• The Class of 2013

    (Ki-ka) Atas: May, Dania, Ulin, Arin, Rina ; Tengah: Rafiq, Bekti, Fikri, Bayu, Me ; Bawah: Hendra, Akbar

  • PH AB FPIK Undip 2013

    (Ki-ka) Atas: Hendra, Fikri, Akbar, Me, Rafiq ; Tengah: Bekti, Arin, May, Rina, Bayu ; Bawah: Dania, Ulin

  • Keluarga Besar DW Pak Ibnu

    (Ki-ka) Atas: Aufa, Apink, Harya, Yudha, Dimdut, Dimcil ; Tengah: Nadya, Mu'adz, Me, Pak Ibnu, Arin, Isna, Iif ; Bawah: Diana, Ine, Kamto, Nia, Susi

  • BEM FPIK Undip

    Cukup nama yang 'eksekutif', namun pengurusnya bukan orang "eksklusif" (karena BEM juga manusia biasa)

  • Kesejahteraan Mahasiswa (Kesma)

    Sejahtera mahasiswa itu ada 2, yaitu sejahtera dari biaya kuliah (tidak memberatkan) dan sejahtera dari nilai akademis (IPK bagus)

  • INSANI 2014

    Karena persaudaraan itu indah...

  • #SalamEKSIS

    INSANI Media Center (IMC) 2014............. (Ki-ka) Atas: Wildan, Me, Fauzan ; Tengah: Hana, April, Diana ; Bawah: Khikmah, Marlia ; Hidden: Reni, Elita, Hanum

  • SEMNAS FARMASea

    What Should Marine Scientist do for Industries?

  • #YukSenyum

    Karena Senyum adalah shodaqoh yang paling mudah

  • #MelanglangBuana

    at BPOL (Balai Penelitian dan Observasi Laut)

