan. Hal ini semisal dengan firman Allah ketika menyebutkan tentang tuduhan terhadap Aisyah:

وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْد اللَّه عَظِيم

“Mereka sangka itu perkara ringan, padahal itu perkara besar bagi Allah.” (QS. An-Nur: 15)

Oleh karena itu, pada artikel ini -dengan memohon pertolongan kepada Allah- penulis ingin mengingatkan satu hal terkait dengan ayat dan hadis di atas, yaitu sebuah ungkapan penamaan yang begitu mendarah daging di kalangan kaum muslimin, sekali lagi tidak hanya terjadi pada orang awam namun juga terjadi pada mereka yang mengaku paham terhadap tsaqafah Islamiyah. Ungkapan yang kami maksud adalah penamaan YAHUDI dengan ISRAEL. Tulisan ini banyak kami turunkan dari sebuah risalah yang ditulis oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafidzhahullah yang berjudul “Penamaan Negeri Yahudi yang Terkutuk dengan Israel”.

Tidak diragukan bahkan seolah telah menjadi kesepakatan dunia termasuk kaum muslimin bahwa negeri yahudi terlaknat yang menjajah Palestina bernama Israel. Bahkan mereka yang mengaku sangat membenci yahudi -sampai melakukan boikot produk-produk yang diduga menyumbangkan dana bagi yahudi- turut menamakan yahudi dengan Israel. Akan tetapi sangat disayangkan tidak ada seorang pun yang mengingatkan bahaya besar penamaan ini.

Perlu diketahui dan dicamkan dalam benak hati setiap muslim bahwa ISRAIL adalah nama lain dari seorang Nabi yang mulia, keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yaitu Nabi Ya’qub ‘alaihis salam. Allah ta’ala berfirman:

كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ

“Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan.” (QS. Ali Imran: 93)

Israil yang pada ayat di atas adalah nama lain dari Nabi Ya’qub ‘alaihis salam. Dan nama ini diakui sendiri oleh orang-orang yahudi, sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu: “Sekelompok orang yahudi mendatangi Nabi untuk menanyakan empat hal yang hanya diketahui oleh seorang nabi. Pada salah satu jawabannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Apakah kalian mengakui bahwa Israil adalah Ya’qub?” Mereka menjawab: “Ya, betul.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya Allah, saksikanlah.” (HR. Daud At-Thayalisy 2846)

Kata “Israil” merupakan susunan dua kata israa dan iil yang dalam bahasa arab artinya shafwatullah (kekasih Allah). Ada juga yang mengatakan israa dalam bahasa arab artinya ‘abdun (hamba), sedangkan iil artinya Allah, sehingga Israil dalam bahasa arab artinya ‘Abdullah (hamba Allah). (lihat Tafsir At Thabari dan Al Kasyaf ketika menjelaskan tafsir surat Al-Baqarah ayat 40)

Telah diketahui bersama bahwa Nabi Ya’qub adalah seorang nabi yang memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah ta’ala. Allah banyak memujinya di berbagai ayat al Qur’an. Jika kita mengetahui hal ini, maka dengan alasan apa nama Israil yang mulia disematkan kepada orang-orang yahudi terlaknat. Terlebih lagi ketika umat islam menggunakan nama ini dalam konteks kalimat yang negatif, diucapkan dengan disertai perasaan kebencian yang memuncak; Biadab Israil… dll… Atau dimuat di majalah-majalah dan media massa yang dinisbahkan pada islam, bahkan dijadikan sebagai Headline News; Israil membantai kaum muslimin… Agresi militer Israil ke Palestina… Israil penjajah dunia…. Dan seterusnya… namun sekali lagi, yang sangat fatal adalah ketika hal ini diucapkan tidak ada pengingkaran atau bahkan tidak merasa bersalah.

Mungkin perlu kita renungkan, pernahkah orang yang mengucapkan kalimat-kalimat di atas merasa bahwa dirinya telah menghina Nabi Ya’qub ‘alaihis salam? Pernahkah orang-orang yang menulis kalimat ini di majalah-majalah yang berlabel Islam dan mengajak kaum muslimin untuk mengobarkan jihad, merasa bahwa dirinya telah membuat tuduhan dusta kepada Nabi Ya’qub ‘alaihis salam? Mengapa mereka tidak membayangkan bahwasanya bisa jadi ungkapan-ungkapan salah kaprah ini akan mendatangkan murka Allah – wal ‘iyaadzu billaah – karena isinya adalah pelecehan dan tuduhan bohong kepada Nabi Ya’qub ‘alaihis salam. Mengapa tidak disadari bahwa Nabi Ya’qub ‘alaihis salam tidak ikut serta dalam perbuatan orang-orang yahudi dan bahkan beliau berlepas diri dari perbuatan mereka yang keparat. Pernahkah mereka berfikir, apakah Nabi Israil ‘alaihis salam ridha andaikan beliau masih hidup?

Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al Ahzab: 58)

Allah menyatakan, menyakiti orang mukmin biasa laki-laki maupun wanita sementara yang disakiti tidak melakukan kesalahan dianggap sebagai perbuatan dosa, bagaimana lagi jika yang disakiti adalah seorang Nabi yang mulia, tentu bisa dipastikan dosanya lebih besar dari pada sekedar menyakiti orang mukmin biasa.

Satu hal yang perlu disadari oleh setiap muslim, penamaan negeri yahudi dengan Israil termasuk salah satu di antara sekian banyak konspirasi (makar) Yahudi terhadap dunia. Mereka tutupi kehinaan nama asli mereka YAHUDI dengan nama Bapak mereka yang mulia Nabi Israil ‘alaihis salam. Karena bisa jadi mereka sadar bahwa nama YAHUDI telah disepakati jeleknya oleh seluruh dunia, mengingat Allah telah mencela nama ini dalam banyak ayat di Al-Qur’an.

Kita tidak mengingkari bahwa orang-orang Yahudi merupakan keturunan Nabi Israil ‘alaihis salam, akan tetapi ini bukan berarti diperbolehkan menamakan yahudi dengan nama yang mulia ini. Bahkan yang berhak menyandang nama dan warisan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan para nabi yang lainnya adalah kaum muslimin dan bukan Yahudi yang kafir. Allah ta’ala berfirman:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali-Imran: 67)

إن أولى الناس بإبراهيم للذين اتبعوه وهذا النبي والذين آمنوا والله ولي المؤمنين

“Sesungguhnya orang yang paling berhak terhadap Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini, beserta orang-orang yang beriman, dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 68)

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita dan seluruh kaum muslimin untuk mengucapkan dan melakukan perbuatan yang dicintai dan di ridai oleh Allah ta’ala.

* * *
“Sedikitpun kami tidak berniat menghina Nabi Ya’qub ‘alaihis salam dalam penggunaan kalimat-kalimat ini sebaliknya, yang kami maksud adalah yahudi…”

Barangkali ini salah satu pertanyaan yang akan dilontarkan oleh sebagian kaum muslimin ketika menerima nasihat ini. Maka jawaban singkat yang mungkin bisa kita berikan: Justru inilah yang berbahaya, seseorang melakukan sesuatu yang salah namun dia tidak sadar kalau dirinya sedang melakukan kesalahan. Bisa jadi hal ini tercakup dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas. Bukankah semua pelaku perbuatan bid’ah tidak berniat buruk ketika melakukan kebid’ahannya, namun justru inilah yang menyebabkan dosa perbuatan bid’ah tingkatannya lebih besar dari melakukan dosa besar.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah di Mekkah, Orang-orang musyrikin Quraisy mengganti nama Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Mudzammam (manusia tercela) sebagai kebalikan dari nama asli Beliau Muhammad (manusia terpuji). Mereka gunakan nama Mudzammam ini untuk menghina dan melaknat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. misalnya mereka mengatakan; “terlaknat Mudzammam”, “terkutuk Mudzammam”, dan seterusnya. Dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak merasa dicela dan dilaknat, karena yang dicela dan dilaknat orang-orang kafir adalah “Mudzammam” bukan “Muhammad”, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ألا تعجبون كيف يصرف الله عني شتم قريش ولعنهم يشتمون مذمماً ويلعنون مذمماً وأنا محمد

“Tidakkah kalian heran, bagaimana Allah mengalihkan dariku celaan dan laknat orang Quraisy kepadaku, mereka mencela dan melaknat Mudzammam sedangkan aku Muhammad.” (HR. Ahmad & Al Bukhari)

Meskipun maksud orang Quraisy adalah mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun karena yang digunakan bukan nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Beliau tidak menilai itu sebagai penghinaan untuknya. Dan ini dinilai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk mengalihkan penghinaan terhadap dirinya. Oleh karena itu, bisa jadi orang-orang Yahudi tidak merasa terhina dan dijelek-jelekkan karena yang dicela bukan nama mereka namun nama Nabi Ya’qub ‘alaihis salam.

