• The Class of 2013

    (Ki-ka) Atas: May, Dania, Ulin, Arin, Rina ; Tengah: Rafiq, Bekti, Fikri, Bayu, Me ; Bawah: Hendra, Akbar

  • PH AB FPIK Undip 2013

    (Ki-ka) Atas: Hendra, Fikri, Akbar, Me, Rafiq ; Tengah: Bekti, Arin, May, Rina, Bayu ; Bawah: Dania, Ulin

  • Keluarga Besar DW Pak Ibnu

    (Ki-ka) Atas: Aufa, Apink, Harya, Yudha, Dimdut, Dimcil ; Tengah: Nadya, Mu'adz, Me, Pak Ibnu, Arin, Isna, Iif ; Bawah: Diana, Ine, Kamto, Nia, Susi

  • BEM FPIK Undip

    Cukup nama yang 'eksekutif', namun pengurusnya bukan orang "eksklusif" (karena BEM juga manusia biasa)

  • Kesejahteraan Mahasiswa (Kesma)

    Sejahtera mahasiswa itu ada 2, yaitu sejahtera dari biaya kuliah (tidak memberatkan) dan sejahtera dari nilai akademis (IPK bagus)

  • INSANI 2014

    Karena persaudaraan itu indah...

  • #SalamEKSIS

    INSANI Media Center (IMC) 2014............. (Ki-ka) Atas: Wildan, Me, Fauzan ; Tengah: Hana, April, Diana ; Bawah: Khikmah, Marlia ; Hidden: Reni, Elita, Hanum

  • SEMNAS FARMASea

    What Should Marine Scientist do for Industries?

  • #YukSenyum

    Karena Senyum adalah shodaqoh yang paling mudah

  • #MelanglangBuana

    at BPOL (Balai Penelitian dan Observasi Laut)

  • #MelanglangBuana

    at SEACORM BENCHMARK, Jembrana, Bali

  • Di Nusa Dua, Bali

    Sayang nggak bisa mampir ke acara APEC 2013 kemarin

Showing posts with label Moment Tahunan. Show all posts

Antara Valentine, Galentine, Pengantin, dan Palestine. Mana yang Akan Anda Pilih?


Ada apa sih dengan bulan Februari? Sepertinya ada yang beda dengan bulan ini. Bagi kita umat Islam secara keseluruhan (inget ya secara “keseluruhan”, bukan hanya diperuntukkan untuk anak rohis saja), tentu mengetahui & sudah seharusnya memahami asal usul akan momentum yang konon, merupakan hari kasih sayang. Ya, to do point saja, orang-orang yang  merayakannya menyebutnya sebagai Hari Valentine (Valentine’s Day) yang dirayakan tanggal 14 Februari.

Bagi kita yang sudah paham akan asal usul kenapa disebut Hari Valentine tentu sudah paham seluk beluknya, bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang melenceng dari aqidah kita sebagai ummat Islam. Tidak perlu panjang lebar lagi dijelaskan.

Buat yang belum tahu, sedikit penjelasan saja bahwa sebenarnya sejarah Hari Valentine berasal dari meninggalnya seorang martyr Kristen (Martyr dalam Islam disebut ‘Syuhada’) bernama St. Valentine pada 14 Februari 270 Masehi. Ia meninggal akibat dibunuh karena bertentangan dengan raja Romawi kala itu, Raja Claudius II (268 - 270 M).

Untuk mengagungkan St. Valentine yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dalam menghadapi cobaan hidup, maka para pengikutnya memperingati kematiannya dengan mengadakan upacara peringatan kematian St. Valentine (Hari Valentine) bernama “Lupercalia”.

Setiap upacara Lupercalia dimulai dengan mengorbankan beberapa ekor kambing dan seekor anjing yang dipimpin oleh para Luperci. Upacara tersebut dilakukan di dalam sebuah gua bernama Lupercal, berada di bukit Palatine, yang merupakan salah satu bukit di kota Roma.

Upacara Lupercalia ini terus berlangsung sampai pada masa pemerintahan Kaisar Constantin Agung (280 – 337 M). Kaisar Romawi ini adalah kaisar pertama pemeluk agama Nasrani. Pengaruh agama Nasrani semakin meluas di kerajaan Romawi dan Dewan gereja memegang peranan penting di bidang politik. Hari Valentine lalu dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang juga disebut “Supercalis”.

Pada tahun 494 M, Dewan Gereja di bawah pimpinan Paus Gelasius I merubah bentuk upacara Lupercalia menjadi perayaan purifikasi (pemurnian/pembersihan diri). Dan pada tahun 496 M, Paus Gelasius I mengubah tanggal perayaan purifikasi yang berasal dari upacara ritual lupercalia dari tanggal 15 Februari menjadi tanggal 14 Februari.

Sampai akhirnya pada abad ke-16, ‘upacara keagamaan’ tersebut berangsur-angsur hilang dan berubah menjadi ‘perayaan bukan keagamaan’ hingga seperti yang banyak orang kira saat ini. Yang identik dengan tukar kado, coklat, mencari jodoh, dan urusan kasih sayang lainnya.

Sedikit tambahan terkait persamaan kata Valentine. Pada abad pertengahan, dalam Bahasa Perancis Normandia, terdapat kata “Galentine” yang berarti “galant/cinta”. Persamaan bunyi Valentine dan Galentine menyebabkan orang berpikir bahwa para pemuda sebaiknya mencari pasangan hidupnya adalah pada tanggal 14 Februari. Hingga populerlah tanggal 14 Februari sebagai Hari Valentine (yang berasal dari perayaan kematian St. Valentine), yang mereka anggap sebagai Hari Kasih Sayang.