  • #MelanglangBuana

    at SEACORM BENCHMARK, Jembrana, Bali

  • Di Nusa Dua, Bali

    Sayang nggak bisa mampir ke acara APEC 2013 kemarin

Showing posts with label Diary. Show all posts

Jangan Katakan Cinta Sebelum Akad




Ilmu ini aku dapatkan saat masih menjadi mahasiswa program Sarjana S1 di Kampus Undip Semarang, sebelum aku lulus dan wisuda di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) tahun 2017 kemarin.
Saat itu, di sela mengurus urusan kuliah, aku mengikuti sebuah seminar pra-nikah yang digelar mahasiswa Pascasarjana S2 program Magister di sebuah hotel berbintang di Semarang. Aku masih ingat tanggalnya, yakni 20 September 2015.
Gratis, alhamdulillah. Di saat yang lain bayar aku nggak bayar. Karena aku datang tak sekedar datang sebagai peserta. Melainkan ada pekerjaan khusus saat itu.
Ada pesan penting yang ku dapatkan dari seminar tersebut yang sampai sekarang masih ku ingat, "Jangan Katakan Cinta Sebelum Akad."
Dari susunan kata sekilas terlihat simpel. Tapi jika dimaknai lebih mendalam maksudnya, ada pesan penting yang terkandung, khususnya bagi yang ingin segera menikah.
"Jangan Katakan Cinta," menjadi kalimat imbauan. "Sebelum Akad," sampai setelah akad dilakukan atau benar-benar terjadi.
Akad nikah adalah tanda sahnya seseorang menjadi pasangan suami istri karena telah melakukan ijab qobul.
Jadi sebelum terjadinya akad, seseorang hendaknya tidak mengucapkan kalimat cinta kepada calon yang akan menjadi pasangannya.
Sekalipun keduanya sudah sepakat akan menikah, sudah lamaran ke calon mertuanya, bahkan di saat momen pernikahan pun, jika ijab qobul belum dilakukan, kalimat cinta jangan sampai keluar dari lisan.
Lantas, apakah hanya kalimat cinta yang hendaknya tak diucapkan? Tidak. Tak hanya itu dan tak sesimpel itu. Pahami lagi maksud tujuan pesan tadi.
Imbauan tidak mengucapkan cinta sebelum akad bertujuan menjaga marwah agar calon mempelai tak larut dalam perasaan "seolah-olah telah memilikinya" padahal belum ijab qobul dan belum sah sebagai pasangan suami istri.
Tak hanya kalimat cinta, tetapi juga semua aktivitas dan tindakan yang mengindikasikan kecintaan kepada calon pasangannya, juga harus ditahan.
Bukan karena sudah sepakat akan menikah malah sering ketemuan, janjian, komunikasi personal (chattingan/personal chatt) makin masif, atau suka jika di "cie-ciein" orang lain. Semuanya seenaknya sendiri.
Tindakan di atas justru sebuah kesalahan karena tidak bisa menjaga marwah dan kewibawaan seorang Muslim. Kenapa salah? Jelas, karena akad belum terjadi dan belum sah jadi suami-istri. Sesuatu yang belum sah kok sudah dilakukan, berarti dosa, haram.
Oleh karena itu, dalam lingkungan tarbiyah, untuk tetap menjaga marwah dan kewibawaan sebagai seorang Muslim ada solusi bagi yang ingin menikah, yakni lewat perantara murobbi/murobbiyahnya.
Murobbi/murobbiyahnya inilah yang akan bertugas menyampaikan "proposal" kepada seseorang yang disukai dan ingin dinikahi dari pihak yang mengajukan.
Maksud "proposal" tadi sebagai mahasiswa tingkat akhir kala itu, tentu sudah mengandung makna lain.
Di kalangan mahasiswa tingkat akhir atau yang mau menikah, jika mendengar kata "proposal", proposal yang dimaksud bukanlah proposal kegiatan, tapi proposal lamaran. Lebih tepatnya lamaran nikah. Isinya, biodata calon yang mengajukan lamaran.
Melalui jalan inilah marwah dan wibawa seorang Muslim tetap terjaga. Karena jika tidak diterima oleh orang yang disukainya, yang tahu hanya satu dua orang saja yang terlibat dalam pengajuan lamaran itu.
Dan alhamdulillah, kalau diterima, juga tetap dalam pengawasan dan penjagaan dari murobbi/murobbiyahnya agar tidak terlena (dan tidak melakukan kesalahan yang disebutkan sebelumnya) sampai akad benar-benar dilakukan.
"Wa laa taqrobuzzinaa..." (Dan janganlah kalian mendekati zina), ayat Alquran QS. Al Israa' ayat 32 tersebut tentu menjadi salah satu ayat terpopuler yang sudah banyak dihafal seorang Muslim. Mendekati saja nggak boleh, apalagi melakukan.
Syaikh As Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini bahwa larangan mendekati zina lebih mengena daripada melakukan zina. Karena mencakup segala hal yang menggoda, memicu, semuanya, yang dapat mengantarkan kepada perzinaan.
Makna zina pun juga luas. Tak hanya secara harfiah, karena dalam Islam ada pengertian zina mata, hati, perasaan, dan sebagainya.
Sehingga, mengatakan cinta (dan segala hal yang memicu dan mengantarkannya) kepada orang yang akan dinikahi, padahal belum akad, belum sah, seharusnya tidak dilakukan karena dapat menggoda dan menodai perjalanan menuju pernikahan.
Lantas, bagaimana jika belum akad, sudah terlanjur melakukan perbuatan tadi yang seharusnya tidak dilakukan dalam menuju pernikahan? Istighfar, luruskan lagi niat menikah untuk apa. Pahami tujuan menikah. Perbaiki dan tingkatkan ibadah. Punya komitmen dan upaya untuk memperbaiki keadaan.
Serta yang tak kalah penting, menahan segala keinginan bersama orang yang akan dinikahinya sampai benar-benar akad. Minta bantuan murobbi/murobbiyahnya agar senantiasa mendapat bimbingan.
Sampaikan kepada calon yang akan dinikahi dengan memberi pesan, "Mohon maaf, mulai sekarang kita tidak saling berinteraksi sampai benar-benar akad. Karena kita belum sah sebagai suami istri."
Maka dari itu, sebagai seorang Muslim, jika sudah sepakat akan menikah, tinggal menunggu tanggalnya, tapi kok interaksinya sama saja, adem ayem (padahal satu tempat kerja misalkan), harusnya sadar. Itulah jalan terbaik menuju pernikahan. Karena akad adalah penentu sah tidaknya menjadi suami istri, bukan ketika lamaran.
"Jangan Katakan Cinta Sebelum Akad," sungguh, menahan keinginan lebih baik daripada terlalu dini melakukan hal yang belum saatnya dilakukan.
Yakinlah, semua akan indah pada waktunya. Dan akan terasa jauh lebih nikmat, jika dilakukan pada waktu yang tepat.
Ampuni segala kesalahan kami yaa Allah. Dan dekatkanlah kepada kami jodoh, yang apabila menikahinya, akan semakin mendekatkan kami kepada-Mu yaa Robb.
Aamiin yaa robbal 'aalamiin...
(Muhasabah Diri)

S.Kel. Itu Apa?