Di samping itu, Allah juga melarang seseorang mengucapkan sesuatu yang menjadi pemicu munculnya sesuatu yang haram. Allah melarang kaum muslimin untuk menghina sesembahan orang-orang musyrikin, karena akan menyebabkan mereka membalas penghinaan ini dengan menghina Allah ta’ala. Allah berfirman:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa ilmu.” (QS. Al An’am: 108)

Allah ta’ala melarang kaum muslimin yang hukum asalnya boleh atau bahkan disyari’atkan –menghina sesembahan orang musyrik– karena bisa menjadi sebab orang musyrik menghina Allah subhanahu wa ta’ala. Dan kita yakin dengan seyakin-yakinnya, tidak mungkin para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang menyaksikan turunnya ayat ini memiliki niatan sedikitpun untuk menghina Allah ta’ala. Maka bisa kita bayangkan, jika ucapan yang menjadi sebab celaan terhadap kebenaran secara tidak langsung saja dilarang, bagaimana lagi jika celaan itu keluar langsung dari mulut kaum muslimin meskipun mereka tidak berniat untuk menghina Nabi Israil ‘alaihis salam.

* * *
Cuma sebatas istilah, yang pentingkan esensinya… bahkan para ulama’ memiliki kaidah “Tidak perlu memperdebatkan istilah.” Di atas telah dipaparkan bahwa menamakan negeri yahudi dengan Israil merupakan celaan terhadap Nabi Israil ‘alaihis salam, baik langsung maupun tidak langsung, baik diniatkan untuk mencela maupun tidak, semuanya dihitung mencela Nabi Israil ‘alaihis salam tanpa terkecuali. Dan kaum muslimin yang sejati selayaknya tidak meremehkan setiap perbuatan dosa atau perbuatan yang mengundang dosa. 

Karena dengan meremahkannya akan menyebabkan perbuatan yang mungkin nilainya kecil menjadi besar. Sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ulama bahwa di antara salah satu penyebab dosa kecil menjadi dosa besar adalah ketika pelakunya meremehkan dosa kecil tersebut.

Bahkan kita telah memahami bahwa mencela, menghina, melakukan tuduhan dusta kepada seorang Nabi adalah dosa besar. Akankah hal ini kita anggap ini biasa? Sekali lagi, akan sangat membahayakan bagi seseorang, ketika dia mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan murka Allah, sementara dia tidak sadar. Mereka sangka itu perkara ringan, padahal itu perkara besar bagi Allah. (QS. An-Nur: 15)

Untuk kaidah “Tidak perlu memperdebatkan istilah”, kita tidak mengingkari keabsahan kaidah ini mengingat ungkapan tersebut merupakan kaidah yang masyhur di kalangan para ulama’. Akan tetapi maksud kaidah ini tidaklah melegalkan penamaan Yahudi dengan Israel. Karena kaidah ini berlaku ketika makna istilah tersebut sudah diketahui tidak menyimpang, sebagaimana yang dipaparkan oleh Abu Hamid Al Ghazali dalam bukunya Al Mustashfaa fi Ilmil Ushul.

Istilah Israil untuk negeri yahudi telah menjadi konsensus (kesepakatan) dunia. Kita cuma ikut-ikutan…
Setiap kaum muslimin selayaknya berusaha menjaga syi’ar-syi’ar islam, misalnya dengan belajar bahasa arab (baik lisan maupun tulisan), menghafalkan Al Qur’an, dan termasuk dalam hal ini adalah membiasakan diri untuk menggunakan istilah-istilah yang Allah gunakan dalam Al Qur’an atau dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama istilah tersebut dapat dipahami orang lain. Sebagai bentuk pemeliharaan terhadap syi’ar islam, para sahabat terutama Umar Ibn Al Khattab radhiyallahu ‘anhu sangat menekankan agar umat islam mempelajari bahasa arab. Beliau pernah mengatakan: “Pelajarilah bahasa arab, karena itu bagian dari agama kalian.” 

Beliau juga mengatakan: “Hati-hati kalian dengan bahasa selain bahasa arab.” Umar radhiyallahu ‘anhu membenci kaum muslimin membiasakan diri dengan berbicara selain bahasa arab tanpa ada kebutuhan, dan ini juga yang dipahami oleh para sahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum. Mereka (para sahabat radhiyallahu ‘anhum) menganggap bahasa arab sebagai konsekuensi agama, sedangkan bahasa yang lainnya termasuk syi’ar kemunafikan. Karena itu, ketika para sahabat berhasil menaklukkan satu negeri tertentu, mereka segera mengajarkan bahasa arab kepada penduduknya meskipun penuh dengan kesulitan. (lihat Muqaddimah Iqtidla’ Shirathal Mustaqim, Syaikh Nashir al ‘Aql)

Dalam bahasa arab, waktu sepertiga malam yang awal dinamakan ‘atamah. Orang-orang arab badui di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kebiasaan menamai shalat Isya’ dengan nama waktu pelaksanaan shalat isya’ yaitu ‘atamah. Kebiasaan ini kemudian diikuti oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum dengan menamakan shalat isya’ dengan shalat ‘atamah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka melalui sabdanya:

