• The Class of 2013

    (Ki-ka) Atas: May, Dania, Ulin, Arin, Rina ; Tengah: Rafiq, Bekti, Fikri, Bayu, Me ; Bawah: Hendra, Akbar

  • PH AB FPIK Undip 2013

    (Ki-ka) Atas: Hendra, Fikri, Akbar, Me, Rafiq ; Tengah: Bekti, Arin, May, Rina, Bayu ; Bawah: Dania, Ulin

  • Keluarga Besar DW Pak Ibnu

    (Ki-ka) Atas: Aufa, Apink, Harya, Yudha, Dimdut, Dimcil ; Tengah: Nadya, Mu'adz, Me, Pak Ibnu, Arin, Isna, Iif ; Bawah: Diana, Ine, Kamto, Nia, Susi

  • BEM FPIK Undip

    Cukup nama yang 'eksekutif', namun pengurusnya bukan orang "eksklusif" (karena BEM juga manusia biasa)

  • Kesejahteraan Mahasiswa (Kesma)

    Sejahtera mahasiswa itu ada 2, yaitu sejahtera dari biaya kuliah (tidak memberatkan) dan sejahtera dari nilai akademis (IPK bagus)

  • INSANI 2014

    Karena persaudaraan itu indah...

  • #SalamEKSIS

    INSANI Media Center (IMC) 2014............. (Ki-ka) Atas: Wildan, Me, Fauzan ; Tengah: Hana, April, Diana ; Bawah: Khikmah, Marlia ; Hidden: Reni, Elita, Hanum

  • SEMNAS FARMASea

    What Should Marine Scientist do for Industries?

  • #YukSenyum

    Karena Senyum adalah shodaqoh yang paling mudah

  • #MelanglangBuana

    at BPOL (Balai Penelitian dan Observasi Laut)

  • #MelanglangBuana

    at SEACORM BENCHMARK, Jembrana, Bali

  • Di Nusa Dua, Bali

    Sayang nggak bisa mampir ke acara APEC 2013 kemarin

Showing posts with label Undip. Show all posts

Undip Bukan Eropa ; Gedung Baru (kok) Minim Penghijauan


Jika anda sering lewat jalan tembus Fakultas Peternakan & Pertanian (FPP) dengan Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan (FPIK), mungkin sering melihat gedung yang terpampang diatas dalam ilustrasi artikel ini. Foto tersebut merupakan pelataran salah satu gedung baru Fakultas Teknik yang selesai digarap awal tahun 2015 ini.

Apa yang bisa diamati dari pembangunan gedung tersebut? To do point aja deh ya, dari kacamata saya pribadi, ada satu hal pokok yang sangat menjadi perhatian, yakni porsi untuk penghijauan sekitar gedung yang amat sangat minim.

Amati saja, gedung yang diapit T.Kimia & T.Mesin itu kondisi pelataran hampir penuh dengan susunan paving block. Bagian untuk penanaman pohon atau penghijauan lainnya, amat sangat minim. Atau bahkan tidak ada sama sekali untuk “tempat penghijauan yang ideal”. Karena lahan kosong yang masih tersisa hanya dibagian pojok-pojok bangunan. Itu pun bukan tempat ideal karena akan jarang menjadi tempat lalu lalang mahasiswa.

Rancangan seperti apa dari pembangunan proyek gedung baru ini saya juga tidak tahu. Namun yang jelas, dalam pembangunan infrastruktur, selain membangun gedung, juga harus diimbangi dengan penyediaan lahan hijau yang memadai.

Sepengetahuan saya, yang hanya bisa menjadi pengamat tata ruang bangunan & wilayah -karena dulu pernah tidak tembus SNMPTN jurusan arsitek salah satu PTN di Jateng- (#upsss, ngebuka kartu As), idealnya dalam sebuah proyek bangunan harus menyediakan setidaknya 30 persen untuk lahan hijau. Selain menjadi tempat peneduh, hal tersebut juga berguna untuk menjaga ketersediaan O2 sehingga saat siang hari udara tetap sejuk dan suhu sekitar bangunan tidak terlalu panas.

