• The Class of 2013

    (Ki-ka) Atas: May, Dania, Ulin, Arin, Rina ; Tengah: Rafiq, Bekti, Fikri, Bayu, Me ; Bawah: Hendra, Akbar

  • PH AB FPIK Undip 2013

    (Ki-ka) Atas: Hendra, Fikri, Akbar, Me, Rafiq ; Tengah: Bekti, Arin, May, Rina, Bayu ; Bawah: Dania, Ulin

  • Keluarga Besar DW Pak Ibnu

    (Ki-ka) Atas: Aufa, Apink, Harya, Yudha, Dimdut, Dimcil ; Tengah: Nadya, Mu'adz, Me, Pak Ibnu, Arin, Isna, Iif ; Bawah: Diana, Ine, Kamto, Nia, Susi

  • BEM FPIK Undip

    Cukup nama yang 'eksekutif', namun pengurusnya bukan orang "eksklusif" (karena BEM juga manusia biasa)

  • Kesejahteraan Mahasiswa (Kesma)

    Sejahtera mahasiswa itu ada 2, yaitu sejahtera dari biaya kuliah (tidak memberatkan) dan sejahtera dari nilai akademis (IPK bagus)

  • INSANI 2014

    Karena persaudaraan itu indah...

  • #SalamEKSIS

    INSANI Media Center (IMC) 2014............. (Ki-ka) Atas: Wildan, Me, Fauzan ; Tengah: Hana, April, Diana ; Bawah: Khikmah, Marlia ; Hidden: Reni, Elita, Hanum

  • SEMNAS FARMASea

    What Should Marine Scientist do for Industries?

  • #YukSenyum

    Karena Senyum adalah shodaqoh yang paling mudah

  • #MelanglangBuana

    at BPOL (Balai Penelitian dan Observasi Laut)

  • #MelanglangBuana

    at SEACORM BENCHMARK, Jembrana, Bali

  • Di Nusa Dua, Bali

    Sayang nggak bisa mampir ke acara APEC 2013 kemarin

Showing posts with label Opini. Show all posts

Hal yang Aku Kagumi Melebihi Orasi Calon Presiden RI


HAL YANG AKU KAGUMI MELEBIHI ORASI CALON PRESIDEN RI
Hari telah memasuki waktu sore. Matahari masih bersinar menghangatkan udara. Pelan-pelan, aku keluar dari Stadion Sriwedari melalui pintu tribun utara.
Saat keluar stadion, di tengah kerumunan banyak orang, secara tak sengaja pandanganku tertuju pada perempuan berjilbab yang berdiri di luar stadion. Agak aneh, karena mereka berdiri seperti bukan menunggu orang.
"Apa yang mereka lakukan?" tanyaku dalam benak pikiran.
Seiring dengan langkah keluar stadion, aku semakin dekat dengan mereka. Semakin dekat, dan dekat. Ternyata benar, mereka berdiri di tempat bukan untuk menunggu orang yang keluar dari stadion.
Lantas apa yang mereka lakukan? Dengan mengenakan pakaian kuning coklat hitam, dan beberapa berslayer, para perempuan ini berbaris menjaga taman di luar stadion.
Dari pakaian yang dikenakan, perempuan ini sepertinya adalah kader dari salah satu parpol koalisi pengusung Calon Presiden RI periode 2019-2024 yang saat itu sedang berkampanye.
Baru pertama kali dalam hidup, aku melihat hal seperti ini secara langsung. Mereka seperti pagar betis yang setia mengamankan taman agar tidak terinjak oleh kerumunan orang yang keluar dari stadion.
Sesekali juga mereka menggunakan bambu untuk menjaga tanaman.
Aku kagum dengan apa yang dilakukan para perempuan ini. Bahkan melebihi kekagumanku terhadap orasi Calon Presiden RI yang berkampanye.
Jika tanaman yang tak bernyawa saja diperhatikan, dilindungi, dijaga, lalu bagaimana dengan hal lain yang jauh lebih penting dari itu?
Mereka tentu sadar bahwa bukan mereka yang menanam. Tapi mereka punya respect, kepedulian, bahwa dengan menjaga tanaman, berarti mereka telah memberikan bukti perhatiannya terhadap masa depan.
Masa depan bahwa tanaman tetap tumbuh di kemudian hari sebagai penghias stadion, sehingga keindahan kota tetap terjaga nantinya.
Apa jadinya jika tanaman dibiarkan begitu saja ditengah kerumunan banyak orang? Pasti rawan terinjak. Dan jika terinjak, tentu suatu kerugian yang harus ditanggung.
Perhatian terhadap hal kecil sejatinya adalah representasi perhatian seseorang terhadap hal besar.
Memberikan perhatian kepada hal yang besar dimulai dari hal-hal yang kecil. Jika hal yang kecil saja diperhatikan, maka hal besar pun juga akan diperhatikan. Dan sebaliknya.
Begitu pula memimpin negara. Ini adalah hal besar dan penting.
Persoalannya, hanya beberapa orang yang bisa mendapatkan posisi untuk menjadi pemimpin negara.
Meski demikian aku tak ingin berkecil hati. Aku mencoba memperluas sudut pandangku.
Memang, tidak semua orang bisa menjadi pemimpin negara. Tapi semua orang punya kesempatan untuk berkontribusi dalam pengelolaan negara dengan memberikan contoh yang baik bagi sesama dan para pemimpinnya.
Ditulis oleh:
Aji Kurniawan AP
Surakarta, 10 April 2019

Ketika Alam Telah Berpesan


'Bencana' alam sepertinya silih berganti menerpa negeri kita tercinta diawal tahun 2014 ini. Letusan Gunung Sinabung, Banjir, dan yang terbaru, letusan Gunung Kelud di Jawa Timur yang terjadi pada Kamis (13/2) malam sekitar pukul 22.55 WIB.

Akibatnya, usai mentari bersinar, suasana banyak yang berubah menjadi abu-abu akibat hujan abu Gunung Kelud. Tak tanggung-tanggung, wilayah yang jaraknya ratusan kilometer dari Gunung Kelud seperti Surabaya, Solo, Magelang tak luput dari hujan abu. Apalagi tempat yang jaraknya lebih dekat dari wilayah tersebut.

Sebagai manusia, terlebih manusia yang berakal, tentu kejadian seperti ini tidak bisa dipandang dari dunia sains dan gejala alam belaka. Ada sisi lain yang harus kita dimaknai.

Alam sepertinya ingin berpesan kepada manusia, bahwa kita yang menempatinya sudah selayaknya menjaga dan merawatnya. Salah satu keyakinan saya, bahwa hidup ini penuh dengan timbal balik. Apa yang kita perbuat untuk alam dan orang lain, suatu saat pasti akan kembali kepada diri kita. Meski dalam bentuk dan wujud yang berbeda.

Lantas, bagaimana dengan sikap kita terhadap alam? Cukup satu, berusahalah untuk tidak menyalahkan alam. Alam sebenarnya tidak salah apa-apa. Karena mereka salama ini diam,  manusialah yang selalu bertindak.

Cukup berbekal akal sehat dan pikiran jernih, kita sebagai manusia yang memiliki keyakinan tentu paham dengan maksud yang disampaikan diatas. Mari intropeksi dan tabahkan diri. Semoga Sang Pencipta memberikan kita petunjuk dan keselamatan. Aamiin...

(AK20/@AjiiKurniawan)