لا يغلبنكم الأعراب على اسم صلاتكم فإنها العشاء إنما يدعونها العتمة لإعتامهم بالإبل لحلابها

“Janganlah kalian ikut-ikutan orang arab badui dalam menamai shalat kalian, sesungguhnya dia adalah shalat Isya’, sedangkan orang badui menamai shalat isya dengan ‘atamah karena mereka mengakhirkan memerah susu unta sampai waktu malam.” (HR. Ahmad, dinyatakan Syaikh Al-Arnauth sanadnya sesuai dengan syarat Muslim)

Al-Quthuby mengatakan: “Agar nama shalat isya’ tidak diganti dengan nama selain yang Allah berikan, dan ini adalah bimbingan untuk memilih istilah yang lebih utama bukan karena haram digunakan dan tidak pula menunjukkan bahwa penggunaan istilah ‘atamah tidak diperbolehkan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menggunakan istilah ini dalam hadisnya…” (‘Umdatul Qori Syarh Shahih Al-Bukhari karya Al-‘Aini)

Demikianlah yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dalam menjaga syi’ar islam. Sampai menjaga istilah-istilah yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal penggunaan istilah asing dalam penamaan shalat isya’ tidak sampai derajat haram, karena tidak mengandung makna yang buruk.

***
Lalu dengan apa kita menamai mereka? Kita menamai mereka sebagaimana nama yang Allah berikan dalam Al-Qur’an, YAHUDI dan bukan ISRAEL. Dan sebagaimana disampaikan di atas, hendaknya setiap muslim membiasakan diri dalam menamakan sesuatu sesuai dengan yang Allah berikan. Hendaknya kita namakan orang-orang yang mengaku pengikut Nabi Isa ‘alahis salam dengan NASRANI bukan KRISTIANI, kita namakan hari MINGGU dengan AHAD bukan MINGGU, kita namakan shalat dengan SHALAT bukan SEMBAHYANG dan seterusnya selama itu bisa dipahami oleh orang yang diajak bicara, sebagai bentuk penghormatan kita terhadap syi’ar-syi’ar agama islam. 

Wallaahu waliyyut taufiiq…

***
(Sumber: www.muslim.or.id dengan sedikit penyuntingan tanpa mengubah isi makna)

------- oOo --------

Ya, kurang lebih itulah pembahasan terkait nama negara "Israel" yang kita kenal selama ini. Artikel tersebut ditulis oleh Ammi Nur Baits. Jika dari pribadi saya sendiri, sebenarnya saya baru mendengar Istilah ada negara yang bernama "Israel" kurang lebih menjelang kelas 3 MTs. Waktu mendengar pertama kali ada sebuah negara bernama "Israel"  saya juga agak pikir-pikir seperti ini :

"Bukannya Israel itu salah satu bani dari kalangan Nabi ya? Nabi yang terpuji. Dan sering disebutkan dalam Al-Qur'an? Tapi kenapa "Israel" yang satu ini beda (melakukan penjajahan kepada Palestina yang didiami ummat Islam, dll)?"

Perasaan itu ada sampai saat ini. Dan alhamdulillah saya mendapatkan ilmu yang bisa menguatkan terkait bagaimana kita sebagai ummat Islam menyikapinya. Mungkin bagi anda yang suka nasyheed, jarang atau tidak pernah kan mendengar lirik mengecam "Israel"? Ada yang pernah mendengar "Israel la'natullah"? Yang ada "Yahudi la'natullah". 

Menurut saya, inilah 'cerdik' nya orang Yahudi. Mereka yang sejak awal mencaplok tanah Palestina tak lama setelah Indonesia merdeka ini secara sengaja menamakan negara mereka dengan negara "Israel" supaya jika dunia (termasuk negara Islam) mengecam tindakan mereka terhadap Palestina, seolah-olah dunia mengecam Nabi Nabi Ya’qub ‘alaihis salam. Khusus untuk ummat Islam, berarti telah mencela Nabi kita sendiri. Ya, inilah salah satu bentuk makar, salah satu bentuk konspirasi diantara sekian banyak konspirasi yang ditujukan kepada Islam. Lagi pula, tidak semua warga yang tinggal di "Israel" adalah orang Yahudi, ada sebagian kecil dari mereka yang beragama Islam, saking kecilnya, saking minoritasnya, mereka tidak terlihat gerak-geriknya.

Jadi, sekali lagi ini adalah makar, konspirasi, trik, taktik, oleh pihak-pihak yang tidak suka dengan Islam. Ingat..! Istilah Israil untuk negeri Yahudi telah menjadi konsensus (kesepakatan) dunia. Kongklusinya, niat kita baik, jangan sampai kita terus terpedaya dengan makar ini, sekiranya tidak susah jika kita mulai membiasakan diri dengan menyebut wilayah yang dulu sempat dipimpin A.Sharon itu dengan Negara Yahudi, bukan Israel. Karena sekali lagi, YAHUDI BUKAN ISRAEL.