Namun, jika melihat kondisi bangunan ini, rasanya masih sangat jauh dari harapan tadi. Coba amati dari segi tataan banguan. Bagian pelataran yang didominasi paving block menghadap ke arah timur, yang merupakan arah matahari terbit hingga puncak siang. Jika demikian, sinar matahari yang datang dari arah timur akan langsung dipantulkan oleh susunan paving block karena tidak ada penghalang (pohon).


Sinar matahari dari arah timur akan langsung terpantulkan ke arah bangunan yang berdinding kaca karena tidak adanya pepohonan di pelataran gedung


Pantulan sinar matahari yang langsung dari paving block jelas terasa panas. Karena tidak adanya pohon maupun peneduh disekitar area pelataran. Ditambah lagi, bagian bangunan yang menghadap ke arah pelataran paving block didominasi oleh dinding kaca tembus pandang. Kalau melihat kondisi yang demikian, sepertinya dari pagi hingga siang mahasiswa yang melakukan perkuliahan digedung tersebut harus menyediakan kipas angin. Terlebih musim kemarau.

Hal tersebut tidak berlaku jika bukan dinding kaca tembus pandang, melainkan dinding kaca panel surya yang berguna untuk mengubah energi panas matahari menjadi listrik. Sehingga jika demikian, gedung tersebut akan menjadi gedung pertama di Undip yang berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga surya (sedikit berpikir ala modern, namun terwujud atau tidak, entahlah -senyum).

Mungkin jika boleh beranggapan, kondisi bangunan yang demikian, terutama dari pelataran yang minim penghijauan, itu karena belum ada penanaman dari pihak terkait (tapi kalau iya dibagian mana akan ditanam pohon?). Anggapan kedua, adalah untuk lahan parkir. Anggapan ketiga, inilah yang sering saya ikuti dan membuat perut kenyang di pagi hari, yakni untuk tempat senam pagi bersama tiap Jum’at #hehe

Tapi untuk anggapan kedua dan ketiga tidak jadi alasan untuk tidak menanam pohon diarea pelataran. Karena Undip bukan Eropa. Yang meskipun bangunan disana minim pohon dan juga terus tersinari matahari,  udaranya tetap sejuk karena Benua Biru berada pada belahan bumi utara yang cenderung beriklim kutub. Sehingga agar tetap sejuk dan nyaman bagi mahasiswa, porsi lahan hijau di Undip memang harus banyak. (Tidak minimalis seperti di Eropa).

Saran untuk pihak terkait, bongkar beberapa susunan paving block yang berada ditengah-tengah dan pinggir pelataran untuk ditanami pohon. Pohon yang dipilih juga bukan sembarang pohon. Pilih pohon yang tipe percabangan batangnya menyebar menyamping seperti di Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik (FISIP). Untuk dinding kaca tidak perlu diganti dengan panel surya (karena cukup mahal) #hemm

Harapan semoga di pelataran gedung nantinya ada penghijauan

Yah begitulah….! Ini hanya sekedar opini. Entah mau diubah atau tidak nanti biarlah tugas arsitek atau pengelola dilapangan. Karena mahasiswa hanya bisa menjadi pengamat dari luar dan tugas sebenarnya adalah menuntut ilmu. Adapun saya menulis artikel semacam ini adalah sebagai bentuk kepedulian terhadap kampus Undip.