Itu tadi sejarah singkat mengenai Hari Valentine. Sekarang tentu sudah tahu. Kita sebagai umat Islam tidak boleh mengikuti dan menyerupai kebiasaan merayakan ‘Hari Valentine’ tanggal 14 Februari. Karena jelas itu bukan dari Islam. Dasarnya juga jelas, hadist yang sudah sangat popular sejagat raya :

Rasul saw bersabda : “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya.” (HR. Abu Daud no. 4031-Shahih)

Nah, tibalah bagian opini dari saya. Jika tadi sudah membahas sedikit sejarahnya, sekarang izinkan saya untuk berbagi opini terkait ‘Hari Valentine’ ini.

Tentu, kita semua merasakan, menjelang tanggal 14 Februari ada sesuatu yang ramai sekali dipublikasikan. Ya, banyak sekali desain poster / pamflet yang menyeru untuk tidak ikut merayakan ‘Hari Valentine’ bagi umat Islam yang dipublish di sosial media.

Yang sudah popular bagi kalangan anak rohis pasti adalah ajakan untuk menutup aurat dengan hastag #YukBerhijab, #YukTutupAurat, atau sebagai Hari Hijab Se-Dunia, dan sebagainya.

Bagus sekali hal ini. 2 jempol deh buat itu semua. Dan harapannya jangan hanya menjelang tanggal 14 Februari ya. Selama nafas ini berhembus dan selalu terhubung dengan, usahakan ajakan berhijab untuk tutup aurat itu terus ada. Karena berhijab bukan sekedar pilihan & mode, tapi sudah menjadi kewajiban bagi “tiap pemeluk Islam yang perempuan” (pahami baik-baik kalimat berkutip tadi, kalau saya menggunakan kata ‘muslimah’ biasanya condongnya selalu ke anak rohis. Inget ya diawal artikel ini, bukan untuk anak rohis saja).

Ingat yang wahai kita kaum hawa yang beriman semuanya (tidak sekedar pengurus rohis), anda adalah “perhiasan dunia”, sehingga layaknya sebuah perhiasan yang amat saaaaaannngaat berharga, tentu aurat anda harus ditutupi. Mau bukti perintah-Nya? Ini dalilnya :

"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat." (QS. Al-A'raf Ayat 26)

Masih kurang? Tambah lagi :

“Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumurnya (hijab) ke dadanya." (QS. An-Nur ayat 31)

Masih belum yakin? Satu lagi dari hadist :

“Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil balig) maka tidak ada yang layak terlihat kecuali ini,” sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan." (HR. Abu Daud dan Baihaqi)

Paham kan berhijab bukan sekedar pilihan? Tapi kewajiban? Oke lanjut ke jalur pembahasan (itu tadi sedikit selingan. Semoga 3 dalil tadi bisa meyakinkan bagi yang belum menutup aurat). #senyum

Lanjut. Selain ajakan untuk berhijab, kalau saya amati, beberapa desain poster ajakan untuk tidak merayakan ‘Hari Valentine’ ini juga ada yang menggunakan kata pengantin (dengan berbagai ‘ejaan’ yang dimirip-miripkan dengan Valentine) sebagai isi kontennya. Ada juga yang menyinggung menuju pernikahan dengan konten berpantun ‘akad bukan coklat’.

Hmmm…… (mulai berpikir sejenak), sekarang izinkan saya untuk berpendapat. Jika saya yang mendesain poster, 2 hal terakhir yang saya sebutkan tadi lebih baik tidak saya gunakan sebagai konten.

Memang secara sekilas tidak ada yang salah dengan pengantin & akad tadi. Tapi saya disini hanya ingin mengambil langkah aman. Karena jika menghubungkan dengan kedua hal tadi, ditakutkan para mad’u (objek/sasaran dakwah) awam, orang biasa, beranggapan bahwa menjelang tanggal 14 Februari mereka diajak untuk langsung saja menjadi pengantin atau menggelar akad daripada pacaran.

Sekali lagi memang tidak ada yang salah dengan mengajak untuk langsung melakukan akad saja jika sudah saling mencintai daripada pacaran. Namun tentu bukan karena ‘Hari Valentine’ saya disini menggembor-gemborkan untuk itu.

Kalau ajakan (pengantin dan akad) ini hanya dilakukan untuk menangkal ‘Hari Valentine’ setiap tanggal 14 Februari, lalu apa bedanya dengan Hari Kasih Sayang yang memang anggapan jahiliyahnya adalah mencari pasangan hidup? Kenapa harus dengan pengantin? Apakah karena katanya mirip dengan ‘Valentine’ (sehingga digunakan agar menjadi pantun yang indah karena memiliki sajak ab ab. Yang matkul bahasa Indonesia dapat A pasti paham)? Lalu apa bedanya dengan ‘Galentine’ yang dalam Bahasa Perancis Normandia tadi artinya cinta? Justru berdasarkan sejarah, karena persamaan bunyi ini kan orang mengindentikkan sebagai moment yang tepat untuk mencari cinta/jodoh?

Mungkin bagi yang sudah paham akan ‘Hari Valentine’ tidak masalah dengan konten tadi. Karena apapun yang terjadi sudah jelas tidak akan ikut-ikutan. Istilahnya sudah “kebal”.

Namun, bagaimana jika kalangan awam yang memandang ini? Sedangkan mereka belum “kebal”, belum cukup kuat ilmunya (tanpa mengurangi rasa hormat) untuk yakin bahwa ‘Hari Valentine’ bukan dari Islam? Karena kalau sudah saling cinta, ada kasih sayang, tentu dalam Islam baiknya memang langsung nikah saja bukan? Artinya telah menemukan pasangan hidup. Lalu apa bedanya dengan ‘Hari Valentine’ yang katanya moment tepat untuk mencari jodoh?