#SaveGaza #SavePalestine

Hitam-Putih Hari Kebangkitan Nasional

Selama ini kita mendengar bahwa setiap tanggal 20 Mei, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Adapun jika kita melihat sejarah yang selama ini kita ketahui di pelajaran SD/SMP bahwa latarbelakang ditetapkannya tanggal 20 Mei sebagai Harkitnas bertepatan dengan tanggal berdirinya Boedi Oetomo (BO).

Namun, tahukah kita, terdapat "Hitam-Putih" dibalik Harkitnas ini? Untuk mengetahui secara lebih mendalam, coba baca artikel berikut :

Tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional didasarkan atas peristiwa berdirinya Boedi Oetomo. Boedi Oetomo didirikan oleh para mahasiswa STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen) pada tanggal 20 Mei 1908. Organisasi ini diketuai oleh Dr. Soetomo. STOVIA didirikan pada 1902, sebagai perubahan dari Sekolah Dokter Djawa. lama studinya adalah tiga tahun. Siswa STOVIA berasal dari Sekolah Dasar Bumiputera-Inlandsche school yang lama sekolahnya lima tahun (Soemarsono Mestoko, 1986, Pendidikan di Indonesia dari Jaman ke Jaman).

Sistem pendidikan yang dianut dalam BO (Boedi Oetomo) sendiri adalah adopsi pendidikan Barat. BO sendiri sangat kooperatif dengan pemerintah Kolonial, hal ini karena para pemimpinya digaji oleh pemerintah Belanda.

Dalam rapat-rapat perkumpulan, Boedi Oetomo menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. “Tidak pernah sekalipun rapat Boedi Oetomo membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka.

BO tidak memiliki andil sedikit pun unuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935.

Sebuah majalah yang diterbitkan oleh kelompok Theosofi bernama Majalah Pewarta Theosofie Boeat Indonesia Tahun 1930 menyebut Candi Borobudur sebagai “Baitullah di Tanah Java”. Theosofi menganggap, antara ke Baitullah di Makkah dan Baitullah di Tanah Java sama saja nilainya. Majalah Bangoen yang dikelola oleh aktivis Theosofi, Siti Soemandari, juga pernah memuat pelecehan terhadap istri-istri Rasulullah dan syariat poligami. Selain itu, sebuah surat kabar bernama Djawi Hisworo yang dikelola oleh para penganut kebatinan Theosofi juga melakukan pelecehan terhadap pribadi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Pada 8 dan 11 Januari 1918, Djawi Hisworo yang dipimpin oleh Marthodarshono memuat artikel yang menyebut Nabi Muhammad sebagai pemabuk dan pemadat. 

“Suara Umum”, sebuah media massa milik Boedi Oetomo di bawah asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam Majalah “Al-Lisan” terdapat tulisan yang antara lain berbunyi, “Digul lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah Ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” (Al-Lisan nomor 24, 1938).

Tanggal 20 Mei Negara Republik Indonesia memperingatinya sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Namun sebenarnya penentuan tanggal ini meninggalkan permasalahan yang besar dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam menegakkan kemerdekaannya. Tidak banyak diungkap secara lebih lengkap  dalam buku-buku pendidikan sejarah di sekolah bahwa sebenarnya penentuan tanggal 20 Mei yang didasarkan atas peristiwa berdirinya Boedi Oetomo meninggalkan banyak masalah, khususnya bagi umat Islam di Indonesia. Permasalahan itu antara lain :

Boedi Oetomo adalah organisasi yang bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan organisasi yang bersifat kebangsaan. Tujuan Boedi Oetomo didirikan adalah  untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis. Sistem pendidikan yang dianut dalam BO sendiri adalah adopsi pendidikan Barat. BO sendiri sangat kooperatif dengan pemerintah Kolonial, hal ini karena para pemimpinya digaji oleh pemerintah Belanda.

KH Firdaus AN (Mantan Majelis Syuro Syarikat Islam) mengungkapkan “…Boedi Oetomo adalah organsasi sempit, lokal dan etnis, dimana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya”. Selain itu dalam rapat-rapat perkumpulan, Boedi Oetomo menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. “Tidak pernah sekalipun rapat Boedi Oetomo membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki nasib golongannya sendiri”. KH Firdaus AN juga mengatakan “BO tidak memiliki andil sedikit pun unuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935.”