Suasana tampak khidmat. Seluruh asatidzah yang telah datang pagi hari khusyuk berdoa sebelum memulai aktivitas.
Kami bertugas menjadi pengawas dalam kegiatan Penilaian Tengah Semester (PTS) atau yang lumrah juga disebut Ujian maupun Ulangan Tengah Semester (UTS) Semester Genap 2017/2018 hari pertama.
Usai berdoa bersama dengan dipimpin Ustadz Mahmud, sambil menunggu para santri menyiapkan barisan di lapangan, kami para guru di ruang asatidz masih punya waktu untuk bersiap-siap sebelum masuk ke ruangan UTS masing-masing.
Para guru yang mengajar di sekolah ini, memang berasal dari berbagai macam latarbelakang pendidikan sesuai dengan bidang ilmu yang dipelajari di kampus masing-masing. Ada yang ilmu agama, sosial, pengetahuan umum, dan lain-lain.
Di ruang asatidz tersebut, tersedia absensi guru yang bertugas jaga UTS lengkap dengan tulisan gelarnya. Sambil kami antre tanda tangan untuk pengambilan naskah soal & perangkat ujian, salah seorang guru, Ustadzah Risnia Dwi Atriansari, bertanya kepadaku.
"S.Kel. itu apa?" tanya ustadzah lulusan S1 Fisika Universitas Indonesia (UI) ini kepadaku.
Kenapa dari sekian banyak daftar guru yang ada di absensi hanya gelar pendidikanku yang ditanya, bagiku hal tersebut cukup beralasan. Selain unik plus bikin penasaran, dari seluruh guru yang ada di MTsT Al Hikmah Karanggede, bahkan seluruh pegawai dan karyawan yang berjumlah sekitar 100 orang di Yayasan Al Hikmah Boyolali, hanya diriku yang bergelar "S.Kel." tersebut.
Paling banyak atau yang mendominasi biasanya adalah "S.Pd.", "S.Pd.I." atau "S.Si.". Dalam dunia pendidikan di sekolah, gelar-gelar sarjana tersebut memang cukup mudah untuk ditebak apa kepanjangannya. Berbeda dengan gelar "S.Kel." yang belum lama ku dapatkan dari Universitas Diponegoro (Undip) ini. Gelar tersebut sepertinya cukup membuat orang penasaran jika baru saja mengetahui.
Kembali ke pertanyaan tadi, setelah ditanya Ustadzah Risnia, aku tak serta merta langsung menjawab. Melainkan ada yang mencoba menjawab duluan. Ustadz Bilal menebak, namun sayang masih salah.
Karena belum ada yang tahu, aku pun memberi jawabannya.
"S.Kel. itu Sarjana Kelautan," jawabku lugas.
"Oooo...." sahut pelan rekan asatidzah yang lain.
Sarjana Kelautan (S.Kel.) ku dapatkan karena aku kuliah S1 di Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip. Di jurusan ini mempelajari segala macam dunia laut. Baik flora dan fauna laut, maupun unsur biotik dan abiotiknya. Banyak pokoknya. Apalagi 2/3 bumi adalah lautan (Inilah salah satu "jurus andalan" untuk meyakinkan pentingnya belajar Kelautan)
Sambil membubuhkan tanda tangan di absensi sebelum bertugas mengawas, aku kembali berkata kepada rekan-rekan asatidzah.
"Kalau udah beristri beda lagi maknanya (S.Kel. tadi)!" tambahku.
"Apa?" tanya rekan guru lain penasaran.
"Sarjana Keluarga..." jawabku yang memang belum menikah.
Para asatidzah pun (termasuk diriku) merespon jawaban tadi sambil tersenyum.
Secara singkatan kata memang pas. Kata "Keluarga" diambil 3 huruf awal dan cocok disingkat. Di sisi lain, sehari sebelumnya kami juga menggelar Family Gathering sekeluarga besar. Sehingga masih hangat suasana kekeluargaannya.
Walau kedengarannya bercanda, sebenarnya dari diriku pribadi juga harapannya bisa sebagai motivasi. Baik agar yang 'single' segera dapat pasangan dan berkeluarga. Maupun untuk adik-adik angkatanku di kampus agar bisa segera menyelesaikan studinya dan melanjutkan ke tahap kehidupan selanjutnya.
Obrolan ringan tadi setidaknya menghangatkan suasana pagi kami para ustadz-ustadzah meski teh hangat belum tersaji. Sekaligus menambah pengetahuan tentang ilmu kesarjanaan. Sederhana penuh makna.
Tak terasa, bel telah berbunyi dan santri telah masuk ke ruangan. Kami akhirnya bertugas mengawas dan UTS resmi dilaksanakan.
Allahumma laa sahla illaa maa ja'altahu sahla. Wa anta taj'alul hazna idzaa syi'ta sahlaa. (Yaa Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan Engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah).
Selamat menjalankan Ujian Semester. Semoga diberi kelancaran dan kemudahan. Serta keberkahan selalu menyertai kita semua. Aamiin yaa robbal 'aalamiin...
Aji Kurniawan A.P., dkk
Boyolali, Senin 5 Maret 2018