Sekian artikel ini saya buat. Semoga bermanfaat... #AkuCintaUndip

AK22/@AjiiKurniwan

BBM Naik, Jokowi Punya ''Kartu Sakti'', Undip Punya ''Kupon Sakti''


Sudah lebih dari 2 pekan harga BBM naik, pemerintah pun mengeluarkan seribu satu cara sebagai konpensasi atas kebijakan yang tak popular tersebut, terutama untuk mereka yang tergolong rakyat miskin. Semua pasti sepakat, kebijakan yang paling pupuler di pemerintahan Jokowi-JK saat ini adalah dengan “kartu sakti”.

Apapun namanya, mau Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, dan kartu Indonesia-Indonesia yang –mungkin- nantinya akan terus dikeluarkan, ternyata di kampus Undip juga ada hal yang hampir mirip dengan “kartu sakti” tersebut.

Ya, seperti judul artikel ini, jika Jokowi punya “kartu sakti”, Undip punya “kupon sakti” khusus untuk pembelian BBM di SPBU Undip. Dan saya, termasuk salah satu yang mendapatkannya. Saya dapatkan beberapa saat usai pemerintah benar-benar menaikkan harga BBM bersubsidi pada Senin, 17 November 2014 lalu.

Kalau sedikit berceloteh, entah kebetulan atau tidak, karena saya mendapatkan “kupon sakti” ini tak lama setelah BBM naik, dan baru 2 bulan membawa motor ke Semarang, hal itu seolah-olah seperti konpensasi yang diberikan Undip kepada mahasiswanya supaya tetap bisa memenuhi kebutuhan BBM motornya. (kebetulan atau tidak yang jelas sudah takdirnya).

Dari mana dapatnya? Saya mendapatkannya dari sebuah acara tentang kewirausahaan yang digelar di salah satu fakultas di Undip. Ketika diberi kesempatan bagi audiens untuk bertanya, saya bertanya dan akhirnya mendapat sebuah doorprize. Ternyata doorprize tersebut adalah “kupon sakti” yang saya maksudkan tadi.

Bentuk dari “kupon sakti” berupa voucher BBM tersebut bisa dilihat seperti gambar yang saya tampilkan di artikel ini. Ada nominal Rp 10.000 dipojok kanan bawah, berarti voucher ini bisa ditukar dengan harga BBM senilai Rp 10.000. Disisi sebaliknya ada tanda persetujuan konsumen dengan pihak SPBU disertai dengan stempel resmi Undip.




Saya pun sudah mempraktekkan seperti apa ‘kesaktian’ kupon / voucher ini. Saya mulai berdasar rundown. Harga BBM naik tanggal 17 November 2014, saya mendapatkan voucher ini 21 November 2014 (empat hari pasca harga BBM naik).

Saya tidak langsung menggunakan voucher ini setelah mendapatkannya. Namun saya simpan dulu kurang lebih seminggu untuk menunggu premium di motor saya “sekarat” hingga tinggal menyisakan beberapa tetes ibaratnya, asal tidak benar-benar habis kering kerontang (bisa-bisa motor berhenti ditengah jalan malahan, repot sendiri nanti).

Saya sengaja demikian untuk melakukan percobaan, seberapa lama saya bisa melakukan penghematan anggaran RAB saya dengan adanya voucher ini. Terutama untuk keperluan konsumsi BBM.

Waktu yang ditunggu pun tiba. Kalau tidak salah tanggal 26 November 2014 kemarin, saya menggunakan “kupon sakti” di SPBU Undip Tembalang. Dan ternyata, cukup dengan menukarkan ke petugas yang mengisi BBM, saya bisa mendapatkan BBM senilai Rp 10,000.

Kalau bicara Rp 10.000 untuk beli bensin dapat seberapa liter banyaknya (dengan harga BBM yang sekarang sudah naik), kalau dituangkan ke botol air minum mineral ukuran besar akan terisi kira-kira setengah botol lebih dikit.