Ini alasan utama kenapa tidak akan menyertakan konten pengantin dan akad. Karena respon tiap orang itu beda-beda. Ok bagi yang ilmunya sudah banyak, tidak masalah. Namun bagi yang masih butuh ilmu & pencerahan, ajakan seperti ini meskipun niatnya adalah humor belaka, tentu beda responnya.

Bukan karena ‘Valentine’ kita memakai istilah pengantin. Karena istilah pengantin tidak ada hubungannya sama sekali dengan ‘Hari Valentine’. Kapanpun bagi yang sudah punya pilihan tepat untuk dijadikan jodoh, segeralah menggelar akad dan menjadi pengantin.

Intinya, bukan karena ‘Valentine’ terus ramai menggunakan istilah pengantin. Karena ditakutkan ada yang beranggapan memang benar tanggal 14 Februari kental dengan nuansa mencari jodoh. Ingat sifat syaitan yang cerdik mempermainkan manusia. Bisa jadi niat kita baik, cara yang kita lakukan pun juga tak salah. Namun hati-hati jika syaitan mempermainkan orang-orang yang kita ajak itu dengan mengarahkan anggapan mereka bahwa tanggal 14 Februari memang identik untuk mendapatkan jodoh (jadi pengantin-red). Buktinya, menjelang tanggal itu banyak yang mengajak lebih baik pengantin daripada ‘Valentine’ (sesuatu yang sepertinya indah didengar. Berpantun. Keren..!).

Itulah langkah antisipatif yang saya maksudkan. Bahasa kedokterannya “lebih baik mencegah daripada mengobati.” Dan ini adalah dalil yang mendasari kenapa saya menulis artikel ini :

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al-An’am ayat 112)

Ada pesan “perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu…”. Ya, jika membaca dari awal tentu paham maksudnya. Semua sudah dijelaskan diatas. Ingat syaitan itu cerdik. Mereka telah bersumpah untuk selalu menggoda manusia dengan berbagai cara. Bahkan yang dianggap baik pun mereka gunakan.

Ya, ini hanya pandangan pribadi. Semua hanya langkah antisipatif. Toh juga masih banyak konten lain yang bisa disertakan dalam menangkal ‘Hari Valentine’ ini. So, buat para desainer, jangan berhenti untuk terus mengajak teman yang sudah yakin akan jodohnya agar segera menjadi pengantin lewat karya visualnya. Siapa tahu mereka segera menikah karena melihat ajakan dari poster / pamflet yang kita buat. Sehingga pahala akan terus mengalir kepada pembuat poster (insya Allah). Dengan satu catatan, jangan hanya ramai menjelang tanggal 14 Februari.

Sebagai penutup, izinkan saya untuk memberikan istilah yang juga bernada pantun, namun menurut saya itu lebih mantap. Sebagaimana judul dari artikel ini dan foto ilustrasi yang saya gunakan (yang mungkin sekilas membuat pembaca bertanya-tanya), jika saya diminta membuat desain, saya akan menyertakan kalimat “Say No to Valentine..! Freedom for PALESTINE…!”. Itu lebih keren. Dan akan terus digalakkan hingga Palestina merdeka.

Sekian. Semoga bermanfaat.

Salam.

(AK22/@AjiiKurniawan)

Ini Lucunya Ramadhan di Indonesia


Ada yang lucu menurut saya saat menjelang Ramadhan tiba setiap tahunnya, di Indonesia ya ini (Nggak tahu kalau di Negara lain). Kalau kata orang bijak hendaknya kita mempersiapkan amalan dengan semaksimal mungkin dan menaikkan intensitas ibadah yaumiyah guna keperluan hidup kita di akhirat kelak, untuk yang satu ini beda. Apa itu?

Biasa, setiap menjelang bulan penuh berkah ini, tak sedikit para pedagang menaikkan harga barang jualannya (khususnya harga sembako & kebutuhan pokok seperti sayur mayur, rempah-rempah, dll) dengan berbagai alasan. Mulai dari kemauan para supplier-nya, biaya distribusi yang membesar karena faktor sekunder (misal BBM mahal), terpaksa, bahkan ada yang memang sengaja menaikkan harga untuk meraup keuntungan.

Apa itu salah? Enggak sih. Tapi lucu kedengarannya. Bagaimana tak lucu? Yang menjadikan hal tersebut lucu adalah jika menjelang Ramadhan para pelaku jual beli sangat inisiatif menaikkan harga barang komoditinya tapi tak dibarengi dengan menaikkan intensitas amalan ibadahnya. Itu sebabnya. Itu yang menjadikan Ramadhan di Indonesia ini khususnya menjadi “lucu” (menurut saya).

Tentu, artikel ini saya tulis karena sebelumnya saya melihat berita-berita yang di media massa. Bukan asal tebak. Dan memang, hal ini sudah menjadi kebiasaan yang turun temurun. Meski tak semua berlaku di daerah Indonesia. Tapi “selalu” dan “kebanyakan” seperti itu faktanya.

Menyinggung fenomena diatas tadi, sebenarnya saya berharap semoga yang menaikkan harga barang komoditi tak hanya sekedar menaikkan harga juga dibarengi dengan menaikkan intensitas ibadah. Supaya tidak terkesan bahwa bulan Ramadhan hanya dijadikan kesempatan untuk meraup keuntungan. Hanya berorientasi untuk mendapatkan uang yang banyak. Semoga tidak.

Karena jika ini dibiarkan terus-menerus, secara tak sadar kebiasaan ini akan menggiring manusia menjadi sosok yang materialistis. Yang hanya ada dipikiran manusia pokoknya bagaimana bisa mendapatkan uang yang banyak dan harta yang melimpah. Jangan sampai seperti itu.