Bismillah, 30 Impian Idaman Tahun 2018


30 IMPIAN IDAMAN TAHUN 2018
1. Berbakti kepada ortu diperbanyak
2. Menyelesaikan segala urusan 5x lebih cepat dari biasanya
3. Bersama teman dan sahabat belajar jadi hamba yang sholeh-sholehah
4. Membuatkan mahkota spesial untuk calon istri
5. Punya partner baru
6. Menulis dan menerbitkan buku (5 judul)
7. Membuat dan merilis film (3 judul)
8. Menerbitkan SOP Media Publikasi terbaru
9. Menjuarai minimal 5 lomba/kompetisi
10. Memberikan minimal 4 prestasi bagi PPIT Al Hikmah Boyolali
11. Membuat tayangan berbahasa Arab dan Inggris PPIT Al Hikmah Boyolali
12. Memperkenalkan kompetisi Perguruan Tinggi (PIMNAS, PMW, MTQMN, dll) kepada murid PPIT Al Hikmah Boyolali
13. Membuat inovasi baru bagi PPIT Al Hikmah Boyolali
14. Mempromosikan PPIT Al Hikmah Boyolali "Go International"
15. Bisa jalan-jalan keliling dunia (3 negara)
16. Bisa bertemu kembali dengan teman-teman semasa kuliah, di BEM, Senat, Rohis, KAMMI, INSANI TV, KUC, dll
17. Menjalin silaturahmi berkelanjutan dengan dosen dan sahabat kampus
18. Mengembangkan brand/aset semasa kuliah lebih luas lintas universitas dan provinsi berskala nasional
19. Memperbanyak menulis dan membaca buku/lembaran saat waktu senggang (mengurangi penggunaan gadget)
20. Mempersiapkan planning lanjut S2 beasiswa
21. Mendirikan komunitas baru berbasis sosial kemanusiaan di Undip
22. Mewujudkan 1 spot destinasi baru FPIK Undip bagi civitas akademika kampus dan masyarakat umum
23. Membuat usulan gagasan pembangunan Universitas Diponegoro
24. Membuat usulan gagasan pembangunan Masjid Kampus Undip
25. Membuat usulan gagasan pembangunan Tembalang
26. Membuat usulan gagasan pembangunan Semarang
27. Membuat usulan gagasan pembangunan desa di Boyolali
28. Menyusun rekapitulasi Laporan Hasil Kegiatan, Kinerja, dan pengeluaran E-RAB bulanan lebih rapi & terstruktur
29. Mentargetkan pengeluaran belanja pribadi E-RAB tidak lebih dari Rp 5 juta/tahun
30. Istiqomah mendoakan ortu, keluarga, kerabat, guru, murid, teman dan sahabat setiap hari sepanjang tahun
"Seseorang bisa sukses dan menjadi orang luar biasa karena punya mimpi yang luar biasa pula. Maka bermimpilah! Dan segera wujudkan mimpi itu menjadi impian nyata."
Ya Allah, apabila impian ini adalah yang terbaik bagiku, maka kabulkanlah. Dan jika tak tercapai, maka jadikan itu yang terbaik pula bagiku untuk kebaikanku di masa yang akan datang. Aamiin...
Bismillah - Ikhtiar - Tawakkal
Boyolali, 10 Januari 2018
Aji Kurniawan AP

Batang ‘Digoyang’ Gempa, Mahasiswa KKN Panik


Mahasiswa KKN TIM 1 Undip 2014 yang berdomisili di Kab. Batang dibuat panik lantaran gempa bumi tiba-tiba melanda daerah Pantura tersebut pada Sabtu (25/1) siang waktu setempat.