Tidak percuma juga saya dulu mengikuti seminar kewirausahaan secara GRATIS (dapat snack pula) dan saya bertanya sehingga mendapatkan voucher ini. Karena berdasarkan ‘percobaan’ yang saya lakukan ini, tangki BBM motor saya yang nyaris kosong kemudian saya isi dengan Premium seharga Rp 10.000 menggunakan alat tukar voucher tadi, “kesaktian” kupon tadi bisa membuat saya seminggu tanpa isi ulang BBM bagi motor saya. Meski saya juga harus menggunakan motor mondar-mandir ke sana-sini.

Untuk isi ulang BBM baru saja saya lakukan pada 3 Desember 2014 kemarin, tak lama sebelum saya menulis artikel ini. Lumayan lah bagi saya, Rp 10.000 untuk 1 pekan konsumsi BBM.

Memang ada teman yang yang bilang Rp 10.000 untuk konsumsi BBM selama 1 minggu rasanya sulit. Yaaaa itu semua tergantung bagaimana kita me-manage keperluan akomodasi sehari-hari. Kalau untuk keperluan jarak dekat misal beli makan, saya mending jalan kaki. Tapi kalau cukup jauh (termasuk mencari data skripsi), urusan urgent, naaaah… baru pakai motor.

Yaaaah begitu cerita saya kali ini seputar “kupon sakti” yang saya dapatkan pasca harga BBM bersubsidi naik kemarin yang kesaktiannya tak kalah dengan “kartu sakti” ala Jokowi. Saya yakin tidak hanya saya yang mendapatkan, banyak kok. Jadi jangan lupa bersyukur atas nikmat yang didapat. Alhamdulillah….

Sebagai penutup, ada sedikit pesan yang mau saya bagikan :

Rizki manusia sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Tinggal bagaimana manusia menggunakan rizki yang didapat tersebut dengan sebaik-baiknya. Mari kita gunakan rizki sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan. Dan berusaha menjadi hamba yang bersyukur, serta tidak berlebih-lebihan. Karena Allah tidak suka dengan hamba-Nya yang berlebih-lebihan.

Demikian pesan yang saya berikan diakhir artikel ini. Semoga tidak kalah “sakti” dengan kartu & kupon tadi :)

Sekian cerita kali ini. Semoga bermanfaat...

(AK21/@AjiiKurniawan)

Rektor Undip Terpilih Jadi Moderator Debat Capres Terakhir


Kabar tersebut saya ketahui usai sholat Jum’at pada 4 Juli 2014. Tak lama usai sholat, saya menyalakan TV sekedar untuk melihat berita apa yang sedang booming. Apakah masih soal ‘adu sikut’ kedua kubu jelang Pilpres 9 Juli mendatang (baik dari timses maupun ‘tim media-nya’), atau ada hal baru yang bisa menjadi variasi informasi.

Ternyata ada. Dan itu tak disengaja dan tak terperkirakan sebelumnya. Apa itu?

Ya, debat capres-cawapres 2014 edisi ke-5. Yang menjadi daya Tarik adalah karena moderator debat nanti adalah orang nomor 1 di kampus saat ini saya kuliah, Rektor Universitas Diponegoro (Undip) Prof Sudharto P Hadi, MES, Ph D yang terpilih sebagai moderator debat capres kelima yang akan digelar Sabtu (5/7) nanti. Berita tersebut saya dapati dari ‘running text’ di beberapa stasiun TV. Dan saya pun bergegas ambil kamera dan langsung memotretnya. Sedikit “aneh” memang. Tapi tidak apa-apa. Hehe :D

Running Text di Global TV (a)

Running Text di Global TV (b)

Running Text di Global TV (c)

Running Text di Metro TV (a)

Running Text di Metro TV (b)

Running Text di TV ONE


Meski begitu, saya yakin diantara ribuan mahasiswa Undip, bukan saya yang tahu pertama kali. Dan benar setelah saya chek di Twitter sudah ada beberapa berkicau. (Maklum tak punya modem tak punya fasilitas online di HP. Modal dapat berita cepat cuma dari TV jika tidak sedang online pakai netbook).