Ini lucunya Ramadan di Indonesia, jika sudah jadi kebiasaan para pelaku pasar, silahkan harga kebutuhan pokok naik (syukur-syukur nggak usah naik), tapi dengan syarat amalan ibadah juga HARUS naik. Baiknya lagi, keuntungan lebih yang didapatkan pelaku jual beli karena kenaikan harga itu “dikembalikan” lagi kepada yang berhak. Karena sebagian dari harta yang kita dapatkan, jika itu sudah lebih dari cukup, sebagian dari harta tersebut merupakan hak bagi yang lebih membutuhkan, siapa itu? Fakir miskin. 

Ingat berkah bulan Ramadhan. Menaikkan harga aja semangat, meningkatkan ibadah+berbagi rizki kepada sesama juga harusnya semangat. Pahala besar menanti.

Sekian. Selamat berpuasa Ramadhan. Semoga bermanfaat. #JustMyOpinion

Usiikum wa nafsii (nasehat untuk sesama dan untuk diri saya sendiri)

Wassalamu'alaikum wr wb.

(AK21/@AjiiKurniawan)

Hitam-Putih Hari Kebangkitan Nasional

Selama ini kita mendengar bahwa setiap tanggal 20 Mei, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Adapun jika kita melihat sejarah yang selama ini kita ketahui di pelajaran SD/SMP bahwa latarbelakang ditetapkannya tanggal 20 Mei sebagai Harkitnas bertepatan dengan tanggal berdirinya Boedi Oetomo (BO).

Namun, tahukah kita, terdapat "Hitam-Putih" dibalik Harkitnas ini? Untuk mengetahui secara lebih mendalam, coba baca artikel berikut :

Tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional didasarkan atas peristiwa berdirinya Boedi Oetomo. Boedi Oetomo didirikan oleh para mahasiswa STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen) pada tanggal 20 Mei 1908. Organisasi ini diketuai oleh Dr. Soetomo. STOVIA didirikan pada 1902, sebagai perubahan dari Sekolah Dokter Djawa. lama studinya adalah tiga tahun. Siswa STOVIA berasal dari Sekolah Dasar Bumiputera-Inlandsche school yang lama sekolahnya lima tahun (Soemarsono Mestoko, 1986, Pendidikan di Indonesia dari Jaman ke Jaman).

Sistem pendidikan yang dianut dalam BO (Boedi Oetomo) sendiri adalah adopsi pendidikan Barat. BO sendiri sangat kooperatif dengan pemerintah Kolonial, hal ini karena para pemimpinya digaji oleh pemerintah Belanda.

Dalam rapat-rapat perkumpulan, Boedi Oetomo menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. “Tidak pernah sekalipun rapat Boedi Oetomo membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka.

BO tidak memiliki andil sedikit pun unuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935.

Sebuah majalah yang diterbitkan oleh kelompok Theosofi bernama Majalah Pewarta Theosofie Boeat Indonesia Tahun 1930 menyebut Candi Borobudur sebagai “Baitullah di Tanah Java”. Theosofi menganggap, antara ke Baitullah di Makkah dan Baitullah di Tanah Java sama saja nilainya. Majalah Bangoen yang dikelola oleh aktivis Theosofi, Siti Soemandari, juga pernah memuat pelecehan terhadap istri-istri Rasulullah dan syariat poligami. Selain itu, sebuah surat kabar bernama Djawi Hisworo yang dikelola oleh para penganut kebatinan Theosofi juga melakukan pelecehan terhadap pribadi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Pada 8 dan 11 Januari 1918, Djawi Hisworo yang dipimpin oleh Marthodarshono memuat artikel yang menyebut Nabi Muhammad sebagai pemabuk dan pemadat. 

“Suara Umum”, sebuah media massa milik Boedi Oetomo di bawah asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam Majalah “Al-Lisan” terdapat tulisan yang antara lain berbunyi, “Digul lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah Ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” (Al-Lisan nomor 24, 1938).

Tanggal 20 Mei Negara Republik Indonesia memperingatinya sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Namun sebenarnya penentuan tanggal ini meninggalkan permasalahan yang besar dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam menegakkan kemerdekaannya. Tidak banyak diungkap secara lebih lengkap  dalam buku-buku pendidikan sejarah di sekolah bahwa sebenarnya penentuan tanggal 20 Mei yang didasarkan atas peristiwa berdirinya Boedi Oetomo meninggalkan banyak masalah, khususnya bagi umat Islam di Indonesia. Permasalahan itu antara lain :

Boedi Oetomo adalah organisasi yang bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan organisasi yang bersifat kebangsaan. Tujuan Boedi Oetomo didirikan adalah  untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis. Sistem pendidikan yang dianut dalam BO sendiri adalah adopsi pendidikan Barat. BO sendiri sangat kooperatif dengan pemerintah Kolonial, hal ini karena para pemimpinya digaji oleh pemerintah Belanda.

KH Firdaus AN (Mantan Majelis Syuro Syarikat Islam) mengungkapkan “…Boedi Oetomo adalah organsasi sempit, lokal dan etnis, dimana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya”. Selain itu dalam rapat-rapat perkumpulan, Boedi Oetomo menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. “Tidak pernah sekalipun rapat Boedi Oetomo membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki nasib golongannya sendiri”. KH Firdaus AN juga mengatakan “BO tidak memiliki andil sedikit pun unuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935.”

Asvi Marwan Adam, sejarawan LIPI menilai penetapan tanggal lahir BO sebagai Hari Kebangkitan Nasional tidak layak. Hal ini karena BO tidak bisa disebut sebagai pelopor kebangkitan nasional. Menurutnya, BO bersifat kedaerahan sempit. “Hanya meliputi Jawa dan Madura saja”. Boedi Oetomo yang oleh banyak orang dipercaya sebagai simbol kebangkitan nasional, pada dasarnya merupakan lembaga yang mengutamakan kebudayaan dan pendidikan, dan jarang memainkan peran politik yang aktif. Padahal politik adalah pilar utama sebuah kebangkitan.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh peneliti Robert van Niels yang mengatakan, “Tanggal berdirinya Budi Utomo sering disebut sebagai Hari Pergerakan Nasional atau Kebangkitan Nasional. Keduanya keliru, karena Budi Utomo hanya memajukan satu kelompok saja. Sedangkan kebangkitan Indonesia sudah dari dulu terjadi…Orang-orang Budi Utomo sangat erat dengan cara berpikir barat. Bagi dunia luar, organisasi Budi Utomo menunjukkan wajah barat.”