Asvi Marwan Adam, sejarawan LIPI menilai penetapan tanggal lahir BO sebagai Hari Kebangkitan Nasional tidak layak. Hal ini karena BO tidak bisa disebut sebagai pelopor kebangkitan nasional. Menurutnya, BO bersifat kedaerahan sempit. “Hanya meliputi Jawa dan Madura saja”. Boedi Oetomo yang oleh banyak orang dipercaya sebagai simbol kebangkitan nasional, pada dasarnya merupakan lembaga yang mengutamakan kebudayaan dan pendidikan, dan jarang memainkan peran politik yang aktif. Padahal politik adalah pilar utama sebuah kebangkitan.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh peneliti Robert van Niels yang mengatakan, “Tanggal berdirinya Budi Utomo sering disebut sebagai Hari Pergerakan Nasional atau Kebangkitan Nasional. Keduanya keliru, karena Budi Utomo hanya memajukan satu kelompok saja. Sedangkan kebangkitan Indonesia sudah dari dulu terjadi…Orang-orang Budi Utomo sangat erat dengan cara berpikir barat. Bagi dunia luar, organisasi Budi Utomo menunjukkan wajah barat.”

Para tokoh BO adalah pengikut Theosofi, anggota Freemasonry dan Melecehkan Islam (?)

Penggagas organisasi BO, dr Wahidin Soediro Hoesodo adalah anggota Theosofi, sebuah perkumpulan kebatinan yang berlandaskan pada tradisi Kabbalah Yahudi yang didirikan oleh Helena Petrovna Blavatsky. Theosofi-Freemason tidak mempercayai adanya ritual doa kepada Sang Maha Pencipta. Mereka juga tak mempercayai adanya surga dan neraka. Anggota Theosofi yang mengaku muslim, membuat penafsiran ajaran Islam dengan pemahaman yang menyimpang. Theosofi tidak percaya dengan doa, dan tidak melakukan doa. Theosofi mempercayai “doa kemauan” yang ditujukan kepada Bapak di sorga dalam artian esoteris, yaitu Tuhan yang tidak ada sangkut pautnya dengan bayangan manusia, atau Tuhan yang menjadi intisari ilahiah yang dimiliki semua agama. Berdoa, kata Blavatsky mengandung dua unsur negatif: Pertama, membunuh sifat percaya diri manusia yang ada dalam diri manusia sendiri. Kedua, mengembangkan sifat mementingkan diri sendiri. Sebuah majalah yang diterbitkan oleh kelompok Theosofi bernama Majalah Pewarta Theosofie Boeat Indonesia Tahun 1930 menyebut Candi Borobudur sebagai “Baitullah di Tanah Java”. Theosofi menganggap, antara ke Baitullah di Makkah dan Baitullah di Tanah Java sama saja nilainya. Majalah Bangoenyang dikelola oleh aktivis Theosofi, Siti Soemandari, juga pernah memuat pelecehan terhadap istri-istri Rasulullah dan syariat poligami. Selain itu, sebuah surat kabar bernama Djawi Hisworo yang dikelola oleh para penganut kebatinan Theosofi juga melakukan pelecehan terhadap pribadi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Pada 8 dan 11 Januari 1918, Djawi Hisworo yang dipimpin oleh Marthodarshono memuat artikel yang menyebut Nabi Muhammad sebagai pemabuk dan pemadat.

Tokoh utama BO adalah Dokter Soetomo.  Dalam buku “Kenang-kenangan Dokter Soetomo” yang dihimpun oleh Paul W van der Veur, disebutkan bahwa Soetomo pernah mengatakan bahwa pemancaran zat Tuhan, “Itulah sebenarnya keyakinan saya. Itulah keyakinan yang mengalir bersama darah dalam segala urat tubuh saya. Sungguh, sesuai-sesuai benar.” (hal. 30). Soetomo juga mengatakan, “Aku dan Dia satu dalam hakikat, yakni penjelmaan Tuhan. Aku penjelmaan Tuhan yang sadar…” (hal.31). Ini menunjukkan Dokter Soetomo seorang penganut  paham sesat “Manunggaling Kawula Gusti” buatan Syech Siti Jenar. Dokter Soetomo juga seorang penganut Theosofi, sebagaimana pengikut aliran theosofi lainnya, maka dia tidak melakukan shalat lima waktu selayaknya umat Islam lainnya, melainkan melakukan semedi, meditasi, yoga, dan sebagainya. “Soetomo lebih mementingkan “semedi” untuk mendapat ketenangan hidup, ketimbang sholat. Dengan rasa bangga, saat berpidato dalam Kongres Partai Indonesia Raya (Parindra) pada 1937, Soetomo mengatakan,”Kita harus mengambil contoh dari bangsa-bangsa Jahudi, jang menghidupkan kembali bahasa Ibrani. Sedang bangsa Turki dan Tsjech kembali menghormati bangsanya sendiri.”