Seperti yang terjadi di Desa Donorejo, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, gempa yang dilansir BMKG berkekuatan 6.5 SR dan berpusat di Kebumen itu membuat mahasiswa Undip yang berjumlah 9 orang panik saat sedang istirahat di posko usai melaksanakan prokernya di SD dan MI Donorejo sejak pagi hari.

Saat gempa menguncang, beberapa mahasiswa tengah makan siang (termasuk penulis) diruang utama posko KKN Desa Donorejo.

Di Batang, gempa dirasakan tak lebih dari 1 menit dan tidak menimbulkan kerusakan parah. Hanya membuat warga panik dan keluar rumah.

Sesaat setelah gempa usai, beberapa mahasiswa KKN di Donorejo menghubungi rekan-rekan KKN di daerah lainnya. Tim KKN Undip yang berdomisili di Magelang, Temanggung, Kendal, Pekalongan juga merasakan hal serupa. Bahkan, rekan di Ibu Kota Jakarta dan Bandung juga merasakan getaran gempa.

SyukuriIah, Karena Ilmu Itu Tak Ternilai Harganya



Ada kalanya jika kita melewati suatu moment yang dikerjakan saat dewasa, tak jarang dengan melakukan hal tersebut kita kembali teringat pada masa lalu, kejadian tatkala kita masih kecil, saat masih berumur belia dan masih belajar untuk menuju kedewasaan.

Itu yang saya alami tatkala mengajarkan adek-adek perempuan kecil disela-sela Kuliah Kerja Nyata (KKN) saya beserta teman-teman yang lainnya. Kebetulan, saya dan teman-teman se-tim dapat tempat di Desa Donorejo, Kec. Limpung, Kab. Batang, Jawa Tengah.

Bertempat di posko KKN Kami, adek-adek kecil yang masih duduk di bangku SD itu meminta kepada kami untuk membantu mereka mengerjakan tugas mata pelajaran SKI (Sejarah Kebudayaan Islam) dari gurunya.

Kebetulan karena diantara teman-teman KKN saya dianggap yang bisa membantu dalam bidang tersebut, ya dengan senang hati saya lakukan dengan bantuan teman yang lain.

Disaat saya mengajar itu, kembali teringat seperti apa keadaan kami tatkala masih kecil. Seperti apa perjuangan ibu, guru dan semua yang mengajar bahwa untuk menyalurkan dan memahamkan ilmu kepada anak-anak yang pemikirannya masih kanak-kanak memang perlu adanya kesabaran supaya anak tersebut bisa menerima ilmu yang diajarkan.

Maka tak heran, dalam sebuah cerita sahabat Rasul saw bahwa Umar bin Khattab pernah berkata bahwa setiap huruf yang diajarkan guru kepada kita sehingga menjadi tahu akan huruf tersebut harganya sudah tak ternilai

Bagi saya, ini bukan pengalaman yang pertama. Pernah pada masa-masa SMA Kami mengabdi ke masyarakat, termasuk kegiatan mengajar anak SD. Dan setiap kali mengajar, tentu kembali teringat akan perjuangan ortu, guru untuk membantu mencerdaskan kita.


Jadi, sudah sepatutnya kita berterimakasih kepada orang tua dan guru. Syukuri, sayangi, dan jangan buat mereka kecewa.  

Posko KKN Dekat Masjid, Mau Sholat Tinggal “Nyebrang” Jalan

Rumah warna abu2 (kiri) adalah posko KKN Kami. Masjid sudah ada diseberang jalan (kanan, berkubah)

Kuliah Kerja Nyata, atau biasa disingkat “KKN” (meskipun ada yang menyelewengkan dengan istilah “Kuliah Kerja Nikah”) selain dilaksanakan dalam rangka pengabdian kepada masyarakat (muamallah), tentu ada kewajiban lain yang harus dilakukan dan sebenarnya itu sudah menjadi “tugas pokok”. Apa itu?

Ya, ibadah. Terutama ibadah wajib seperti sholat fardhu. Nah, untuk ibadah yang satu ini, Saya cukup bersyukur kelompok KKN Kami mendapatkan posko KKN yang dekat dengan masjid. Hanya menyebrang jalan saja, sudah sampai masjid.

Jadi, jika sudah adzan, dijamin adzannya kedengeran (asal orangnya tidak tidur). Jaraknya “nyabrangnya” pun tidak lebih dari 20 meter sudah sampai area masjid. Alhamdulillah pokoknya. Sesuatu….