Para tokoh BO adalah pengikut Theosofi, anggota Freemasonry dan Melecehkan Islam (?)

Penggagas organisasi BO, dr Wahidin Soediro Hoesodo adalah anggota Theosofi, sebuah perkumpulan kebatinan yang berlandaskan pada tradisi Kabbalah Yahudi yang didirikan oleh Helena Petrovna Blavatsky. Theosofi-Freemason tidak mempercayai adanya ritual doa kepada Sang Maha Pencipta. Mereka juga tak mempercayai adanya surga dan neraka. Anggota Theosofi yang mengaku muslim, membuat penafsiran ajaran Islam dengan pemahaman yang menyimpang. Theosofi tidak percaya dengan doa, dan tidak melakukan doa. Theosofi mempercayai “doa kemauan” yang ditujukan kepada Bapak di sorga dalam artian esoteris, yaitu Tuhan yang tidak ada sangkut pautnya dengan bayangan manusia, atau Tuhan yang menjadi intisari ilahiah yang dimiliki semua agama. Berdoa, kata Blavatsky mengandung dua unsur negatif: Pertama, membunuh sifat percaya diri manusia yang ada dalam diri manusia sendiri. Kedua, mengembangkan sifat mementingkan diri sendiri. Sebuah majalah yang diterbitkan oleh kelompok Theosofi bernama Majalah Pewarta Theosofie Boeat Indonesia Tahun 1930 menyebut Candi Borobudur sebagai “Baitullah di Tanah Java”. Theosofi menganggap, antara ke Baitullah di Makkah dan Baitullah di Tanah Java sama saja nilainya. Majalah Bangoenyang dikelola oleh aktivis Theosofi, Siti Soemandari, juga pernah memuat pelecehan terhadap istri-istri Rasulullah dan syariat poligami. Selain itu, sebuah surat kabar bernama Djawi Hisworo yang dikelola oleh para penganut kebatinan Theosofi juga melakukan pelecehan terhadap pribadi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Pada 8 dan 11 Januari 1918, Djawi Hisworo yang dipimpin oleh Marthodarshono memuat artikel yang menyebut Nabi Muhammad sebagai pemabuk dan pemadat.

Tokoh utama BO adalah Dokter Soetomo.  Dalam buku “Kenang-kenangan Dokter Soetomo” yang dihimpun oleh Paul W van der Veur, disebutkan bahwa Soetomo pernah mengatakan bahwa pemancaran zat Tuhan, “Itulah sebenarnya keyakinan saya. Itulah keyakinan yang mengalir bersama darah dalam segala urat tubuh saya. Sungguh, sesuai-sesuai benar.” (hal. 30). Soetomo juga mengatakan, “Aku dan Dia satu dalam hakikat, yakni penjelmaan Tuhan. Aku penjelmaan Tuhan yang sadar…” (hal.31). Ini menunjukkan Dokter Soetomo seorang penganut  paham sesat “Manunggaling Kawula Gusti” buatan Syech Siti Jenar. Dokter Soetomo juga seorang penganut Theosofi, sebagaimana pengikut aliran theosofi lainnya, maka dia tidak melakukan shalat lima waktu selayaknya umat Islam lainnya, melainkan melakukan semedi, meditasi, yoga, dan sebagainya. “Soetomo lebih mementingkan “semedi” untuk mendapat ketenangan hidup, ketimbang sholat. Dengan rasa bangga, saat berpidato dalam Kongres Partai Indonesia Raya (Parindra) pada 1937, Soetomo mengatakan,”Kita harus mengambil contoh dari bangsa-bangsa Jahudi, jang menghidupkan kembali bahasa Ibrani. Sedang bangsa Turki dan Tsjech kembali menghormati bangsanya sendiri.”

Tokoh Boedi Oetomo lainnya, dr Tjipto Mangoenkoesomo, juga dengan sinis meminta agar bangsa ini mewaspadai bahaya “Pan-Islamisme”, yaitu bahaya persatuan Islam yang membentang di berbagai belahan dunia, dengan sistem dan pemerintahan Islam di bawah khilafah Islamiyah. Pada 1928, Tjipto Mangoenkoesoemo menulis surat kepada Soekarno yang isinya mengingatkan kaum muda untuk berhati-hati akan bahaya Pan-Islamisme yang menjadi agenda tersembunyi Haji Agus Salim dan HOS Tjokroaminoto.

Goenawan Mangoenkoesoemo, juga melontarkan pernyataan yang melecehkan Islam. Adik dari dr. Tjipto Mangoekoesomo ini mengatakan, “Dalam banyak hal, agama Islam bahkan kurang akrab dan kurang ramah hingga sering nampak bermusuhan dengan tabiat kebiasaan kita. Pertama-tama ini terbukti dari larangan untuk menyalin Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Rakyat Jawa biasa sekali mungkin memandang itu biasa. Tetapi seorang nasionalis yang berpikir, merasakan hal itu sebagai hinaan yang sangat rendah.