Debat dengan tema "Pangan, Energi dan Lingkungan" itu sekaligus menjadi debat terakhir dan menutup rangkaian debat capres pemilu presiden 2014. Tentu, penunjukkan Pak Darto telah disepakati oleh kedua timses Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK.

Maka tidak berlebihan, Penunjukkan Pak Darto sebagai moderator pamungkas ini juga akan membawa nama kampus yang juga menjadi tuan rumah PIMNAS tahun 2014 ini.

Usut punya usut, terpilihnya rektor Undip Pak Darto sebagai moderator ini juga tak ujug-ujug. Setidaknya ada beberapa nama dari kampus tenar seperti Dekan Fakultas Ekologi Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria PhD, Ahli Matematika dan Sains dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Megawati Santoso, Rektor Universitas Nusa Cendana Nusa Tenggara Timur Prof Fredrik Lukas, Guru Besar Ketahanan Pangan Departemen Teknologi Hasil Pertanian  Universitas Katolik Santo Thomas Sumatera Utara Prof Posman Sibuea. Kemudian Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Andalas Prof Helmi PhD, dan Kepala Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada Dr. Deendarlianto.

Mereka yang harus “mengalah” akhirnya diminta sebagai tim ahli. Yang akan membantu KPU memfasilitasi moderator dalam merumuskan pertanyaan yang akan diajukan kepada pasangan capres.

Debat terakhir ini merupakan adu visi-misi antara pasangan capres dan cawapres nomor urut 1 Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan pasangan calon nomor 2 Joko Widodo-Jusuf Kalla. Debat akan dilangsungkan di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan pukul 20.30 WIB. Debat disiarkan langsung oleh Kompas TV dan TVRI dengan durasi 90 menit.

Debat terakhir ini juga sekaligus menutup masa kampanye pilpres. Mulai tanggal 6 Juli hingga hari pemungutan suara pada 9 Juli ditetapkan sebagai masa tenang.

Sukses pak Darto buat amanahnya. Aamiin…

Di Tendang Akhwat, Pria Bermotor Ini Gagal Merampok


Kata orang, akhwat itu terkesan lembut, santun, baik dan sebagainya. Namun dibalik itu semua ternyata ada yang "diam-diam menghanyutkan". Jika ingin tahu buktinya, silahkan baca artikel tentang "Si Akhwat Bergamis" dibawah ini. Artikel ini saya sadur dari salah satu situs tumblr milik mahasiswa Undip juga :

Suatu siang, sekitar jam 1 seorang akhwat berangkat ke Kampus dengan motor matic melewati jalan depan BNI Undip Tembalang, (pom bensin ke kiri) Semarang. Tiba-tiba, Si Akhwat kaget. Ternyata dari belakang ada cowok dengan motor vixion-nya yang "sok gagah" melaju ke arahnya lalu memaksanya berhenti sambil memegang ‘stang’ kanan akhwat itu.

“Mbak turun mbak turun...!”, kata Si Perampok

Sontak akhwat itu berteriak “Astaghfirullah jangan mas jangan mas..!”.

Saat cowok itu masih memegang stang kanan motor akhwat itu, tangan yang satunya mengambil sesuatu dari kantong. Yang membuat suasana makin mencekam, ternyata cowok itu mengambil sebilah pisau tajam.

Tahukah Anda (terutama yang perempuan jika mengalami hal yang sama) apa yang terjadi selanjutnya? Mungkin banyak yang menganggap pasrah saja menyerahkan harta bendanya ya.

Tapi Si Akhwat ini tidak demikian ternyata. Saat cowok itu sedang menyiapkan pisaunya, tanpa pikir panjang Si Akhwat berinisial "A" itu langsung menendang cowok beserta motornya sampai ambruk.

Keren. Amazing. Luar biasa. Padahal saya sendiri juga tak jarang keluar malam, bahkan pernah jalan kaki sendirian pulang dari kampus malam-malam. Alhamdulillah tetap siaga dan tidak terjadi apa-apa.