Tokoh Boedi Oetomo lainnya, dr Tjipto Mangoenkoesomo, juga dengan sinis meminta agar bangsa ini mewaspadai bahaya “Pan-Islamisme”, yaitu bahaya persatuan Islam yang membentang di berbagai belahan dunia, dengan sistem dan pemerintahan Islam di bawah khilafah Islamiyah. Pada 1928, Tjipto Mangoenkoesoemo menulis surat kepada Soekarno yang isinya mengingatkan kaum muda untuk berhati-hati akan bahaya Pan-Islamisme yang menjadi agenda tersembunyi Haji Agus Salim dan HOS Tjokroaminoto.

Goenawan Mangoenkoesoemo, juga melontarkan pernyataan yang melecehkan Islam. Adik dari dr. Tjipto Mangoekoesomo ini mengatakan, “Dalam banyak hal, agama Islam bahkan kurang akrab dan kurang ramah hingga sering nampak bermusuhan dengan tabiat kebiasaan kita. Pertama-tama ini terbukti dari larangan untuk menyalin Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Rakyat Jawa biasa sekali mungkin memandang itu biasa. Tetapi seorang nasionalis yang berpikir, merasakan hal itu sebagai hinaan yang sangat rendah.

Dalam buku yang sama, masih dengan nada melecehkan, Goenawan menulis, “Jika kita berlutut dan bersembahyang, maka bahasa yang boleh dipakai adalah bahasanya bangsa Arab…” ”Bagaimanapun tinggi nilai kebudayaan Islam, ternyata kebudayaan itu tidak mampu menembus hati rakyat. Bapak penghulu boleh saja supaya kita mengucap syahadat: “Hanya ada satu Allah dan Muhammad-lah Nabi-Nya”, tetapi dia tidak akan bisa berbuat apa-apa bila cara hidup kita, jalan pikiran kita, masih tetap seperti sewaktu kekuasaan Majapahit dihancurkan secara kasar oleh Demak.”

Salah satu pimpinan BO yaitu Dr. Radjiman Wediodiningrat dengan bangga mengatakan, bakat dan kemampuan orang Jawa yang ada pada para aktivis Boedi Oetomo lebih unggul ketimbang ajaran Islam yang dianut oleh para aktivis Sarekat Islam. Pada kongres Boedi Oetomo tahun 1917, ketika umat Islam yang aktif di Boedi Oetomo meminta agar organisasi ini memperhatikan aspirasi umat Islam, Radjiman dengan tegas menolaknya. Radjiman mengatakan, “Sama sekali tidak bisa dipastikan bahwa orang Jawa di Jawa Tengah sungguh-sungguh dan sepenuhnya menganut agama Islam.” Radjiman yang merupakan ketua BO 1914-1915 adalah anggota Freemasonry dan perhimpunan Theosofi. Beberapa pimpinan BO adalah anggota Freemasonry antara lain : Raden T. Tirtokusumo (Ketua BO pertama), Bupati Karanganyar kemudian  Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam (Ketua BO yang kedua).

Tokoh yang lain bernama Noto Soeroto, salah seorang tokoh Boedi Oetomo, di dalam satu pidatonya tentang Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereninging berkata: “Agama islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya…sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan.”

Ada fakta lain yang lebih mencengangkan, dalam sebuah artikel di “Suara Umum”, sebuah media massa milik Boedi Oetomo dibawah asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam Majalah “Al-Lisan” terdapat tulisan yang antara lain berbunyi,“Digul lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” (Al-Lisan nomor 24, 1938).

Kenapa bukan tanggal 16 Oktober sebagai Hari Kebangkitan Nasional?

Tanggal 16 Oktober 1905 adalah tanggal berdirinya Sarekat Islam. SI merupakan kawah candradimuka berbagai pemikir Indonesia kelas dunia. Sebutlah H.O.S Tjokroaminoto, Agus Salim, Soekarno sampai dengan Tan Malaka, Muso dan Semaun. Tokoh-tokoh ini memiliki andil besar dalam kemerdekaan bangsa Indonesia. SI tidak membatasi keanggotaannya hanya untuk masyarakat Jawa dan Madura saja. Hal ini terlihat pada susunan para pemimpinnya, Haji Samanhudi dan HOS Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumater Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku. Tujuan SI adalah membangun persaudaraan, persahabatan dan tolong-menolong di antara muslim dan mengembangkan perekonomian rakyat. Keanggotaan SI terbuka untuk semua lapisan masyarakat muslim. Walaupun organisasi ini berlabel agama, dimana selain kaum muslimin tidak boleh menjadi anggota, bukan berarti SI tidak peka terhadap perbedaan. Alasan menggunakan label Islam, karena hanya itulah harta yang tersisa, selebihnya telah dirampas Belanda. SI berhasil membuka 181 cabang di seluruh Indonesia. Jumlah anggota kurang lebih 700.000 orang. Tahun 1919 melonjak drastis hingga mencapai 2 juta orang. Sebuah angka yang fantastis kala itu. Jika dibandingkan dengan BO pada masa keemasannya saja hanya beranggotan tak lebih dari 10.000 orang. Sejarawan Fred R. von der Mehden (1957: 34) dengan tegas mengatakan bahwa SI-lah organisasi politik nasional pertama di Indonesia.