Dalam buku yang sama, masih dengan nada melecehkan, Goenawan menulis, “Jika kita berlutut dan bersembahyang, maka bahasa yang boleh dipakai adalah bahasanya bangsa Arab…” ”Bagaimanapun tinggi nilai kebudayaan Islam, ternyata kebudayaan itu tidak mampu menembus hati rakyat. Bapak penghulu boleh saja supaya kita mengucap syahadat: “Hanya ada satu Allah dan Muhammad-lah Nabi-Nya”, tetapi dia tidak akan bisa berbuat apa-apa bila cara hidup kita, jalan pikiran kita, masih tetap seperti sewaktu kekuasaan Majapahit dihancurkan secara kasar oleh Demak.”

Salah satu pimpinan BO yaitu Dr. Radjiman Wediodiningrat dengan bangga mengatakan, bakat dan kemampuan orang Jawa yang ada pada para aktivis Boedi Oetomo lebih unggul ketimbang ajaran Islam yang dianut oleh para aktivis Sarekat Islam. Pada kongres Boedi Oetomo tahun 1917, ketika umat Islam yang aktif di Boedi Oetomo meminta agar organisasi ini memperhatikan aspirasi umat Islam, Radjiman dengan tegas menolaknya. Radjiman mengatakan, “Sama sekali tidak bisa dipastikan bahwa orang Jawa di Jawa Tengah sungguh-sungguh dan sepenuhnya menganut agama Islam.” Radjiman yang merupakan ketua BO 1914-1915 adalah anggota Freemasonry dan perhimpunan Theosofi. Beberapa pimpinan BO adalah anggota Freemasonry antara lain : Raden T. Tirtokusumo (Ketua BO pertama), Bupati Karanganyar kemudian  Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam (Ketua BO yang kedua).

Tokoh yang lain bernama Noto Soeroto, salah seorang tokoh Boedi Oetomo, di dalam satu pidatonya tentang Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereninging berkata: “Agama islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya…sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan.”

Ada fakta lain yang lebih mencengangkan, dalam sebuah artikel di “Suara Umum”, sebuah media massa milik Boedi Oetomo dibawah asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam Majalah “Al-Lisan” terdapat tulisan yang antara lain berbunyi,“Digul lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” (Al-Lisan nomor 24, 1938).

Kenapa bukan tanggal 16 Oktober sebagai Hari Kebangkitan Nasional?

Tanggal 16 Oktober 1905 adalah tanggal berdirinya Sarekat Islam. SI merupakan kawah candradimuka berbagai pemikir Indonesia kelas dunia. Sebutlah H.O.S Tjokroaminoto, Agus Salim, Soekarno sampai dengan Tan Malaka, Muso dan Semaun. Tokoh-tokoh ini memiliki andil besar dalam kemerdekaan bangsa Indonesia. SI tidak membatasi keanggotaannya hanya untuk masyarakat Jawa dan Madura saja. Hal ini terlihat pada susunan para pemimpinnya, Haji Samanhudi dan HOS Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumater Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku. Tujuan SI adalah membangun persaudaraan, persahabatan dan tolong-menolong di antara muslim dan mengembangkan perekonomian rakyat. Keanggotaan SI terbuka untuk semua lapisan masyarakat muslim. Walaupun organisasi ini berlabel agama, dimana selain kaum muslimin tidak boleh menjadi anggota, bukan berarti SI tidak peka terhadap perbedaan. Alasan menggunakan label Islam, karena hanya itulah harta yang tersisa, selebihnya telah dirampas Belanda. SI berhasil membuka 181 cabang di seluruh Indonesia. Jumlah anggota kurang lebih 700.000 orang. Tahun 1919 melonjak drastis hingga mencapai 2 juta orang. Sebuah angka yang fantastis kala itu. Jika dibandingkan dengan BO pada masa keemasannya saja hanya beranggotan tak lebih dari 10.000 orang. Sejarawan Fred R. von der Mehden (1957: 34) dengan tegas mengatakan bahwa SI-lah organisasi politik nasional pertama di Indonesia.

Pada Kongres Mubaligh Islam Indonesia di Medan (1956), umat Islam mengusulkan kepada pemerintah untuk menjadikan tanggal berdirinya SDI sebagai Harkitnas berdasarkan karakter dan arah perjuangan SDI. Namun sangat disayangkan, seruan ini tidak didengar pemerintah, bahkan sampai saat ini. Pelurusan sejarah mengenai kebangkitan Indonesia nampaknya perlu dilakukan, sangat disayangkan kalau peran umat terbesar di negeri ini dihilangkan begitu saja. (Dikumpulkan dari berbagai sumber).

Dari saya sendiri, sebenarnya informasi ini tidak hanya saya dapatkan pada saat saya hendak menulis artikel ini, melainkan sudah mengetahui informasi ditahun-tahun sebelumnya. Kenapa saya men-share artikel ini juga bukan untuk membuat saudara-saudara pusing ke sana-sini, melainkan hanya ingin berbagi pengetahuan tentang "sejarah" yang benar. Toh apapun moment yang seperti Harkitnas ini mengimplementasikan supaya bangsa ini tergerak untuk bersemangat dalam memajukan NKRI, tidak hanya dilakukan pada bulan Mei, (bulan yang katanya paling banyak libur nasionalnya). Setiap saat pun sebenarnya bisa. Begitu pula untuk moment-moment lainnya seperti saling memaafkan yang selalu identik saat Hari Raya Idul Fitri, sebenarnya juga bisa kita menjadikan setiap hari yang kita lalui untuk saling memaafkan, dan sebagainya.

(AK21/@AjiiKurniawan)

Pendidikan Butuh Perhatian


Setiap tanggal 2 Mei selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional atau biasa disingkat Hardiknas? Moment yang diperingati setiap tahun itu memang selalu menjadi refleksi mengenai kondisi pendidikan di Indonesia.

Sebagai potret pendidikan yang terjadi di negeri ini, mungkin dari kita masih segar dalam ingatan tentang kasus pelecehan di TK JIS (Jakarta Internasional School). Wajar saja jika pada peringatan Hardiknas tahun ini, ada pihak yang berdemo agar JIS ditutup. Itu yang saya dengar di salah satu berita TV sembari saya makan siang tanggal 2 Mei 2014.