Memang harus seperti ini seorang akhwat. Dibalik image-nya yang terkesan lemah lembut tersimpan kekuatan yang luar biasa.

(Sumber : http://fatikhafajar.tumblr.com/ edisi 21 Mei 2014 dengan penyesuaian)

(@AjiiKurniawan)

9 Kampus Indonesia Masuk 300 Besar Asia


Berdasarkan survei yang dilansir QS University Rankings, sembilan universitas di Indonesia berhasil masuk dalam daftar top 300 Asian University, dimana empat universitas diantaranya masuk dalam jajaran 100 besar. Sayangnya, Indonesia masih kurang dalam hal produktifitas penelitian dan proporsi siswa internasional.

"Beberapa universitas di Indonesia berhasil menorehkan reputasi yang solid diantara para akademisi dan lulusannya yang telah bekerja,” ungkap Kepala Reset QS Ben Sowter, Senin (12/5/2014), “tantangannya sekarang adalah untuk meningkatkan performa di sektor lain seperti penelitian dan internasionalisasi,” imbuhnya.

Ben menjelaskan bahwa survei tersebut melibatkan 43.000 akademisi. Sayangnya tidak satupun institusi pendidikan di Indonesia yang masuk dalam 200 besar universitas yang produktif melakukan penelitian ataupun memiliki proporsi siswa internasional yang memadai.

Kesembilan universitas tersebut diantaranya Universitas Indonesia yang duduk di peringkat 74 atau turun 6 peringkat dari tahun lalu, Institut Teknologi Bandung yang berhasil mencapai peringkat 125 setelah sebelumnya ada di posisi 129 dan Universitas Airlangga mendaki dengan cepat dari posisi 145 ditahun sebelumnya menjadi 127 tahun ini. Universitas Gajah Mada tahun ini berada di posisi 145 setelah sebelumnya sempat duduk di posisi 133.

Selain keempat universitas tersebut, Institut Pertanian Bogor, Universitas Diponegoro, Universitas Padjajaran berada dikisaran 201-250 besar sedangkan Universitas Udayana dan Universitas Brawijaya masuk di urutan 251-300 besar.

Peringkat pertama tahun ini untuk pertama kalinya diduduki oleh National University of Singapore yang tahun sebelumnya hanya menjadi <>runner-up. Kemudian berturut-turut Kaist-Korea Advanced Institute of Science and Technology di Korea dan University of Hong Kong menduduki peringkat 2 dan 3.

“Peringkat tersebut mengonfirmasi kemunculan Singapura dan Korea sebagai pemain baru di wilayah ini, mengimbangi dominasi Hong Kon dan Jepang. Kedua universitas tersebut—NUS dan KAIST—telah mengambil keuntungan dari investasi pemerintah dibidang riset berbarengan dengan penerapan bahasa Inggris yang membawa mereka mencapai level baru pada kancah global,” tutup Sowter.

(Sumber : http://news.metrotvnews.com edisi 12 Mei 2014)

Bolangnya Si Oyan, Dari Semarang Menuju Jepang


Mungkin kita akrab dengan istilah "Si Bolang" alias bocah petualang. Ya, acara salah satu stasiun televisi swasta itu menceritakan tentang kisah anak kecil berkeliling Indonesia dan luar negeri bersama dengan sejumlah teman-temannya.

Julukan itu mungkin cocok disematkan kepada adek kelas saya, Arroyan Suwarno, atau yang lebih akrab disapa "Oyan".

Si Oyan adalah mahasiswa Jurusan Perikanan FPIK Undip angkatan 2012. Di organisasi sendiri, kita kemarin pernah satu tahun bersama dalam sebuah "organisasi biru" di FPIK, sebut saja "AB".