Pada Kongres Mubaligh Islam Indonesia di Medan (1956), umat Islam mengusulkan kepada pemerintah untuk menjadikan tanggal berdirinya SDI sebagai Harkitnas berdasarkan karakter dan arah perjuangan SDI. Namun sangat disayangkan, seruan ini tidak didengar pemerintah, bahkan sampai saat ini. Pelurusan sejarah mengenai kebangkitan Indonesia nampaknya perlu dilakukan, sangat disayangkan kalau peran umat terbesar di negeri ini dihilangkan begitu saja. (Dikumpulkan dari berbagai sumber).

Dari saya sendiri, sebenarnya informasi ini tidak hanya saya dapatkan pada saat saya hendak menulis artikel ini, melainkan sudah mengetahui informasi ditahun-tahun sebelumnya. Kenapa saya men-share artikel ini juga bukan untuk membuat saudara-saudara pusing ke sana-sini, melainkan hanya ingin berbagi pengetahuan tentang "sejarah" yang benar. Toh apapun moment yang seperti Harkitnas ini mengimplementasikan supaya bangsa ini tergerak untuk bersemangat dalam memajukan NKRI, tidak hanya dilakukan pada bulan Mei, (bulan yang katanya paling banyak libur nasionalnya). Setiap saat pun sebenarnya bisa. Begitu pula untuk moment-moment lainnya seperti saling memaafkan yang selalu identik saat Hari Raya Idul Fitri, sebenarnya juga bisa kita menjadikan setiap hari yang kita lalui untuk saling memaafkan, dan sebagainya.

(AK21/@AjiiKurniawan)

Penemu Pesawat Terbang Pertama Sebenarnya


Wright Bersaudara selama ini dikenal oleh dunia sebagai penemu atau yang pertama menerbangkan pesawat terbang. Tapi tau kah anda siapa sebenarnya yang mempunyai konsep terbang pertama?

Bicara soal dunia penerbangan, tak pernah lepas dari tokoh-tokoh semacam Sir George Cayley, Otto Lilienthal, Santos-Dumont dan Wright Bersaudara. Merekalah yang dikenal berjasa merintis dunia penerbangan hingga menjelma menjadi industri modern seperti sekarang ini. Tapi apakah anda tahu bahwa peletak dasar konsep pesawat terbang pertama adalah seorang ilmuwan Muslim dari Spanyol, Abbas Ibnu Firnas. Dialah orang pertama dalam sejarah yang melakukan pendekatan sains dalam mempelajari proses terbang. Ibnu Firnas pun layak disebut sebagai manusia pertama yang terbang, ribuan tahun sebelum Wright Bersaudara berhasil melakukannya. 

Abbas Qasim Ibnu Firnas (di Barat dikenal dengan nama Armen Firman) dilahirkan pada tahun 810 Masehi di Izn-Rand Onda, Al-Andalus (kini Ronda, Spanyol). Dia dikenal ahli dalam berbagai disiplin ilmu, selain seorang ahli kimia, ia juga seorang humanis, penemu, musisi, ahli ilmu alam, penulis puisi, dan seorang penggiat teknologi. Pria keturunan Maroko ini hidup pada saat pemerintahan Khalifah Umayyah di Andalusia (Spanyol). 

Pada tahun 852, di bawah pemerintahan Khalifah Abdul Rahman II, Ibnu Firnas memutuskan untuk melakukan ujicoba ‘terbang’ dari menara Masjid Mezquita di Cordoba dengan menggunakan semacam sayap dari jubah yang disangga kayu. Sayap buatan itu ternyata membuatnya melayang sebentar di udara dan memperlambat jatuhnya, ia pun berhasil mendarat walau dengan cedera ringan. Alat yang digunakan Ibnu Firnas inilah yang kemudian dikenal sebagai parasut pertama di dunia. 

Keberhasilannya itu tak lantas membuatnya berpuas diri. Dia kembali melakukan serangkaian penelitian dan pengembangan konsep serta teori yang ia adopsi dari gejala-gejala alam yang kerap diperhatikannya.