Tak hanya di TK, ditingkat senior yang lebih tinggi, STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran) juga terdapat kasus yang kurang mengenakkan, yakni meninggalnya salah satu mahasiswa akibat kekerasan dari seniornya. Meski terjadi diluar kampus, namun tetap saja hal ini sangat disayangkan. Mengingat STIP berada langsung dibawah komando Dinas Perhubungan milik pemerintah pusat.

Ini belum lagi nasib bangunan sekolah dan guru di belahan Indonesia. Seperti salah satu kabar dari TV juga yang saya dapatkan usai makan siang tepat sebelum menulis artikel ini, ada guru yang hanya digaji Rp100 ribu per bulan oleh sekolahnya. Yang lebih membuat iba lagi, hal itu sudah berlangsung selama 10 tahun.
Dalam benak ini terpikirkan, tabah sekali itu yang rela mengajar selama 10 tahun namun gajinya hanya Rp100 ribu per bulan.

Itu segelintir potret pendidikan yang SELALU DIBAHAS tiap tahun. Semoga saja pemerintah bisa lebih memberikan perhatian untuk dunia pendidikan kita, untuk pahlawan tanpa tanda jasa kita.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2014. Untuk tahun ini, dan seterusnya.

Pendidikan butuh perhatian.

(AK21/@AjiiKurniawan)

Kesejahteraan Buruh Dalam Pandangan Islam


Tiap tahun, tiap awal Mei, selalu identik dengan Hari Buruh Internasional. Di Indonesia, permasalahan yang selalu terjadi adalah tentang pemberian honor dan permasalahan sistemik yang menimpa para buruh terus terjadi tiap tahunnya, bahkan cenderung bertambah permasalahannya. Tahun 2013 lalu, para buruh di Indonesia setidaknya mengajukan 9 tuntutan kepada pemerintah RI, yaitu:

1. Penghapusan sistem outsourcing (tenaga alih daya),
2. Revisi Kebutuhan Hidup Layak (KHL) menjadi 80 poin,
3. Penolakan penangguhan kenaikan Upah Minimum Regional (UMR),
4. Penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM),
5. Penghentian pemberangusan serikat pekerja,
6. Penolakan potongan gaji untuk iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS),
7. Pengadaan rumah layak huni untuk buruh,
8. Pengadaan beasiswa untuk buruh,
9. Penetapan 1 Mei menjadi hari libur nasional (sudah ditetapkan)

Perjuangan para buruh untuk memperoleh keadilan honor atas hak honor yang sesuai setelah menjalankan kewajibannya bekerja, juga sesuai dengan nilai Pancasila ke-3 yang berbunyi “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Oleh karena itu, untuk memberikan solusi dari tiap permasalahan sistem honor yang layak diterima para buruh sebagai hak yang harus diterimanya. Mari kita kaji dari sudut pandang islam mengatur prinsip-prinsip pemberian honor terhadap buruh/pekerja. Islam menempatkan kaum buruh sedemikian tinggi, sebagaimana yang diriwayatkan dalam suatu hadist nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan muslim:

Amsyu bin Maqruri Bin Suwaid, berkata : “Kami melewati Abu Dzar di Rabadzah dan ia mengenakan Burdun (baju rangkap) begitu juga budaknya. Abu Dzar ra berkata :“ pernah terjadi kata-kata kasar antara saya dan saudara saya yang Ibunya bukan bangsa Arab (Sahaya), saya hinakan ia dari segi Ibunya. Lalu dia mengadu kepada Rasulullah SAW. Maka setelah saya berjumpa Rasulullah SAW, Beliau berkata : “Kamu ini orang yang memiliki sifat Jahiliyah, hai Abu Dzarr ”. Kata Saya: Barang siapa yang memaki-maki orang tentu bapak dan ibunya akan dimaki-maki pula. Berkata Beliau : “Sesungguhnya kamu ini orang yang memiliki sifat jahiliyah, sahaya-sahaya itu adalah saudara kamu pula yang kebetulan di bawah tangan kamu. Maka berilah makan seperti kamu makan, berilah pakaian seperti kamu pakai, dan janganlah mereka dipaksa bekerja lebih dari tenaga mereka, jika akan dipaksakan juga mereka harus kamu bantu”

Dari hadist tersebut terkandung ajakan untuk memperlakukan para pekerja/buruh sebagaimana memperlakukan diri kita sendiri. Selain itu terdapat juga ajakan untuk lemah lembut dan tidak merasa mempunyai strata sosial dibandingkan para buruh. Dengan demikian gap yang ada antara pimpinan/bos dengan buruh dapat terminimalisir. Sehingga berlakulah ayat Al-Ahqaf ayat 19 yang berarti:

“Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan.” (QS. Al-Ahqaf ayat 19)

Selanjutnya apabila sudah terjadi keharmonisan antara buruh dan pimpinannya, dibutuhkan juga peran serta pemerintah untuk membuat regulasi yang mengatur sistem honor di setiap perusahaan yang ada dalam suatu negara. Setidaknya ada empat jenis tindakan yang dapat dilakukan pemerintah dalam mengatur kehidupan perekonomian industri yang berkaitan dengan para buruh dan pimpinannya, yaitu:

1. Membuat regulasi dan memastikan kesesuaiannya dengan penerapan di industri melalui edukasi dan sosialisasi, disertai dengan pemberian hukuman apabila ada yang melanggar regulasi yang telah ditetapkan.
2. Pemeliharaan kondisi investasi yang aman dan sehat serta berfungsi dengan baik.
3. Memodifikasi alokasi sumber daya dan pendistribusian pendapatan.
4. Mengambil langkah-langkah strategis dalam bidang produksi dan pembentukan modal guna mempercepat pertumbuhan.