Tidak hanya satu organisasi, tapi satu departemen malahan, yakni Departemen Informasi & Komunikasi (Infokom) bersama Hikari, Ratna, Amah, Amir, Riki, Rizki, Gian, dan mas Harya.

Disini kemarin kita satu organisasi (Oyan paling kanan)

Setahun berlalu, masuklah tahun kedua. Ditahun kedua, Si Oyan, mahasiswa penerima Beastudi Etos itu ketiban rizki yang kata dia sih nggak disangka-sangka, yakni bisa "ngebolang" ke Negeri Sakura, Jepang. Saking lebay-nya, waktu saya menulis artikel ini, dimana dia sudah ada di Jepang sekitar tiga hari, dia malah tidak percaya kalau dia lagi di Jepang (efek ketiban rezeki tiba-tiba mungkin. Maklum-ketawa)

Bercanda sedikit ya. Tapi memang betul seperti itu.

Oke lanjut. Terus, seperti apa Si Oyan bisa ke Jepang? Singkatnya, semua ini berawal dari ia mengirim paper kepada pihak Jepang yang membuka program itu. Papernya tentu yang berhubungan dengan basic di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Lebih tepatnya tentang mikroalgae

Alhamdulillah. Paper yang ia kirim ternyata disetujui oleh pihak sana (penyelenggara di Jepang). Hingga akhirnya ia memulai menyusun proposal untuk keperluan presentasi di Jepang. Baik pendanaan, maupun bahan yang harus dipresentasikan.

Untuk lebih jelasnya, silahkan lihat foto-foto berikut. Semoga menginspirasi :



Surat penerimaan dan undangan

Surat undangan menghadiri presentasi

Paspor yang langsung dibuat usai mendapat undangan ke Jepang

Tiba di bandara Soekarno-Hatta untuk terbang menuju Jepang



Si Oyan sedang santap makan usai tiba di Jepang (tiba juga)

Masakan jepang

Ini masakan yang cukup populer di kartun-kartun Jepang

Berbicara tentang suhu, di Jepang memang cukup dingin

Tak disangka bertemu dengan mahasiswa Indonesia lainnya usia tiba di Jepang

Sebuah petunjuk bertuliskan huruf Jepang dan terjemahannya (Inggris)

Bunga yang Si Oyan abadikan waktu berjalan kaki. Mekar dimusim semi

Bangunan modern Jepang dengan sungai yang bersih

Dekat tower mirip menara Eifel di Paris, Perancis

Grafiti di Jepang yang memiliki tempat tersendiri

Menemui salah satu festival daerah Senoji 

Mungkin kebanyakan perempuan yang menonton film drama Jepang tau tempat ini.

Bolangnya Si Oyan, Dari Semarang Menuju Jepang (Part 1)
To be continue...

(Sumber foto : Facebook Arroyan)

(AK21/@AjiiKurniawan)

Segera Tambal Sebelum Jatuh Korban




Mahasiswa yang lalu lalang di kampus Undip Tembalang sepertinya harus lebih berhati-hati, khususnya bagi mereka yang sering melintas di taman segitiga Widya Puraya (WP).

Pasalnya, di area tersebut tepatnya di jalan paving block sebelah barat taman terdapat lubang jalan yang cukup besar. Lubang tersebut timbul lantaran susunan paving block yang terlepas entah ke mana.

Tentu hal ini sangat membahayakan pengendara motor yang tengah melintas jika tidak berhati-hati. Terlebih, posisi lubang yang tepat berada di tikungan yang baru bisa terlihat jika posisi kendaraan sudang menikung.

TERLEPAS - Paving Block yang terlepas entah ke mana


Kepada birokrasi terkait, semoga lekas memberikan penanganan terhadap kondisi ini sebelum nanti jatuh korban. Terlebih, area ini merupakan salah satu pusat kampus dan daerah teramai yang dilalui kendaraan.

(AK21/@AjiiKurniawan)