Dengan demikian konsep pensejahteraan buruh dalam pandangan Islam bertujuan guna memenuhi kebutuhan dasar (makanan, pakaian, dan perumahan) dari setiap individu tanpa adanya pembedaan untuk mendapatkan sumber daya yang tersedia secara bijaksana. Karena pemenuhan kebutuhan dasar membuat para buruh akan mampu untuk melakukan kegiatan produksi secara maksimal dan bekerja dengan optimal. 

Sehingga para pimpinan/bos juga dapat meraih keuntungan lebih di perusahaannya, dan juga pemerintah akan merasakan kebermanfaatannya dengan kemajuan perekonomian suatu negara. Sehingga benarlah pendapat Umar Chapra salah seorang ekonomi Islamic Development Bank (IDB), bahwa tujuan Syariah islam untuk merealisasikan kesejahteraan manusia tidak hanya terdapat pada kesejahteraan secara ekonomi, tetapi juga persaudaraan dan keadilan sosio-ekonomi, kedamaian dan kebahagiaan jiwa, serta keharmonisan keluarga sosial.

Buruh Beraksi, Pengusaha Menepati Janji, Pemerintah Membuat Regulasi.

AK21/@AjiiKurniawan

Sisi Lain Istilah ''May Day''


Mengapa tanggal 1 Mei yang dikenal dengan "May Day" itu menjadi hari buruh internasional? Menurut berbagai catatan, penetapan Hari Buruh pada 1 Mei terkait dengan peristiwa Haymarket yaitu unjuk rasa besar-besaran pekerja di Amerika Serikat, menuntut 8 jam kerja per hari.

Aktor di balik gerakan tersebut adalah Federation of Organized Trades and Labor Union. Tuntutan pengurangan jam kerja itu juga sudah menjadi gerakan dunia antara lain dalam Kongres Buruh Internasional pertama di Jenewa, Swiss.

Pada 1 Mei 1886, ratusan ribu pekerja turun ke jalan untuk mendesak pemberlakuan 8 jam kerja. Pada waktu itu, waktu kerja pekerja bisa sampai dengan 20 jam per hari.

Puncak dari aksi buruh terjadi setelah unjuk rasa berjalan 4 hari. Pada 4 Mei 1886 itulah terjadi kekerasan dari aparat keamanan. Ratusan peserta unjuk rasa tewas. Pimpinan aksi pun ditangkapi polisi.

Sisi lain dari istilah "May Day"

Namun ada sisi lain dari istilah peringatan "May Day" itu sendiri, menurut banyak catatan istilah tersebut lebih cenderung merupakan perayaan kaum Paganis (penyembah berhala) di banyak negara-negara Eropa.

May Day sendiri telah menjadi hari libur musim panas tradisional di banyak budaya pagan Eropa sebelum Kristen berkembang. Sementara 1 Februari adalah hari pertama musim semi, maka 1 Mei adalah hari pertama musim panas.

Dalam Katolik Roma tradisi 1 Mei diamati sebagai bulan Maria, dan dalam lingkaran peringatan May Day biasanya dijadikan perayaan untuk Santa Perawan Maria.

Awal perayaan May Day sendiri muncul di era sebelum berkembangnya agama Kristen, dengan adanya festival Flora, untuk memperingati dewi bunga Romawi, serta perayaan malam Walpurgis di banyak negara-negara bagian Jerman.

Namun perayaan pagan tersebut mulai ditinggalkan setelah Eropa mulai dimasuki ajaran Kristen. Akan tetapi bentuk awal dari May Day yang dikaitkan dengan dewi bunga Romawi terus berlanjut dengan masih berlangsungnya tarian bunga yang direkonstruksi oleh Kelompok-kelompok neopagan.

Di Irlandia May Day telah dirayakan sejak zaman pagan sebagai pesta Bealtaine dan beberapa waktu kemudian hari itu diperingati sebagai hari Maria. Secara tradisional, api unggun dinyalakan untuk menandai datangnya musim panas dan untuk menghalau malam panjang musim dingin.

May Day di Inggris sudah ada sejak jaman pagan Anglo-Saxon, namun di kemudian hari menjadi hari perayaan tradisional selama berabad-abad. May Day di Inggris terkait perayaan musim semi kesuburan dan pesta pora yang meriah di desa-desa dan kota. Sejak reformasi Kalender Katolik, 1 Mei dijadikan Hari peringatan St Yusuf Pekerja, seorang santo pelindung para pekerja.

Di Hawaii , May Day juga dikenal sebagai hari Lei, dan biasanya disisihkan sebagai hari untuk merayakan budaya pulau Hawaii dalam budaya umum dan asli pada khususnya. Perayaan itu diciptakan oleh seorang penyair dan kolumnis surat kabar lokal pada tahun 1920, sejak saat itu diadopsi oleh pemerintah negara bagian dan lokal serta warga menjadi perayaan musim semi secara umum.

Secara umum hampir di seluruh negara-negara Eropa yang merayakan "May Day", peringatan, perayaan serta pesta pada tanggal 1 Mei tidak lepas dari adanya unsur bunga, karena memang aslinya May Day itu sendiri untuk mengenang Dewi Flora yang merupakan dewi bunga kaum Romawi kuno.

Nah, sekarang sudah tahu kan sejarah penamaan istilah "May Day" itu seperti apa. Pembahasan ini hanya mengulas tentang istilah "May Day" yang akrab ditelinga, namun jarang diketahui maknanya. Kalau berbicara tentang kesejahteraan, itu kan bisa dibahas kapan saja, tak hanya tanggal 1 Mei. Semoga bermanfaat...

(AK21/Dari berbagai sumber dengan sedikit penyesuaian/www.globalmuslim.web.id)